Pesan singkat itu masuk ke telepon genggamku.
Aku menarik nafas panjang, membayangkan laki-laki itu di pintu kedatangan dengan senyum lebarnya. Entah apa yang ada di kepalanya, mungkin kewarasannya sudah hilang sejak ia bertemu denganku. Laki-laki mana yang masih menunggu ketika pasangannya muncul dengan ide impulsif yaitu pergi tanpa tahu kapan akan kembali.
“aku butuh perjalanan ini.” kataku, di malam aku mengutarakan niatku.
“kamu bosan?”Â
Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Yang aku tahu pada saat itu hanyalah aku hanya butuh pergi.
“Okay, Kalau pergi bisa membuatmu tenang, aku tidak akan melarangmu. Aku hanya ingin minta satu, jangan lupa pulang.”  Laki-laki itu memeluk dan aku masih ingat betul hangatnya yang mencoba meredam kegusaranku saat itu.
Aku pergi keesokan harinya, meninggalkannya sendirian bersama hidup kami yang ternyata tidak seburuk itu. Lucunya, aku baru bisa melihatnya dari tempat yang jauh, sangat jauh. Kalau aku boleh membela diri, aku memang butuh perjalanan ini karena sepertinya aku butuh diingatkan apa itu rumah dan rasanya kembali pulang.
“Kepada penumpang pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA765 dengan tujuan Jakarta dimohon untuk masuk ke dalam pesawat melalu pintu nomor tiga.”Â
Itu pesawatku. Aku kembali menarik nafas panjang dan membalas pesan singkatnya.
SEPOTONG SAJAK, DAN HAL LAIN YANG MENINGGALKAN JEJAK
Engkau adalah laut
Maka aku adalah perahu kecil yang terombang-ambing oleh ombak
Terdampar di pesisir asing, porak poranda
Berharap Sang Laut sekaligus menelan mengaramkannya.
Engkau adalah malam
Maka aku adalah lampu kota kerlap-kerlip
Mati saat mentari kembali bercahaya
Menunggu Sang Malam pulang dan memanggilnya
Engkau adalah langit
Maka aku adalah awan hitam sebelum hujan
Penuh gemuruh serta kilat dan kadang halilintar
Memuja Sang Langit dengan gairah yang tak ada tandingannya
Engkau adalah engkau
Maka aku adalah aku yang tidak jera merayumu
Terlanjur berlabuh, sementara asa kian jauh
Berdoa dengan iman yang tersisa, supaya Engkau menerimaku apa adanya
Aku hanya ingin engkau dekat.
Apakah permintaanku terlalu berat?
Akhirnya aku berani membuka kelopak mataku ini setelah entah berapa lama.Â
Mataku melihat banyak api memeluk setiap inci bangunan itu, bangunan yang selama ini aku sebut rumah. Rumah itu terbakar sudah hampir separuhnya. Api tidak perlu bekerja keras karena angin tidak segan untuk membantu. Malam jadi tidak terlalu kelam dan terang sepertinya akan terus datang. Abu dan asap mulai memaksa masuk ke tubuhku dengan segala caranya. Lucunya, aku tidak menggerakan badanku yang kubiarkan kaku. Untuk alasan tertentu, sepertinya aku sedang ingin menikmati hasil karyaku: Nerakaku sendiri.
Sepuluh menit berlalu dan aku masih berdiam diri memperhatikan setiap detail rumah itu dikelilingi nyala api tidak berkesudahan. Sesungguhnya aku tidak lagi bisa menikmati. Yang kemudian tertinggal hanyalah pertanyaan yang membuatku tersadar. Apa yang sudah aku lakukan. Apa yang sudah kau lakukan, Zia? Tidak satupun pertanyaan itu berhasil aku jawab. Semuanya mulai bisa kurasakan. Dada ini sudah sesak, mata ini perlahan perih, dan otak rasanya minta untuk diledakan. Bukan karena asap dan abu rumah itu, tapi karena rasa bersalah itu terus minta dipikirkan dan dirasakan sampai-sampai aku mau muntah rasanya.
