Sudah 2 tahun sejak terakhir kali aku berselancar di tumblr.
Membuka lagi untuk mengisi waktu luang ditengah PSBB, WFH, dan #stayathome.
Apakah masih ada yang bermain di tumblr sampai saat ini?
art blog(derogatory)
RMH

No title available

★
$LAYYYTER

oozey mess
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open

Janaina Medeiros
No title available
tumblr dot com
Today's Document

titsay

❣ Chile in a Photography ❣
Misplaced Lens Cap
Peter Solarz
d e v o n
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

Origami Around
Lint Roller? I Barely Know Her

shark vs the universe
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Iraq
seen from Colombia
seen from United Kingdom
seen from Guernsey
seen from United States

seen from Australia
seen from Russia

seen from United States
seen from Oman
seen from United States
@selflovesposts
Sudah 2 tahun sejak terakhir kali aku berselancar di tumblr.
Membuka lagi untuk mengisi waktu luang ditengah PSBB, WFH, dan #stayathome.
Apakah masih ada yang bermain di tumblr sampai saat ini?
••Tanggung Jawab Baru•• . Dibalik sukacita pernikahan kakak, ada hal lain yang akan mengubah kehidupannya, mungkin 180 derajat berbeda. . Sepeninggal Aji (baca: Ayah) kakak bertanggung jawab atas mama dan aku. Sepenuhnya, semampunya. Dan sekarang, ada satu orang lagi yang akan menjadi tanggung jawabnya dunia akhirat, istrinya. Dan kemudian akan terus bertambah. . Ia tidak hanya akan bertanya tentang perasaan mama, perasaan aku, tapi juga perasaan istrinya. Dan ketiganya adalah perempuan dengan watak dan pribadi berbeda. Mengerti mau satu perempuan yang beda dilidah dan dihati saja sudah susah, apalagi tiga. Dan tentunya ada fase belajar baru untuknya, sepanjang ia bisa. . Dulu setelah kakak melamar mba, aku pernah bertanya apakah aku akan kehilangan dia? Katanya, malah bertambah satu lagi yang bisa mendengarkanku. Dua kakak, lengkap laki perempuan. . Mungkin lengan laki-laki memang tidak sekuat perempuan soal menggendong anak sehari semalam, Tapi pundak mereka memang lebih kuat menahan tanggung jawab (jangan disebut beban). . Mungkin sifat cuek laki-laki menjadi demikian menyebalkan, padahal ada pemikiran panjang dari diamnya. Bukan cuma untuk sekarang, tapi kedepannya. . Selamat bertugas untuk tanggung jawab baru kak. Semoga kami adalah bahagiamu meski bukan tanggung jawab yang ringan untukmu.
••Kakak Menikah•• Jadi sebenarnya ada beberapa hal yang aku salutkan pada pernikahan kakakku ini. Mulai dari merahasiakan sampai mereka sebar undangan (yang buat aku juga ga kasitau siapa-siapa dia akan menikah sampai mendapat ijinnya). Dan ini kataku bukan hal yang mudah. Ada waktu dimana seseorang sangat ingin memproklamasikan bahwa dia akan menikah. Seperti euforia pengumuman lulus karena dirasa kabar bahagia. Dan orang berhak tahu bahwa dia telah berbahagia. Padahal harusnya menjadi rahasia. Terlebih jarak khitbah (lamaran) ke akad nikah mereka terbilang jauh. Ini menjadi lebih susah ditahan untuk tak diceritakan. Dan menurutku, mereka terbilang berhasil menjaga proses kerahasiaan sebelum resmi menjadi suami-istri. . Lalu dilanjut dengan keteguhan hati kakak untuk tetap sholat tepat waktu. Akadnya bisa dibilang berbenturan dengan sholat ashar, kemudian dia tetap teguh sholat dulu baru ijab qabul. Alhasil setelah berbincang dengan petugas KUA dia sholat dulu dan semua orang menunggu dia. Demikian pun saat resepsi. Dia juga langsung pergi saat waktu sholat tiba. Soal tamu yang ingin bertemu, yaa.. Menurutku, ini penting, mengingat banyak orang yang menggadaikan sholatnya saat memiliki urusan lain. . Soal tidak menyentuh yang bukan mahram, alhamdulillah, sepertinya mereka juga berhasil. . Mencoba menjaga prosesi pernikahan menjadi hal yang baik, maksudnya berusaha di syar'i kan adalah hal yang susah. Kadang bukan dari mempelai, tapi dari keluarga. Dan semoga saja kedepannya ada yang mengikuti jejak mereka yang berusaha menjaga prosesi penggenapan separuh agamanya sebaik mungkin agar Allah ridho. . Barakallahu laka wa baraka 'alayka wa jama'a bainakuma fii khayr. Dear kakak dan kakak baruku 😅
