Senam Jantung.
Minggu dini hari. Pagi hari buta Rehan masih sibuk dengan smartphone kesayangannya. Kutak ketik sambil menyusun kata yang menjurus mesra kepada seseorang perempuan disana. Rehan sudah berumah tangga. Rumah tangga yang saat ini di jalankan itu adalah edisi keduanya. Edisi pertama sudah bungkus saat umur pernikahannya genap sepuluh tahun. Itu semua terjadi karena tingkah nya yang sering memadu kasih dengan wanita lain diluar sana. Jantung Rehan mulai berdegup takala wanita yang ia rayu mulai terpancing. Wanita itu berkata "oke, besok kita jalan deh ya" Rehan pun mulai berjingkrak kegirangan. Pagi menjelang siang ia terbangun dari tidurnya. Mengusap mata dan sesekali menggeliatkan badannya di sofa. Malam kemarin ia memang tidak tidur dengan istrinya. Maklum istri nya sedang ada tamu dan sedikit kurang enak badan. Ia pun bergegas mandi membersihkan badan sekaligus mencukur rambut disekitar area vitalnya 'demi persiapan' gumam nya. Setelah mandi ia langsung ke kamar lalu berpakaian. Selesai berpakaian ia pun bercermin 'siap!! Aku siap !!!' Sebelum berangkat ia sempat mencium kening istrinya terlebih dahulu lalu berpamitan 'Mih, aku ngantor yaaa' dan berbalas 'Oke pih hati-hati'.Rehan lalu menuju garasi, menyalakan mobil dan langsung tancap gas menuju kantornya di pusat kota. Sesampainya di kantor Rehan terlebih dulu mengisi absen karyawan dan langaung menuju ruang kerja ya. Pikirannya tak menentu. Sesekali ia kembali sibuk dengan smartphone nya. Wanita yang menjadi targetnya bernama Rina mahasiswa semester empat di PTS ternama di kota ini. Rina sudah mengabari bahwa ia akan sampai tempat yang di janjikan itu tepat tengah hari. Rehan yang mendengar kabar itu gembira sambil mendongak ke arah jam. 'Hmm, masih tiga jam lagi'. Sambol membunjh waktu Rehan pun mengerjakan pekerjaannya sebagai akuntan. Tepat setengah jam sebelum tengah hari ia sudah meninggalkan katornya. Memacu mobil jepang nya menuju tempat yang di janjikan. Perempatan pusat kota ia berhenti. Ia merogoh saku celana nya dan mengeluarkan sebutir viagra lalu menenggaknya. Setelah itu ia berkaca di spion tengah mobil 'Aku siap!!' gumamnya. Usai itu ia kembali tancap gas menuju tempat yang di janjikan. Tempat yang di janjika itu adalah hotel bintang tiga di persimpangan atara kota dan kota coret. Sesampainya Rehan disana ia sudah melihat wanita molek berbaju merah dan celana jeans ketat yang menambah nilai plus kemolekan tubuhnya. Rehan segera menyapanya dan segera menggandengnnya menuju kamar. Sambil berbincang kecil dengan Rina rehan pun sudah menunjukan gelagat seperti orang yang tidak bisa mengatasi birahinya. Rehan terus melirik tubuh Rena sambil berfantasi ria. 'tak sabar duhh' gumamnya dalam hati. Akhirnya merekapun sampai di kamar yang mereka pesan. Sedikit jaim Rehan pun mencoba menahan birahinya. Untuk menyamarkan nya ia mengajak Rena mengobrol ngalor ngidul. Di sela percakapannya denga Rena ia pun sesekali curi curi pandang dan menjamah pundaknya. Suasana kian panas. Sesi foreplay sudah dimulai. Baju dan pakaian dalam pun sudah berceceran di seputaran kamar. 'Duk duk duk' suara pintu kamar memecah suasana panas mereka berdua 'Duk duk duk'. 'Sebentar' jawab Rehan sembari membangunkan badanya dari tempat percumbuaannya. Tetapi belum genap selangkah dari tempat tidur pintu pun terbuka dan ia tak menyangka. 'Rehan!!!' 'Ma Ma Mamih' sambil menelan ludah dan tatapan kosong.














