Yang aku takutkan adalah aku lebih sibuk mengoreksi, lalu lalai dalam memperbaiki.
Sebab, hijrah itu kan harus progress.
The Stonewall Inn
One Nice Bug Per Day

roma★

pixel skylines

bliss lane
Lint Roller? I Barely Know Her
Claire Keane
🪼
No title available
TMBGareOK. The Official They Might Be Giants tumblr
Show & Tell

Jimmy Eat World
𓃗

Origami Around
Fieri Frames
EXPECTATIONS
No title available

shark vs the universe

if i look back, i am lost
No title available
seen from Türkiye
seen from Türkiye

seen from Türkiye

seen from United States

seen from United States
seen from Indonesia

seen from Brazil

seen from United States
seen from Spain
seen from United States

seen from Peru
seen from Malaysia
seen from Togo

seen from United States
seen from Türkiye
seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
@satujanuary-blog
Yang aku takutkan adalah aku lebih sibuk mengoreksi, lalu lalai dalam memperbaiki.
Sebab, hijrah itu kan harus progress.
Pengakuan Seorang Penyair (Sedikit Cerita Saja) Jadi plagiat sudah pernah, meski konteks plagiat itu tidak dengan secara memakan bulat-bulat tulisan orang lain, melainkan mengambil buah pikirannya/sudut pandang objeknya, kemudian menggubah/mengolah dg bahasa lain. Yang mana itu adalah renungan utama dalam penciptaan sebuah puisi. “Harga yg pling mahal dalam puisi: buah pikiran.” Dan itu terjadi ketika awal-awal menulis. Tapi, seorang kawan penyair berkata: “Memang begitulah cara belajar sastra.” Sampai akhirnya penegasan kalimat seorang kawan itu tertepuk dalam sebuah seminar menulis Seno Gumira Ajidarma: “Plagiat itu tidak apa-apa, selagi tujuannya adalah untuk belajar.” Begitu pernyataannya. Kemudian, setelah semakin memasuki lingkup sastra, dengan berbagai teorinya, muncul sebuah pernyataan tentang: “makna kebebasan dalam seni dengan salah satu pointnya: setiap apapun bebas terinspirasi dari apapun.” Jika diuraikan disini akan sangat panjang, namun benang merahnya adalah “Setiap manusia tidak akan bisa menghindari dirinya dari pengaruh apapun, termasuk juga dari manusia.” Kemaren, pada postingan seorang penyair nasional, muncul sebuah kutipan yg serupa dengan tajuk: “Turn Back Thank”. Dalam kata lain, makna ucapan penyair tersebut bukanlah mempermasalahkan tentang laku plagiat seseorang dengan mengambil perca-perca puisi seorang lainnya, kemudian menjahitnya dengan cara baru (Mengambil buah pikiran lalu mengolahnya dengan bahasa baru). Tapi postingan penyair itu justru lebih luas konteksnya, ia tidak membicarakan penulis pemula, tapi penyair yg sudah berlaga di arena sasindo. Ia tidak mengatakan plagiat akan hal itu, melainkan tentang: “Setidaknya kita mengembalikan kata terimakasih pada orang-orang yg pernah menjadi inspirasi kita (kata terimakasih yg sudah hilang, kehilangan maknanya).” Dari sana kita dpat menarik kesimpulan, dalam konteks tertentu, plagiat adalah hal sah, bahkan dianjurkan. Pada akhirnya, kata-kata plagiat itu bukanlah menjadi bahasan penting, terutama, bagi orang yang ingin memulai proses kreatifnya belajar sastra. “Sastrawan harus melupakan apa yg sudah tuntas ia tuliskan, untuk kemudian menuju karya selanjutnya (buah pikiran): “kewajiban sastrawan.” Tapi, karena tajuk ‘Turn Back Thank’ memang adalah hal yg belum pernah tersampaikan dan terpikirkan oleh saya, tentang pengalaman dulu, meskipun dalam untuk berproses mula tidak dipermasalahkan tentang telah memplagiat objek seseorang. Saya akan tetap dan selalu merasa ‘nista’ jika tak pernah mengucapkan: “Terimakasih banyak, Penyair-Penyair yang Sudah Menjadi Inspirasiku.” Meski, cuma dalam tulisan kecil tak berguna ini. *Tak ada seniman yang benar-benar bisa berkarya sendiri. Dengan suatu dan cara lain, ia akan berhubungan dengan seniman lain. Dengan karya lain. Dan, tentu saja dengan orang lain yang tak ada hubungan sama sekali dengan kesenian. Tapi, ketidakbisaan untuk berkarya secara mandiri seperti itu malah menjadi suatu fenomena yang menjemukan. Akhir-akhir ini ada kecendrungan dari kita untuk menjadi epigon dari karya-karya besar. Menjadi epigon dalam pengertian: sadar tapi pura-pura tak sadar. Ada suatu keangkuhan ketika karya kita ‘mirip’ dengan karya seniman besar, seakan tiba-tiba kita menjadi besar juga karenanya. Maka, berlombalah orang-orang mendaur ulang karya-karya pengarang hebat dengan versinya sendiri. Bahkan, dengan versi lain, banyak yang mendaur ulang karya teman-temannya sendiri. Namun, tentu, tak banyak yang mengakui bahwa karyanya adalah versi sederhana, versi rumit, versi indonesia atau versi lokal dari suatu karya yang diagung-agungkan, atau yang diam-diam dipujinya dalam hati, kecuali, bila pengakuannya itu bisa menambah ‘modal simbolik’ bagi dirinya dan penjualan-penjualan karya-karyanya. Karya seperti itu tentu tak mudah disebut plagiat atau bukan perkara plagiat. Tetapi.. tetapi kini bukan waktu yang cukup lapang untuk bersoal fenomena itu. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kejujuran untuk berterimakasih kepada apapun mestinya menjadi bagian utama dari proses kita berkarya. Tentu saja terimakasih itu tidak harus lantang, harfiah, ataupun diulang-ulang sepanjang masa. Yang kita butuhkan adalah sejenis terimakasih yang menyadarkan. Pentingnya terimakasih bukan dalam artian bahwa sesuatu/seseorang yang sudah menjadi bagian penting dari proses kita berkarya ingin disebut-sebut. Bukan. Tidak itu persoalannya. Terimakasih adalah manifestasi bahwa semua kita hidup di dunia selalu membutuhkan orang lain. Maka, jujurlah semenjak dalam pikiran. Letakkan terimakasih pada tempatnya*
(via tukangkantau)
Karena hati yang patah, selalu terjadi pada dia yang harapnya ada di bahu yang salah.
Pada akhirnya, yang berhadap kepada selain-Nya hanya berujung kecewa.
Bahagia Itu Sederhana
Seperti menyukai kengawuran dan bermain-main. Tidak semua yang serius itu baik. Terlalu banyak bermain pun tidak baik. Ada baiknya begini, bermain-mainlah dengan serius. Aku suka tidak tega melihat banyak orang-orang di sekitarku yang lupa caranya bermain-main. Padahal sederhana saja, tinggalkanlah sepatu mahalmu lalu berjalan dengan kaki telanjang. Sore itu aku duduk dengan mendung, lalu berpikir kalau hujan turun aku ingin berlari-lari telanjang kaki, meminum hujan sampai habis, lupa kalau saat itu aku sedang bindeng dan sedikit masuk angin. Hanya ingin merasakan air hujan merembes ke baju tipisku. Tersenyum lebar saat hujan kena pelipis. Bermain dan bahagia. Aku ingin menjalaninya dengan serius. Ini hanya tekad, bulat, dan kokoh. Bermain dengan tidak tergesa-gesah, harus buru-buru pulang. Aku ingin melakukannya lama-lama. Menikmati setiap senyum, utuh, pelan, supaya aku bahagia. Bahagia kenapa? bahagia kalau kesal ini sudah reda dan hati berubah menjadi manis. Kamu boleh, siapapun boleh mencicipinya, karena memang bahagia itu begitu terbuka. Tidak perlu sembunyi. Sudahlah, bahagia dan menikmatinya itu mungkin adalah hal paling sepele yang saat ini sering terlupa. Masihkah kamu melihat anak-anak bermain petasan lama-lama, tapi sekarang belum musim lebaran. Memperhatikan semut di dekat jempolmu. Menghirup wangi rumput basah dalam-dalam. Tertawa kencang-kencang sampai keluar air mata. Membuka jendela lebar-lebar. Membaca sampai pagi. Mengintip gerakan ikan di aquarium. Flirting kembali.. lalu jatuh cinta kembali. Ketika melakukannya, aku tak perlu uang banyak. Aku cukup meminta kepada Tuhan. Pemberi kebahagiaan kekal, bahwa aku ingin bahagia dari hal-hal sederhana. Tidak sulit, bukan? Lalu melihat ia tertawa. Begitu manis. Bikin aku bahagia sampai ke sum-sum tulang belakang.
Kita boleh saja kehilangan semuanya. Tapi berjanjilah bahwa harapan dan impian akan tetap ada--akan selalu kita jaga.
You Are The One
Jika kau merasa buntu pada satu jalan, ingatlah bahwa Tuhanmu punya sejuta jalan lain yang mengantarkanmu sampai di tujuan.
Dan untuk temanku, semoga kau tak pernah salah paham untuk mengenal bagaimana aku.
Hadiah terbaik untuk orang tua bukanlah mobil, rumah atau permata. Tapi ialah dengan menjadi anak yang taat pada agama.
Kadang kita harus menjerit kesakitan demi melahirkan kebahagiaan yang tak terbeli. Tak percaya? Silakan tanya ibumu, seperti apa rasanya melahirkanmu.
Belajarlah menerima bahwa dunia tidak akan baik-baik saja.
Bagi seseorang yang mengistimewakanmu, kabarmu adalah hal yang selalu ia tunggu.
Sesekali aku ingin tinggal di tubuhmu. Hanya sekadar ingin tahu, di mana kamu letakan seorang aku.
Di dalam atau di luar pikiran, kamu selalu cukup hangat untuk tetap kuingat.
Satu January
Sebab cara terbaikku untuk terus mencintaimu, ialah dengan semakin mencintai Tuhanku.
Satu January
Saat kamu terjatuh, tersenyumlah. Karena orang yang pernah jatuh adalah orang yang sedang berjalan menuju keberhasilan.
Satu January
Satu hal penting dalam cinta, jangan berikan ruang di hatimu pada seseorang yang bahkan tak berusaha untuk tinggal di dalamnya.
Satu January