••Sudut pandang•• . Jadi kemarinan aku sempat galau karena suatu hal. Yang kemudian kuceritakan ke kakak. Mentor paling unggul soal kegalauan.😂 . Lalu, as always mas gede yang memang selalu tenang menghadapi apa-apa, bukan tipe yang panikan dan grasah-grusuh akhirnya bilang, "Ayu harus diubah sudut pandangnya. Kalau nemu kesulitan jangan mikirin sedihnya dulu. Tapi mikirin solusinya". . Dan kata-katanya bikin aku langsung nyadar kalau terkadang disaat panik, ditimpa kesulitan, pikiran jadi tiba-tiba ruwet dan ingin menyerah saja mengusahakan karena dihalangi kesulitan itu. . Padahal setiap kesulitan ada solusinya. Setelah kesusahan ada kemudahan, QS. 94:5-6. Dan mengusahakan maksimal harusnya termasuk pada ikhtiar mencoba melewati kesulitan itu. Bukan menyerah begitu saja. . Mungkin saja inilah mengapa ada orang lain yang kita pandang hidupnya lapang dan lenggang saja, padahal bisa saja kesulitannya lebih berat daripada kita. Hanya saja, ia selalu merubah sudut pandangnya dalam menghadapi masalah itu.
Sepertinya aku setuju untuk tidak terlalu terburu-buru maupun diburu-buru. Karena semua hal ada waktunya. Meski kita mengejar hingga lelah, tidak akan tiba jika bukan masanya. . Mengikhtiarkan memang harus. Mengusahakan memang perlu. Tapi memaksakan? . Seperti potret yang tak tepat timernya, hasilnya mungkin blur jadinya. Meski indah nyatanya.
Tak ada yang menjamin mereka yang sudah melangkahkan diri berubah akan selamanya baik. . Tak ada yang menjamin mereka yang telah berusaha menjadi lebih baik akan terhindar dari maksiat. . Tak ada yang menjamin mereka yang pernah menasehatimu itu bersih tanpa dosa. . Tak ada yang menjamin. . Karena sejatinya iman itu naik turun. Karena sebenarnya istiqomah lebih berat daripada hijrah. Karena kenyataannya masuk ke dalam maksiat lebih gampang daripada menjauhinya. Dan semoga diri bagian dari mereka yang mensandarkan diri padaNya. :')
Kadang kamu mungkin merasa beban yang kamu pikul kini melebihi beban siapapun didunia ini. Kamu tidak sadar kalau ada orang lain yang memiliki beban melebihi bebanmu, namun ia tetap tersenyum, ia tetap bahagia bisa menyentuh kehidupan dunia walau perih yang ia dapat. Kenapa? karena ia percaya kebesaran Tuhan. Ia percaya bahwa Allah tak pernah melupakannya.
Ayu Fuji
••Cahaya Untuk Diri Sendiri•• Pagi ini, saat buka instagram, langsung merasa tertampar oleh tulisan tentang hijrah sosial media. Kurang lebih berisikan tentang orang yang sosial medianya penuh kalimat-kalimat dakwah dan islam, padahal kenyataannya raganya tak pernah hadir di kajian atau majelis-majelis ilmu yang menguatkan iman. Hanya disibukkan oleh sosial media itu saja. Merasa tertusuk, merasa malu. Saat diri amat berat untuk datang ke majelis ilmu, Saat diri amat susah untuk memaksa beramal baik, Padahal, kelak dihari akhir bukanlah terkenalnya kita di sosial media yang mampu menolong kita. Apalagi jika kebaikan-kebaikan itu hanyalah maya, bukan nyata. Memberi cahaya pada orang lain itu penting. Namun jangan lupakan bahwa kita juga manusia, kita juga imannya bisa naik turun, kita juga membutuhkan cahaya itu. Kalau kata sepupuku, yang mengibaratkan nasihat seperti klakson kendaraan, kita jangan cuma mau mengklakson orang lain, tapi juga harus terima dengan lapang kalau di klakson. Jangan cuma ingin menasehati, tapi juga harus terima dinasehati. Dan selalu, tulisan ini utamanya untuk menasehati diri sendiri.