Kesadaranku sudah kembali seluruhnya. Aku melihat sekelilingku. Dimana dia, tanyaku. Hanya itu yang sekarang aku ingin tahu. Aku mengelilingi rumah itu setengah berlari. Aku lempar botol bensin yang kupegang sedari tadi di tangan kiri dan mencoba mencari laki-laki itu. Aji. Tidak butuh lama untuk menemukannya. Ia terduduk di kursi kesayangan kami yang sengaja ia letakkan di taman belakang, tempat kami banyak menghabiskan waktu berteman secangkir teh hangat tiap sore selama bertahun-tahun.
Aku meletakkan diriku di sebelah Aji dan bisa kulihat tatapannya kosong ke arah rumah kami yang semakin tidak terlihat bentuknya.Â
"Lihat apa yang telah kamu lakukan dengan rumah kita, zi." Aji mulai bicara dengan suara tenangnya. Tidak kudengar tanda-tanda kepanikan di tiap katanya. Aku hanya menjawab dengan helaan nafas yang mulai terasa sulit.
"Ini kan yang kamu mau?" tambahnya. Aku tahu jawabanku tidak akan membantu apa-apa.
Aji berdiri. Ia meletakan korek api yang selalu menjadi kesayangannya sejak kuberikan sebulan yang lalu di atas kursi dan kemudian berlalu.
Seiring kata itu terlontar, kulihat api dalam matamu yang basah. Mata yang menungguku untuk membalas mulutmu. Barangkali kamu masih berharap akulah yang akan menyeka air matamu, padahal aku tahu kamu sudah tahu akulah sang penyulut api sehingga hampir mustahil aku menjadi pemadam kebakaran. Selalu saja, kamu dan harapanmu.
Memang yang kulakukan padamu itu jahat dan oleh karenanya aku tidak akan menyanggah perkataanmu. Seharusnya alasan-alasan yang pernah kuutarakan padamu itu sudah cukup untukmu meninggalkanku sehingga ini tidak perlu terjadi. Tapi barangkali kamu tidak pernah benar-benar mendengarkanku, atau kamu sibuk membuat pembenaran-pembenaranmu sendiri. Lagi-lagi, kamu dan harapanmu.
Aku masih di sini, melihatmu perlahan-lahan mengecil dan kian jauh. Tadi aku menunggumu untuk melayangkan satu tamparan padaku, yang layak aku dapatkan. Tapi kamu tidak melakukan itu, aku sudah tahu kamu tidak akan melakukan itu. Bahkan ketika aku telah demikian keji kepadamu. Kamu selalu baik, terlalu baik dan itu memuakkan.
Sebenarnya sekarang kamu tidak akan pernah tahu kalau kamu keliru akan dua hal. Pertama, kamu keliru, aku berhenti mencintaimu bukan saat mataku dan matanya bertemu, bukan pula pada ciuman kami yang pertama, ataupun saat kehangatannya menjalar ke seluruh tubuhku sepanjang malam. Aku berhenti mencintaimu jauh sebelum itu, lebih tepatnya justru ketika kamu bilang kamu mencintaiku pada pertemuan kita yang ketiga. Kekeliruan kamu yang kedua adalah asumsimu bahwa aku mencintainya. Aku tidak mencintainya, tidak lagi, semenjak ia katakan ia mencintaiku selepas kecupan pertama. Tidak seharusnya orang begitu mudah mengatakan cinta seolah itu bukan apa-apa, namun barangkali kala itu, adalah aku dan angan-anganku.
Hilangnya dirimu dan dirinya bukanlah suatu kehilangan karena cuma sesuatu yang berharga yang bisa hilang, sisanya hanya terbuang. Seandainya kamu lebih peka, kamu bisa menyadari kalau aku sudah membuangmu sejak lama. Tentu, bukan salahmu sepenuhnya. Kalau saja aku lebih jujur, aku akan mengutarakannya langsung padamu tanpa pertanda dan segala yang mengada-ada. Tapi alangkah mudahnya berkata jujur, dan mudah sama dengan sampah. Perlahan, kurangkai sebuah kebohongan demi kebohongan yang akan membuatmu sulit melupakanku.
Bukan, bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia. Aku hanya ingin kamu tidak semudah itu jatuh cinta. Tapi kini melihatmu bersanding di pelaminan dalam beberapa bulan, mungkin itu hanya angan-anganku saja.
