Life Must Go On
Akhir-akhir ini rasanya aneh. Rasanya seperti bukan menjadi diri sendiri. Seperti saya, namun bukan saya. Ada yang hilang. Ada yang berubah. Sebagai seorang yang introvert, memang lebih sulit rasanya mengungkapkan sesuatu selain melalui tulisan. Saya bisa menulis hanya jika sedang sedih, atau benar-benar ingin mengungkapkan sesuatu. Entah mengapa, menulis saat sedang bahagia itu sulit bagi saya. Mungkin, karena saya terbiasa menulis untuk menumpahkan kesedihan. Saya merasa menulis adalah terapi. Terutama saat saya merasa kesepian.
Sekarang saya merasa benar-benar sepi.
Siapa yang menduga hal-hal seperti ini akan terjadi. Dengan ini, saya disadarkan olehNya bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini. Tidak ada yang benar benar pasti. Bahkan, kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi satu detik lagi. Mungkin bagi saya sekarang, kalimat "semua akan indah pada waktunya" terdengar sangat klise sekarang. Dalam hati saya selalu berujar " Cuma saya yang paham bagaimana rasanya, cuma saya yang mengerti". Tapi saya yakin, sebentar lagi saya menemukan makna indah pada waktunya itu. Satu hal lagi, dalam setiap kondisi, kita harus selalu prepare for the worst. Pelajaran banget buat saya, opsi itu harus selalu ada di tiap rencana, agar kalau terjadi sesuatu, mental kita gak kaget-kaget banget. Hehe. Saya yakin semua ada hikmahnya, ini perkara waktu aja.
Saya mungkin memang harus keluar dari zona nyaman. Kejadian ini menyadarkan saya bahwa saya sedang berjuang sendiri. Ini perjalanan hidup yang harus saya tempuh, ini medan tempur saya sendiri. Bersedih boleh, tapi kan ada waktunya. Saya harus adaptasi dan membuat kebiasaan baik yang baru. Tidak bisa dengan zona nyaman saya yang dulu. Rasanya sekarang bebannya bertambah berkali-kali lipat. Saya tidak salah, tidak ada yang salah namun saya tetap saja merasa bersalah. Walaupun saya tetap yakin, ada pelangi di balik semua badai ini, pertempuran yang harus segera diselesaikan. Saya punya banyak waktu, yang sangat sia-sia bila tidak dimanfaatkan. Saya punya banyak waktu untuk memikirkan strategi pertempuran ini, Saya hanya perlu bersabar. Dan banyak berdoa. Karena kekuatan doa itu nyata. Sebentar lagi, ini hanya masalah waktu. Memang berat, tapi pasti bisa. Saya sedang berusaha membangkitkan semangat di dalam diri saya. Semua ini pasti selesai. Your dream will come true. Semua akan terbayarkan nantinya. Semua pikiran dan beban beban yang entah kenapa selalu menyerbu sebelum memejamkan mata saat tidur malam, sebenarnya setiap saat sih. Rasanya jadi lebih sensitif sekarang, pengennya semua orang mengerti. Padahal gak bisa gitu. Ini kan masalah saya, kenapa juga harus mempersulit orang lain.
Life must go on, saya tidak bisa terjatuh terlalu lama. Masih ada mereka yang membantu saya untuk kembali bangkit, doa tidak mengenal jarak, kan? :)
Ya Allah, mudahkanlah...
