••Perempuan dan Amanah•• Beberapa waktu terakhir, aku memperhatikan lingkungan sekitar dan menyadari satu hal dari beberapa kejadian. Dikampungku, ada beberapa anak yang ibunya rajin beribadah, menular pada anaknya meski ayahnya tidak rajin beribadah. . Ada ibu yang menanamkan nilai-nilai pentingnya sholat berjamaah bagi anak laki-lakinya. Pentingnya menutup aurat bagi anak perempuannya. Atau, pentingnya belajar agama sedari dini, semisal, membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar. . Disisi lain, aku memperhatikan sang ayah diam saja saat anaknya melangkah ke masjid. Ia tidak beranjak dari tempat duduknya. Atau bahkan diam diposisi yang sama sampai waktu sholat berikutnya tiba. Ada juga ayah yang ketika diajak sholat bersama, ngaji bersama, atau diperingatkan bahaya berbuat dosa, malah mengatakan "urus saja ibadahmu sendiri". Subhanallah. . Disini aku tidak menghakimi sang ayah. Karena diluar sana amat sangat banyak ayah yang mampu mendidik anaknya dengan sangat baik. Tapi dari sini aku menyadari satu hal mengenai "perempuan adalah madrasah pertama bagi anaknya". Menyadari betapa pentingnya belajar menjadi seorang ibu terbaik bagi anak. Karena dari ibu lah anak lebih banyak meniru. Mengingat, memang anak seringkali berinteraksi dengan ibunya. . Sedari bayi, ibu menghabiskan waktu lebih banyak bersama anaknya bukan? Siapa lagi yang lebih kuat menggendong anak selain ibunya. Atau mendengarkannya menangis. Atau begadang saat dia tak bisa tidur dan sakit. Atau banyak lagi hal yang orang lain tak bisa bayangkan kekuatan itu sumbernya darimana. Dan hal ini yang menjadikan anak lebih banyak meniru dari perilaku. Apa jadinya bila kita malah memberikan contoh dan kebiasaan tak baik padanya? . Benar saja, keluarga bagaikan sebuah rumah. Saat ayah menjadi atap yang melindungi dan rela menahan segala cuaca demi keluarganya tetap aman, ibu menjadi tiang agar rumah itu tetap kokoh berdiri. Dan tanpa salah satu diantaranya semuanya memang tidak sempurna. . Haff.. Pada akhirnya aku menyadari bahwa ingin belajar menjadi penting untuk dilakukan. Dan pada hal ini, ingin belajar mempersiapkan diri menjadi madrasah terbaik bagi anak. . Selamat berusaha, kita :)
••Jilbabku dan Komentarmu•• . Oke, jadi, meluap lagi keinginan buat menulis hal satu ini yang really, sering berasa engga berhenti dibahas lingkungan sekitar. . Terutama saat yang berjilbab ini melakukan hal salah. Sering (banget) jilbabnya lah yang menjadi kambing hitam. Semisal, apa gunanya deh pake jilbab tapi kelakuannya gitu. Lah, jilbab in hati dulu deh baru jilbabin kepala. Malu dong sama jibabmu, malah sikap m*nafik. . Berdasarkan kandungan surat An-Nur 31 atau Al-Ahzab 59, Jilbab itu wajib, dan kita sebagai perempuan wajib mengenakannya. Seperti kita wajib menjalankan sholat. Atau wajib berbakti sama orang tua. Dan tiap kewajiban ini gabisa di sangkut-sangkutin. Cmiiw. . In my honest opinion, berjilbab atau engga, kalau memang pada dasarnya akhlak orang belum baik, ya tetap aja belum baik. Seperti kalimat "don't judge a book by the cover". Yaa berarti cover ya cover. Inside ya inside. Right? . Jadi gabisa dibandingin akhlak, sikap, perilaku orang sama apa yang ia kenakan. Dan seharusnya kita bersyukur, dia bisa menjalankan salah satu kewajibannya sebagai bentuk taatnya pada Allah. Kemudian mendoakan semoga kelak apa yang dikenakan ini bisa memberi pengaruh kebaikan dari dalam dirinya. . Tajamnya komentar kita pada mereka yang berusaha mempertahankan jilbabnya menyisakan luka sendiri. Yang membuat dia berpikir apa gunanya berjilbab, toh aku masih begini. Yaps, kita sukses membuat dia melakukan dosa selama dia tidak berjilbab. . Dan tentu saja, aku dan kamu yang sudah belajar berjilbab ini harus paham betul bahwa inilah mahkota kita yang harusnya kita jaga. Jaga agar tak jatuh. Pun jaga agar selaras indahnya dengan sikap kita. Semoga pada akhirnya usaha pura-pura baik itu mengakar dan menjadikan kita benar-benar baik. . Seperti berpura-pura hingga diri sendiri ini lupa bahwa tengah berpura-pura. :')
Antara menyerah dan menyerahkan semuanya pada Allah.