Izinkan aku menulis untukmu untuk terakhir kalinya karena sejujurnya aku tidak akan sanggup menatap mata itu. Mata yang akan aku rindukan setengah mati. Jika dirimu berfikir ini akan mudah kulakukan, kamu salah, Dara. Aku kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan apa yang ada di kepalaku karena seluruhnya terlanjur berantakan karena tingkah lakumu. Pada saat dirimu menemukan surat ini, percayalah aku masih mencintaimu seperti pertama kali aku melihat tawamu dari ujung mataku dua tahun yang lalu. Detik itu aku tahu aku menemukan kiamatku karena aku percaya jatuh cinta adalah musibah bagi yang merasakannya.
Dara,
Dari semua hal, aku hanya ingat segala pertengkaran yang membuat kita saling terhempas menjauh namun lucunya kita selalu kembali memeluk karena ternyata mencintaimu akan selalu menjadi canduku. Sayangnya, aku mulai merasa hubungan ini membuat aku terjebak di perang dingin antara aku dengan kewarasanku. Menghadapimu membuat kesabaranku habis tak bersisa. Percayalah, aku berusaha bertahan tapi apa daya aku terlalu lelah untuk mencoba, untuk tetap berdiri di titik yang sama.
Dara,
Untuk terakhir kalinya aku meminta maaf atas keputusanku yang meninggalkanmu. Bukan, bukan karena penyakit itu aku berlalu. Hanya saja, aku tak tahu lagi bagaimana bisa membantu.
Aku menikmati saat-saat aku duduk sendiri di lantai kamarku sembari menunggu matahari terbit. Termenung di tepi jendela, menyaksikan kehidupan yang perlahan-lahan dimulai kembali seiring lampu-lampu kota yang satu demi satu mati.
Kamarku di saat-saat seperti ini adalah sepetak sunyi tanpa suara ketikan mesin tik maupun desik lembaran-lembaran kertas, tiada deru mesin kopi juga letupan panci di atas kompor gas.
Aku rela membuang lelap tidurku hanya untuk mengulang keheningan dini hari sebelum fajar menyingsing seperti ini. Lagi, lagi, dan lagi.
Sepi ini kosong, namun tidak hampa. Karena buat apa aku memelukmu jika memilikimu hanya akan membuatku mati sendiri berkali-kali.
Laki-laki itu agak bingung melihat perempuan bernama Alma itu berdiri di depan pintu rumahnya.
“hmm tidak, dok.” Jawab perempuan itu tenang. “Saya boleh masuk?”
“oh maaf, maaf. Silahkan masuk. Kamu langsung ke tempat biasa, ya. Teh chamomile seperti biasa?”
Alma menggeleng. “saya boleh minta kopi hitam tanpa gula, dok?”
“Oh, okay. Saya buatkan dulu ya.”
Beberapa menit kemudian, dengan membawa dua gelas kopi hitam, laki-laki itu menghampiri Alma di salah satu ruangan di rumah itu. Laki-laki itu menemukan Alma sedang melihat ke arah kaca jendela yang basah karena hujan dari tadi pagi tidak kunjung berhenti.
“Ini kopimu, Alma. Hati-hati, masih panas.” Laki-laki itu memberikan gelas kopi kepada Alma dan kemudian langsung duduk di sofa coklatnya, meletakkan gelasnya sendiri di meja sembari mencari buku catatan yang tertumpuk oleh buku-buku bacaannya.
Alma mulai meminum kopi dari gelasnya namun tidak sedikitpun berpindah posisi dari tempatnya berdiri. Sepertinya hujan lebih menarik perhatiannya, entah kenapa.
Sambil membuka buku yang akhirnya ia temukan, laki-laki itu memecahkan sepi dengan mulai bertanya, “Kinan apa kabar?”
“kemarin adalah hari terakhir saya menemuinya.”Â
“Berdasarkan catatan saya sebulan yang lalu, kamu memutuskan untuk berdiri di depan jendela rumahnya karena itu adalah definisi pulangmu. Saya pikir kamu sudah benar-benar pulang, Alma.”
