Di rumah sakit uang dan pekerjaan tidak ada nilainya
Sabtu dini hari aku termenung di sebuah rumah sakit, berusaha menangkan diri sambil mengolah napas berharap rasionalitas dan perasaan dapat saling memahami.
Putraku mengalami kejang, badan kaku, tanpa merespon dengan tengisan sekalipun hingga membuatku panik dan jauh membayangkan hal buruk sedang kuhadapi.
Tak berhenti mulutku berdoa, merapal apa saja dan berharap ini satu-satunya jalan keluar yang bisa Allah dengar.
Terbayang ada ratusan orang di rumah sakit ini, yang mungkin juga sedang berdoa hal yang sama, memohon kesembuhan untuk dirinya. Memohon kesembuhan untuk keluarganya.
Barangkali mungkin juga sama sepertiku, rela meninggalkan pekerjaan yang sedang dikejar deadline. Rela dimarahi karena tidak sesuai jadwal yang disepakati.
Rela meninggalkan apa saja yang sebelumnya tengah diusahakan dengan hanya berharap satu hal; memohon kesembuhan.
Tidak terbayang bagaimana dengan orang-orang di luar sana dengan vonis sakitnya. Bisa jadi mereka rela menukar harta kekayaannya sekalipun dengan kesembuhan.
Di rumah sakit, rasanya uang dan pekerjaan menjadi tidak ada nilainya.
Bersyukur putraku akhirnya tertangani, "alhamdulillah" berkali-kali terus ku ucapkan rasa syukur ini. Rasa syukur yang sudah jarang sekali aku ucapkan sebelumnya.
Padahal setiap hari Allah sudah menitipkan nikmat sehat, tapi lupa membuatku bersyukur. Hanya bekerja dan bekerja berharap uang dapat membeli kebahagiaan.
Astagfirullahaladzim, Allah meneguruku dengan lembut melalui caranya.
Peristiwa ini membuatku berpikir ulang tentang banyak hal. Menjaga kesehatan memang semestinya menjadi prioritas utama, dari pekerjaan dan yang lainnya.
Tapi di atas menjaga kesehatan, ada satu hal lagi yang jauh lebih penting; yaitu menjaga kedekatan kita dengan Sang Maha menjaga.
Bagaimana hati kita bisa selalu terkoneksi untuk memenuhi setiap panggilannya.
—ibnufir