Pada suatu titik kadang kita merasa lelah atas masalah dan beban hidup yang kita punya. Padahal, beban kita mungkin seringan batu apung jika dibanding yang lain. Namun begitulah, kapasitas usaha memperjuangkan setiap orang berbeda. *** Ketika lelah memikirkan dan mengusahakan semuanya, ingin rasanya kita menyerah dan menghapus memori saja. Padahal, memori itu adalah bagian perjalanan hidup kita. Bagian berkelok dari jalan lurus. Bagian berbatu dari jalan mulus. Bagian pahit dari kisah manis. Agar kita menghargai arti bahagia. *** Menyerah berbeda dengan menyerahkan semuanya pada Allah. Ketika kita menyerah, semuanya ingin kita lupakan dan memulai lembaran baru. Sementara ketika kita menyerahkan semuanya pada Allah, maka usaha nyata terbaik sudah kita lakukan dan selebihnya, biar Allah yang menentukan. Mengenggam dalam doa, karena doa nyatanya lebih dahsyat. *** Maka beginilah, ada akhir dari sebuah awal. Ada duka dari sebuah senyum. Seperti kata sahabatku, "Usahakankan yang terbaik, tapi jangan berharap apapun pada setiap hal yang kamu inginkan, sayang. Biar Allah saja yang memberikan kita yang terbaik menurutNya. Biar kita juga nambah belajar satu ilmu, ikhlas. Karena kadang versi baik bagi kita bukan versi baik disisi Allah". Cmiiw^^
Cinta?
Sebuah pelajaran indah aku dapat hari ini: Ketika kita mencintai orang lain kita harus bersiap pada kemungkinan terburuk bahwa kita akan tersakiti karena dia tidak mencintai kita. Ketika kita dicintai orang lain kita harus bersiap pada kemungkinan terjahat bahwa kita akan menyakiti hati orang lain karena kita tidak mencintai dia. Ketika kita saling mencintai kita harus bersiap pada kemungkinan tersakit bahwa suatu saat kita akan berpisah. Karena dibalik pertemuan pasti ada perpisahan. Entah untuk sementara atau selamanya. Namun ketika kita saling mencintai karena Allah, maka apa yang telah menjadi takdirNya akan selalu kita usaha terima dengan suka cita. Bahkan jikapun itu perpisahan yang amat memilukan hati. Tapi ini bukanlah hal yang mudah. Karena ketika mencintai kita cenderung ingin memiliki. Meski tahu ada kemungkinan tersakiti. Maka tidak ada tutorialnya jika bertanya bagaimana cara mengikhlaskan diri pada ketetapan Allah. Kita akan bisa asal kita USAHA. :')
AKU DAN HIJRAH JAMAN NOW
Kini kita telah berada pada zaman 'muslimah ngaji' menjadi jutaan, hijab menjadi pujian, dan kata 'Hijrah' menjadi banggaan. Maasya Allah, nampaknya Syariat Allah tidak lagi asing bahkan diminati, sunnah Nabi tidak lagi didebati bahkan diindahi. Dan inilah 'Aku dan Hijrah jaman now' Jika dahulu shahabiyah berhijab karena Allah Ta'ala, aku berhijab karena mengikut trend modern hari ini. Bukan hanya itu, aku juga berhijab dan berhijrah karena menyukai seorang Ikhwan dan aku termotivasi untuk hadir di majelis ilmu karena ingin baik di matanya, aku juga tertarik berhijab karena melihat temanku yang berhijab lebar. Niatku sesungguhnya bukan karena Perintah Allah dalam QS.An-Nuur:24,31 dan QS.Al-Ahzab:59. Buktinya, aku tak menghafalkan ayat itu atau sekedar menghafal terjemahannya, aku belum cukup membaca tafsirnya apalagi mentadabburinya. *Yah inilah 'Aku dan Hijrah jaman now'* Jika muslimah di zaman Nabi dan shahabat menutup kain ke seluruh tubuhnya dan seutuhnya, aku berhijab karena ingin dilihat. Aku ingin seisi dunia dan jagad dunia maya tahu bahwa aku sedang belajar menjadi baik, yah akulah wanita shalihah