Alma menutup matanya dan menarik napas dalam-dalam. Pemandangan itu kembali datang: Kinan yang sedang duduk di kursi kesayangannya, mencoret-coret buku gambarnya sembari menikmati segelas teh chamomile hangat yang daunnya Alma kirimkan seminggu yang lalu untuk membiarkannya tahu kalau Alma tak pernah pergi jauh. Alma membuka mata dan pemandangan itu seketika buyar tergantikan oleh bayangan dirinya di kaca jendela yang masih penuh dengan tetes air hujan. Ia ingat betul betapa ia mencintai menit-menit hatinya terasa hangat setiap ia melihat Kinan di dalam sana walaupun hanya dari jendela yang dibiarkannya terbuka sedikit. Naasnya, sejak kemarin tidak lagi ada yang tersisa. Alma mati rasa.
“Alma, Kinan juga punya masa kadaluarsa? Seperti orang-orang lainnya?” tanya laki-laki itu.
“Dokter sudah tahu perjalanan hidup saya dari lima tahun yang lalu. Setelah selama ini, dokter masih bisa berharap kali ini pola saya akan berbeda?”
“Karena saya tahu perjalanan hidup kamu dari lima tahun yang lalu, saya akhirnya memiliki harapan kali ini kamu benar-benar pulang, Alma.”
“kenapa dokter bisa berkesimpulan seperti itu?”
“Saya masih ingat betul betapa bahagianya matamu bercerita tentang Kinan.”
Alma yang sedari tadi memunggungi laki-laki itu kemudian membalikkan badannya dan kali ini laki-laki itu dapat melihat muka Alma. Tidak ada tangis di sana. Alma belum berubah, batin laki-laki itu. Masih sama seperti saat Ayahnya bercerita panjang lebar tentang Alma untuk pertama kalinya, lima tahun yang lalu. Selama lima tahun pula, ia melihat Alma merasakan dinginnya diri sendiri setiap masa kadaluarsa seseorang atau sesuatu tiba dan polanya selalu sama.
“Dok, semalaman ini saya berdoa, berharap perasaan saya tetap ada. Naasnya, percobaan saya kembali sia-sia.”
Laki-laki itu langsung menghentikan tangannya yang menulis catatan tentang apa-apa yang penting dari cerita Alma. “Kamu berdoa?” tanyanya singkat.
“iya, dok. Saya berdoa. Kenapa?”
“selama lima tahun saya tidak pernah mendengar kamu mendoakan dirimu sendiri atau seseorang. Yang hilang selalu kamu biarkan hilang. Kenapa kali ini berbeda? Mungkin ini bukan kadaluarsa, Alma. Seperti teh chamomile-mu hari ini yang berubah menjadi kopi hitam: kamu hanya bosan.”
Muka Alma terlihat berbeda setelah laki-laki itu menyelesaikan kalimatnya. “kamu baik-baik saja, Alma?” lanjut laki-laki itu.
“Sepertinya doa asal-asalan saya didengar Tuhan, dok.”
Barangkali memang bukan manusia yang membuang waktu, melainkan waktu yang mencampakkan kita perlahan-lahan. Sesungguhnya apapun itu dan siapapun dia akan tiba pada masa kadaluarsa.
Besok pagi, aku akan meninggalkan kota ini untuk kembali ke kota kecil tempat kelahiranku. Pulang, katamu. Akhirnya kau akan pulang kepadaku, ujarmu. Sebetulnya bila saja kau tanya aku, kota inilah yang lebih terasa seperti rumah. Tapi kau tak pernah tanya dan aku terbiasa menyimpan segala sesuatunya sendiri.
“Hei,” suaranya memecahkan lamunanku. Jemarinya menyentuh pipiku, yang tanpa kusadari sudah basah dialiri air mata. “Kamu akan baik-baik saja,” ujarnya seraya mendekapku erat.
Kurasa jatuh cinta -atau semacam itu- sebenarnya biasa saja. Justru jatuh tempo, yang membuat sisa-sisa cinta -atau apapun itu- menjadi tidak biasa. Bisa jadi, aku dan dia - kami - sudah habis waktu, dan kini saatnya aku kembali padamu, untuk memulai lagi dengan baru, sampai kita lama-lama menjadi tua.
Malam ini, izinkan aku tertidur mengubur mimpi-mimpiku dan mengulur-ulur perpisahan kami, untuk terakhir kali.
KAU ASING, YANG MEMBUAT DADAKU BISING DAN KEPALAKU PENINGÂ
Aku tak ingat berapa lama kita berpelukan kala itu. Namun, aku ingat kau menangis - begitupun aku. Kau melepaskan dirimu saat aku mendekapmu semakin erat, aku tidak lupa akan itu.
