27.09
Kangmas baru saja selesai nyerucus tentang preanger sebatas yang ia tahu. Adiknya yang kalem itu balik nggedebus ikut bicara masa lalu. Katanya Sultan Agung menanggalkan poros maritimnya ke agraris tok gara-gara kalah bar-bar di lautan. Sebelumnya mataram bisa menunggangi kedua-duanya, tapi sejak geger VOC mataram pilih satu saja. "Non pribumi dari barat jauh itu tiap hari diteror mati sampai hilang adat-istiadatnya. Mereka bersandar disini, main sikut kanan kiri biar bisa menguasai." Masnya manggut-manggut wagu. Sebagai anak muda yg selalu kekinian, dia punya hafalan tren dikepalanya. Mana yang lagi tren saat itu dihubung-hubungkan, benar apa tidak ya siapa tahu. "Lha itu bibit-bibit efektif dan efisien, dik. Itung-itungan kasar saja. Jauh dan penuh bahaya lho kesininya. Efektif kalau sekali jalan dua tiga tujuan terpenuhi. Efisien kalau bisa kulakan sekalian jadi pengkulaknya" "Lha kalau yang Sultan itu apa mas? Legowo? Punya dua, satu hilang terus ngga papa?" "Sampai sekarang wong ya ngga papa to? Pagelarannya masih magrong-magrong gitu kok" ---
Aku baru setengah membaca filosofi rumah jawa. Ada satu yang inti dari laku seorang jawa yang dijelaskan di sana. Intinya laku mulia, penyatuan diri dengan rahmat Yang Mahaesa dimulai dari Prabu Brawijaya yang hijrah dari kepercayaan lama.
Menerus, diteruskan, hingga tahta seterusnya. Walaupun Giyanti memecah yang satu menjadi dua, Hamengkubuwono II masih menerapkan laku yang sama. Beliau membangun dinding tinggi sejak kecilnya. Benteng-benteng itu bukan menandai kuasa seperti mereka yang datang dari barat jauh. Benteng-benteng itu adalah penyatuan diri dengan keselamatan yang berasal dari Tuhan. Pelurunya bersifat rahim, yang berdebam berjatuhan merupakan kemurahan Tuhan Yang Maha Kudus. Mau takut sama apa kalau beradanya sekehendak Yang Maha Kuasa