yang tertutup tapi agak terbuka sih... Aku suka jika banyak yang memuji keshalihanku, hingga aku menjadi pusat perhatian para lelaki dan sumber insprasi muslimah lain, hingga aku jadi terkenal. Inilah 'Aku dan Hijrah jaman now' Dulu, muslimah zaman Nabi menutup diri dari celah fitnah dan senantiasa menyembunyikan kecantikan dirinya. Aku di jaman now mengumbar fitnah kemana-mana dengan hijab gelapku yang anggun, hijabku yang lebar berkibar-kibar di akun sosial mediaku, mataku yang indah berhias cadar menggugah misteri buat para ikhwan, gambarku yang siluet dan dari belakang memberi kesan yang dalam dan eksotis kemudian kuberi caption ayat-ayat Allah, hadits-hadits Nabi, dan kata-kata mutiara. Sungguh sebenarnya yang ingin kusampaikan memang kebaikan tapi kupadukan dengan mempromosikan atau bahasa kasarnya 'memamerkan' diriku pada khalayak bahwa aku telah berhijrah. Aku mengaku mengikuti Ummahatul Mu'minin namun aku lupa ternyata Ummahatul Mu'minin bermahkota rasa malu, sampai-sampai mereka -radhiallahu'anhuma jami'an- jika berbicara dengan lelaki lain, mereka dibalik tirai hijab, tidak saling melihat apalagi tatap-tatapan, apatahlagi ngobrol basa basi. Sedangkan aku membuka semua celah percakapan dengan lawan jenis tanpa rasa malu, di dunia nyata apalagi di dunia maya, sendirian apalagi di tengah keramaian. Aku berdalih "tidak ngapa-ngapain kok!...' aku lupa bahwa syaithan itu licik bahkan syaithan mengalir hingga ke darah manusia. Apa yang bisa kubanggakan dari hijrahku ini? Inikah yang kusebut-sebut sebagai hijrah? Inilah aku. Dan aku menyadarinya bahwa selama ini aku salah, padahal aku pernah mendengar bahwa Rasulullah shallallahu 'alai wa sallam bersabda "Sesungguhnya amalan itu bergantung dari niatnya". Maka apa yang bisa kubanggakan dari hijrahku ini jika ternyata usahaku menutup diri, koceh yang kukeluarkan untuk membeli hijab, kaos kaki, gamis, manset, buku-buku, transportasi majelis ilmu.. ternyata sia-sia di sisi Allah hanya karena sesuatu yang tersembunyi di dalam hatiku, ialah niatku!. Kelak di hari kiamat aku hanya menyaksikan bahwa segala amalanku hanyalah bagaikan debu beterbangan, memang banyak namun tak ada nilainya di sisi Allah. Karena amalan sholeh ini bukan kupersembahkan untuk Tuhanku, hingga api neraka dihadapkan di mataku dan penyesalan tiada guna lagi untukku, maka kusadarilah bahwa niatku tak boleh kupermainkan dengan hawa nafsu. Apa yang bisa kubanggakan sementara muslimah di zaman Nabi harus meneteskan darah, air mata, sujud yang panjang di sepertiga malam untuk menegakkan perintah Allah. Sementara aku hanya berbekal membaca sedikit dan mendengar kajian sedikit, banyak tertawa bercanda, lalu dengan pedenya bermodal hijab saja kuyakin akan masuk Syurga? Bagaimana mungkin! Kusadari bahwa mereka (muslimah zaman Nabi) senantiasa berbekal dengan tarbiyah (pendidikan) Nabi, mereka senantiasa menghias diri dengan mengilmui sedalam-dalamnya Al-Qur'an dan Sunnah hingga hijab di mata mereka adalah jihad dan perjuangan mereka. Sementara aku?? Apa yang bisa kubanggakan dengan hijrahku? Aku hadir di majelis ilmu sekedar meramaikan dan pencitraan, bagaikan buih di lautan yang banyak namun tak ada artinya. Tak heranlah jika kadang kesombongan merajaiku karena pendeknya ilmuku. Aduhai, kini kusadari wanita tanpa dihiaspun sebenarnya tercipta dengan perhiasan, jika semakin dihias maka akan menjadi fitnah yang besar