"Sudah, sudah. Cukup," ujarmu sembari berpaling tanpa sekilas pun melirik ke arahku. Tapi kau tak pernah luput dari mataku. Kau cantik. Bahkan ketika matamu sembab gara-gara air mata.
Selepas malam itu, aku memulai hidup dengan kehadiranmu yang sebatas bayang-bayang atau potongan kenangan yang kerap menyeruak sampai membuatku sesak. Asal kau tau, yang merindukanmu bukan hanya aku. Banyak yang menanyakan ke mana kau pergi atau sekedar apa yang terjadi dengan kita. Aku enggan menjawab keduanya. Rasa-rasanya percuma, tidak ada jawaban yang bisa membuatmu kembali dan kita bersama lagi.
Kadang-kadang namamu masih tersebut di dalam doa. Semoga kau bahagia. Semoga tidurmu nyenyak malam ini. Semoga kau masih bisa menikmati kopi di pagi hari. Semoga kau tidak terlampau lelah bekerja. Semoga kau sudah memaafkan aku. Semoga kau selamat sampai di rumah.Â
Semoga, semoga kita bertemu lagi.
Barangkali seharusnya aku lebih hati-hati ketika berdoa.
"Mama! Mama!" seorang gadis kecil dengan girang menunjuk-nunjuk mantel pemberianmu yang masih juga kukenakan saat hujan, seperti hari ini. Ia tersenyum kepadaku, dengan senyuman yang pernah kulihat sebelumnya. Senyuman yang aku percaya, ia dapatkan dari ibunya. Kau.
Hari ini, di stasiun ini, doa sembrono-ku dikabulkan.
Kau cantik. Semakin cantik, bahkan, dengan kacamata yang kini membingkai wajahmu. Dan kau, rupanya masih mengenakan mantel yang sama.
Kau tertegun melihatku, sementara gadis itu - putri kecilmu - menarik-narik ujung mantelmu. "Jaketnya Om sama sama punya Mama!"
Kita sama-sama tersenyum. Mungkin pikiranmu juga sedang menerawang ke suatu sore pada tujuh tahun yang lalu, ketika kau muncul di depan pintu rumahku dengan memegang mantel yang kini kukenakan, sedang kau pun memakai mantel kebesaran yang sekarang membalut tubuhmu itu. "Kamu pakai yang baru saja ya, yang lama buatku. Wangimu sudah menempel di sini, aku telanjur nyaman," ujarmu. Apakah kau masih keras kepala seperti dulu?
"Apa kabar?" kau bertanya.
Aku tertawa kecil. "Kau tentu tahu jawabannya."
Kemudian aku mengalihkan pandanganku pada putri kecilmu, berlutut di hadapannya dan berpesan, "Cantik, jaga mamamu baik-baik."
 Mata Cantik berbinar-binar - persis seperti matamu, dulu. "Om tahu namaku!" serunya. Aku bangkit dan tersenyum hangat padanya. "Tentu saja aku tahu." Seharusnya aku yang pertama kali memelukmu.
Kali ini aku yang lebih dulu berlalu.
Malam itu, lima tahun silam, kita memutuskan untuk saling angkat kaki, menjadi orang asing yang menyimpan rahasia masing-masing. Mungkin baiknya, kau dan aku tetap seperti itu.
Telepon genggam saya berbunyi. Saya angkat tanpa melihat nomor atau nama siapa yang tertera di layarnya.
“Halo?”
“Hei, Mel. Apa kabar?” kata perempuan itu di ujung sana. Entah dimana.
“oh hei, Ndy. Gw yang mestinya nanya lo. Lo baik-baik aja?”
“Gw mah baik-baik aja, Mel. Allah baik kok. Lo yang gw khawatirin. KataNya lo stress ya?”
“pertanyaan lo bodoh deh, Ndy.”
“Mel, gw baik-baik aja kok. Lo harus mikirin diri lo sendiri. Tenang aja. Eh iya, gw dipanggil nih. Baik-baik ya, Mel.”
Perempuan itu menutup teleponnya tanpa memberikan saya kesempatan untuk lanjut bertanya. Sepersekian detik kemudian, saya terbangun dan mendapati percakapan singkat tadi hanyalah mimpi absurd yang saya tidak pernah tahu apakah perempuan itu semata ingin menyapa atau alam bawah sadar saya yang berbicara. Yang saya tahu, mata kembali basah untuk kesekian kalinya.
