Dunia sampai di sini saja.
Di saat-saat akhir masa hidup Rasulullah SAW, ada satu pesan yang begitu dalam dan menyentuh, yang terucap dari lisannya yang mulia -shallallahu alaihi wasallam- bahwa "Sesungguhnya aku tidak khawatir akan keimanan ummatku sepeninggalku nanti, namun yang kukhawatirkan, mereka akan saling berselisih atas perihal dunia"
Maulana Ustaz Bakhtiar, Lc. dalam salah satu pertemuan kajian al-madkhal ila al-thassawwuf al-Islamy karya Maulana Syeikh Ali Jum'ah -semoga Allah menjaga keduanya- menjelaskan bahwasanya, segala sesuatu yang dikerjakan bukan karena Allah, maka, itu Dunia. Sekalipun itu ibadah.
Dan sebaliknya, segala sesuatu yang dikerjakan karena Allah, maka, itu akhirat. Sekalipun bukan ibadah baik muamalah maupun kegiatan manusia pada umumnya. Dari sini kita melihat peran yang begitu penting dari sebuah niat. Niatlah yang membedakan orientasi seseorang dalam aktivitas sehari-harinya. Niat pula yang akan membedakan tindakan seseorang; duniawi kah ia atau ukhrawi?!.
Seseorang yang orientasi hidupnya adalah dunia maka hidupnya akan selalu diliputi dengan perselisihan, pertengkaran, permusuhan, dan rasa ketidakpuasan atas sesuatu, sebanyak apapun yang ia telah dapatkan. Sebaliknya ketika akhirat yang menjadi konsentrasinya maka yang lahir adalah rasa syukur atas apa yang telah ia terima, sabar dan ridha akan segala sesuatu yang menimpa.
Dalam riwayat lain ada seorang sahabat mendapati Rasulullah tidur di tikarnya yang terbuat dari pelepah kurma, dimana kerasnya tikar membuat bekas di permukaan kulit Rasulullah. Sahabat pun sedih melihat hal tersebut lantas berkata " Wahai Rasulullah, bila engkau berkenan, kami punya kasur yang dapat membuatmu terhindar dari hal itu". Rasulullah SAW menjawab " Wahai sahabatku, jika itu dunia, maka apa artinya untukku? Sesungguhnya perumpamaan diriku dan dunia bagaikan seorang pengembara di bawah teriknya matahari musim panas yang singgah di bawah pohon untuk sekadar berteduh, kemudian beranjak dan meninggalkannya".
Demikianlah Rasulullah tatkala memberi arti pada dunia, tempat singgah yang begitu sebentar dan tidak selamanya. Maka hendaknya seorang muslim fokus dan berfikir, bagaimana di waktu dan tempat yang sementara ini, ia dapat memperbanyak bekal untuk waktu dan tempat yang abadi nantinya. Maka, seorang muslim sebenarnya tidaklah diperintahkan untuk meninggalkan dunia secara mutlak untuk fokus ke akhirat, melainkan seorang muslim dituntut untuk tahu akan arti sebenarnya, mengapa dunia itu diciptakan, diperuntukkan, dan ditundukkan bagi manusia, khususnya orang-orang yang beriman. Tidak lain dan tidak bukan, adalah sebagai tempat menanam kebaikan yang hasilnya akan dituai di akhirat kelak. Maka, kesimpulannya, baik muamalah, kebiasaan, maupun ibadah. Bukan hanya sebatas kebiasaan manusia sehari-hari bersama dengan hal-hal yang berada di sekitarnya atau ritual-ritual keagamaan yang sudah ditentukan hukum serta tata cara pelaksanaanya. Lebih luas dari itu, semuanya adalah sesuatu yang akan bernilai ukhrawi ketika niat dan orientasinya adalah ridha Allah SWT.
Adapun dunia yang sifatnya kenikmatan dan hiburan, maka agama pun tidak melarang secara mutlak. Selama tidak melanggar aturan agama dan tidak melalaikan maka boleh-boleh saja. Maka prinsip yang harus dipegang di sini adalah sebagaimana doa yang sering dilantunkan oleh orang-orang shaleh
اللهم اجعل الدنيا في أيدينا ولا تجعلها في قلوبنا
"Ya Allah jadikanlah dunia dalam genggaman kami dan jangan engkau letakkan ia di hati kami"