tatkala diumbar kemana-mana. Semoga yang berperan "Aku" dalam tulisan ini bukanlah engkau yang sedang membaca tulisan ini, jika engkau tersinggung sedikit 'apalagi tersinggung banyak' maka muhasabalah dan kenalilah dirimu duhai muslimah yang cantik nan shalihah dan taatilah perintah Tuhanmu, sesungguhnya Ia Maha Melihat lagi Maha Mengetahui. Ia mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati, ia mengetahui semua amalan kecil dan besar, dan menghisab semuanya. Sebelum ruh terpisah dari jasad, ampunan Allah senantiasa terbuka lebar walau hamba berlumur dosa. Maka selagi Allah masih memberi kesempatan untuk bertaubat, perbaikilah semuanya, perbaikilah niatmu. "Setiap anak Adam pasti pernah melakukan dosa, dan sebaik-baik dari mereka adalah yang segera bertaubat pada Allah." Sungguh Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Wanita adalah kunci kebaikan peradaban, jika ia baik maka baiklah generasi. Namun jika ia buruk, maka buruklah generasi peradaban. Sadar atau tidak duhai Saudariku-karena Allah-, engkaulah pengemban amanah ini. Maka jagalah amanah pembangun generasi ini, karena engkau bisa menjadi sebab kebaikan dan sebab malapetaka. Dan wanita yang sejati ialah yang menyadari fitrahnya sebagai muslimah yang indah, senantiasa menjaga kehormatannya, rasa malunya, dan senantiasa menaati Rabb semesta alam. Semoga Allah memberi taufiq-Nya, menunjukkan pada kita jalan yang lurus dan meneguhkan kita di atasnya. Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kita berada, barakallahufiikunna jami'an. Wallahu Ta'ala a'lam. Share!, semoga bermanfaat. [Oleh: Ria Mardiah]
••Dukungan•• . Saya termasuk orang yang terkadang memerlukan stimulus untuk menggapai suatu hal. Bisa dibilang, perjuangan pencapaian suatu tujuan dengan sebuah dukungan. . Bicara perjuangan, memang tak bisa lepas dari dukungan, bagiku. Dukungan positif yang melahirkan energi berjuang lebih besar untuk setiap misi demi meraih visi. . Sebut saja keluarga. Bagi saya, mereka adalah dukungan terkuat. Saya selalu bahagia setiap mama senang atas apa yang saya raih. Saya selalu bahagia setiap mama menyemangati meski saya merasa gagal, kata mama yang penting saya sudah mengusahakan yang terbaik. . Demikian juga saya selalu bahagia setiap kakak memberikan semangat dari secarik pesan singkat setiap saya menghadapi hal-hal besar yang terasa melemahkan saya. Semisal, ujian semester, ujian skripsi atau yang terbaru, menanti untuk bekerja. . Entah bagaimana mendefinisikannya, yang pasti ada energi berlebih tatkala dukungan dari orang terdekat bisa saya rasakan. Lebih dari itu, tentu setiap doa yang mereka pintakan padaNya tanpa perlu saya berkata apa-apa. Ah, masyaaAllah. Tabarakallah untuk setiap dukungan hingga hari ini. . Bahkan tak ayal, terkadang saya ingin segera menyelesaikan sesuatu demi mereka. Demi melihat mereka berbahagia. Kadang terasa tertekan, tapi tekanan itu yang membuat saya ingin berjuang. . Mungkin benar adanya perkataan ini, "You never know how strong you are, until being strong is the only choice you have". . Jadi, saya justru merasa berterimakasih sudah ditagih menyelesaikan berbagai hal, hingga akhirnya saya bersemangat mengerjakannya. :D . Yaps, exactly like that for me. Dukungan itu menenteramkan sebuah perjuangan. Jadi jangan bosan mendukung orang lain. Karena kita bagikan penyokong baginya dalam menghadapi setiap kerumitan keadaan.