Saya masih ingat betul setiap detail mimpi itu walaupun umurnya sudah hampir sembilan tahun. Selama itu pula saya masih sering kesulitan menerima fakta kalau saya tidak lagi bisa berbicara dengan perempuan itu dan saya (kembali) sendirian. Sulit karena pada dasarnya saya sudah lupa rasanya sendirian sejak perempuan itu berbisik “there’s no goodbye for us, Mel.” Sayangnya, kalimat itu tidak memperpanjang jatah waktu hidupnya.
*Untuk Windy Maulidya Nazla yang pulang terlalu cepat dan meninggalkan saya sendirian menunggu kiamat.
Inginku selalu pulang ke rumah itu tetapi sayangnya sang pemilik rumah tidak pernah mau membuka pintu. Aku hanya bisa berdiri di depan jendela yang dibiarkannya terbuka sedikit dan melihatnya sedang duduk di kursi kesayangannya, mencoret-coret buku gambarnya sembari menikmati segelas teh chamomile hangat yang daunnya aku kirimkan seminggu yang lalu untuk membiarkannya tahu aku tak pernah pergi jauh. Sayangnya, melihatnya entah untuk ke berapa kalinya juga membuatku teringat kata-katanya dulu, “Kunci rumah ini bukan milikmu.”
Di banyak hari, aku sering berbisik pada akal sehatku sendiri. Mungkin ini bukan rumahmu. Mungkin ini rumah orang lain yang kau doakan jd milikmu, tambahku. Semua pertanyaan itu berakhir percuma karena nyatanya aku masih berdiri di tempat yang sama, tidak kemana-mana.
“Kenapa?” tanya sang pemilik rumah suatu pagi. “kamu tahu kunci rumah ini bukan milikmu dan aku tidak pernah mau membuka pintu. Kenapa kamu menghabiskan sisa waktumu dengan menunggu?”
Aku tersenyum. “Mungkin ini definisi pulangku: berdiam diri di depan jendelamu, berharap hatimu luluh, kemudian membuka pintumu dan membiarkanku membuatkan teh chamomile kesayanganmu.”
Sang pemilik rumah terdiam melihatku tidak bisa berhenti tersenyum. Mungkin dipikirnya angin malam sudah membawa kewarasanku entah kemana. Mungkin ia benar tetapi aku tidak lagi peduli karena yang terpenting adalah aku sudah di rumah.
*untuk seorang laki-laki yang tak pernah bosan menikmati teh chamomilenya.
MALAM PENGUSIRANKU DARI RUMAH: PEMBUNUHAN TAK BERENCANA
Cita-citaku hanya satu: bisa meninggal di rumah. Seandainya ajal dapat dipilih dan dijadwal, maka aku mungkin akan memutuskan untuk mati hari ini. Malam ini. Di sampingmu.
Tidak ada kata yang terucap, tapi kita berdua sama-sama tahu; bahwa setelah aku keluar dari mobilmu, semuanya tidak akan sama lagi. Kita sudah lewat dan selama satu jam tadi aku telah sekarat. Aku akan mati hari ini. Malam ini. Di sampingmu.
“Pulanglah. Sudah ditunggu kan,” pintamu. Kedua tanganmu setia pada kemudi, tak sedikit pun kau melirikku.
Aku menatapmu, bisa jadi untuk kali terakhir. “Asal kau tahu, kau tetap rumahku.”
Kau menelan ludah, menarik napas panjang, melihatku kemudian berkata, “Rumah itu-”
“Ya, ya, aku masih ingat,” aku memotong ucapanmu. Tanganku membuka pintu, kaki kiri seraya berpijak. Aku melangkah keluar, menutup pintu dan berdiri di sisi. Kau menurunkan kaca jendela dan kita bertatapan benar-benar untuk yang terakhir kali. “Aku tidak lupa, kalau rumah kadang ditinggalkan tanpa maksud untuk kembali,” ujarku.
Kau mengangguk. Tak lama, kau melaju dan aku menyaksikan lampu mobilmu sayup-sayup hilang di kejauhan.
Aku mati malam itu, seiring dengan kandasnya cita-citaku untuk mati di sampingmu.