"belum makan" "baru pulang kuliah" "lagi ngga enak badan" Kata-kata singkat yang kadang bisa bikin seorang ibu khawatir pada anaknya. Kata-kata sederhana yang kadang berhasil membuat ibu menitikkan air mata. Bukan hal baru seorang ibu khawatir berlebihan pada anaknya yang bahkan hanya sekedar demam. Juga bukan hal yang aneh seorang ibu bahkan bisa berubah jadi super cerewet hanya karena anaknya telat makan siang. Begitulah seorang ibu, cintanya tak pernah sederhana. Begitulah seorang ibu, sayangnya selalu sempurna. Ngga usah jauh-jauh mencari kebahagiaan jika keluargamu masih kamu abaikan. Dekati keluargamu, sayangi mereka, jadikan baiti jannati itu nyata. Jangan malu mengatakan,"Bu, aku sayang ibu".
Jadi Bagaimana?
bukankah kita ada di jalan dakwah ini harusnya merangkul semuanya untuk terus berusaha jadi lebih baik? lantas, bila ia tak sepaham denganmu apa kamu harus men'judge'nya pasti salah? apa kamu harus spontan menjauhi dia? atau bahkan kamu harus memalingkan wajah ketika bertemu dengannya seakan kamu tak pernah mengenalnya? Abu Hurairah Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Tidak halal seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari, barang siapa memutuskan lebih dari tiga hari dan meninggal maka ia masuk neraka” (HR Abu Dawud, 5/215, Shahihul Jami’ : 7635) Abu khirasy Al Aslami Radhiallahu’anhu berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa memutus hubungan dengan saudaranya selama setahun maka ia seperti mengalirkan darahnya (membunuhnya) “ (HR Al Bukhari Dalam Adbul Mufrad no : 406, dalam Shahihul Jami’: 6557) Dalam hadits riwayat Abu Hurairah Radhiallahu’anhu , Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “semua amal manusia diperlihatkan (kepada Allah) pada setiap Jum’at (setiap pekan) dua kali; hari senin dan hari kamis. Maka setiap hamba yang beriman diampuni (dosanya) kecuali hamba yang di antara dirinya dengan saudaranya ada permusuhan. Difirmankan kepada malaikat :” tinggalkanlah atau tangguhkanlah (pengampunan untuk) dua orang ini sehingga keduanya kembali berdamai” (HR Muslim : 4/1988) Abu Ayyub Radhiallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Tidak halal bagi seorang laki-laki memutuskan hubungan saudaranya lebih dari tiga malam. Saling berpapasan tapi yang ini memalingkan muka dan yang itu (juga) membuang muka. Yang terbaik di antara keduanya yaitu yang memulai salam” (HR Bukhari, Fathul Bari : 10/492) firman Allah ta'ala: innamal mu'minuuna ikhwah. Artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara." Dan di dalam hadits yg shohih, Nabi shalllallahu alaihi wasallam bersabda: "al-muslimu akhul muslim". Artinya: "orang muslim itu saudara bagi muslim yg lain."
Qur'an day 6 [Kita Bersaudara] . Apa yang menjadi alasan kita begitu ilfeel pada teman kita? Apa yang menjadi penyebab kita begitu tak suka pada teman kita? Jika itu karena dosanya, bukankah kita juga tak luput dari dosa? Jika itu sikapnya, bukankah kita dapat mengingatkan tanpa mencemooh dibelakang? . Karena sejatinya kita bersaudara. . “Sesungguhnya, orang-orang Mukmin adalah bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu, dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” [Al-Hujurat: 10] . Bahkan Rasulullah pun menyatakan bahwa kita sesama muslim bagaikan satu bangunan, saling menguatkan. Bagaikan satu tubuh, satu bagian tubuh yang terluka, maka semuanya merasakan sakit. . Mencintai tak harus selalu pasangan. Ia saudaramu yang ada disaat terendahmu atau membutuhkanmu disaat terendahnya juga berhak mendapatkannya. . Dan bahwa kita harus belajar mengkritik pendapat atau perbuatannya, bukan mencela atau menjauhi orangnya. . Menebar cinta tanpa kebencian, kuy!