menangis tak ada guna
Selama yang bisa ku ingat, aku belum pernah menangis sebanyak saat aku sedang hamil dibanding saat aku burnout bekerja dulu.
Mungkin ini semua hanya hormon, makanya aku sering menangis. Tapi seringkali karena orang lain.
Apa sih idealnya perempuan yang sedang hamil? Aku rasa perhatian adalah hal paling mendasar. Perhatian tidak perlu berte-tele menanyakan kabar atau memberikan sesuatu. Cukup didengar dan dibersamai di setiap masa sulit adalah hal paling minimumnya.
Aku menulis disini berarti aku sedang tidak mendapatkan hal-hal minimum itu. Alih-alih melanjutkan tesis, aku malah curhat disini. Aku kehilangan ruang untuk bisa bercerita tentang apa yang aku rasakan. Setelah satu-satunya orang yang kupercaya ternyata tidak punya kemampuan untuk bisa memahami dengan hati nuraninya.
Menjalani banyak sekali tuntutan dan tekanan di tanah perantauan seorang diri bukan hal yang mudah untuk seseorang yang sedang mengandung. Kesana kemari aku harus bersusah-susah karena jalan kaki betul-betul menjadi aktifitas yang sangat melelahkan. Resiko membawa sepeda motor pun aku hindari karena sudah tidak kuat mengangkat motor kalau-kalau tidak bisa keluar dari parkiran kampus. Ojek online selalu menjadi pilihan pertama. Meskipun terkadang masih ugal-ugalan, aku tidak punya pilihan karena murah.
AKu tau semua orang sibuk, punya urusan, punya kegiatan. Begitupun Ibu dan Ayah. Aku selalu sangat bersyukur ketika keduanya menelepon untuk menanyakan kabar. Ah..tidak pernah aku mendapatkan perhatian seperti ini. Tapi aku juga sering menangis karena itu. Kenapa? anggap saja 8/10 panggilan tentu tidak benar-benar menanyakan kabarku. Pasti ada urusan lain. Ujung-ujungnya aku menangis juga.
Suami ku? Ah apalagi dia, sampai keriting jari dan mulutku menjelaskan panjang lebar apa yang kualami, apa yang kurasakan, mulai dari kode hingga menyampaikan langsung apa keinginanku....tidak ada respon. Baginya, memberikan sejumlah uang untuk aku bertahan hidup di tanah perantauan sudah cukup. Mungkin bukan tidak pernah bertanya kabar, tapi sangking sangat jarangnya bertanya, aku sampai bisa mengatakan ia tidak pernah peduli denganku disini.
Saat aku tau aku hamil, dia hanya bertahan sekitar 1 bulan kemudian pulang ke kota kami. Alasannya tentu bekerja. Masih bisa ku terima. Aku menjalani trimester pertama dan kedua hampir selalu sendirian. Beberapa minggu ditemani Ibu yang jauh-jauh datang ke Bandung. Kemudian sendirian lagi. Apa yang dilakukan suamiku di kota asal kami? selain bekerja, tentu dia main tennis, main game, dan makan apapun yang dia mau. Apa yang aku lakukan di tanah perantauan? menulis tesis, bertahan hidup, mual, pusing, pegal-pegal.
Aku sungguh merasa hamil sendirian saat ini. Di masa-masa aku membutuhkan dukungan, justru aku tidak mendapatkannya. Bahkan untuk sekadar memijat pun suamiku hanya bisa tahan 1 menit kurang kemudian kembali ke urusannya.
Pernah suatu malam aku menjerit karena kram, dia ternyata sedang main game sampai jam 3 pagi. Aku kram sekitar jam 1 malam. Ia hanya turun, mengecek aku sebentar, tidak sampai 1 menit, lalu kembali main game. Sungguh aku tidak habis pikir.
Satu-satunya yang paling perhatian adalah Ibu dan teman-teman dekatku. Ibu selalu tanya mau dikirim makanan apa supaya aku tidak perlu lelah memasak lauk. Teman-temanku selalu menanyakan aku mau titip makanan apa supaya aku tidak perlu jalan terlalu jauh.
Aku bersyukur ada mereka di saat-saat susah ku.
Aku seringkali menangis ketika suamiku mengabaikan hal-hal kecil yang aku sampaikan. Kemudian melontarkan pertanyaan "Kamu ga bilang" atau "Kamu ga jawab tadi mau apa" yang padahal sudah sering aku ulang apa yang akuu inginkan. Dia memang tidak pandai memperhatikan hal-hal kecil, apalagi yang tidak penting baginya.
Kelak kalau Suamiku baca tulisan ini, entah bagaimana dia menemukannya, aku harap dia sadar bahwa istrinya lebih banyak menangis setelah menikah dengan dia daripada sebelumnya. Namun sayangnya dia tidak pernah sadar. Bahkan ketika belum LDM, dia tidak pernah sadar istrinya sering menangis dalam sholatnya.
Yang bisa aku baca, reaksi pertama dia saat membaca ini adalah...denial. Kemudian dilanjutkan dengan beralasan. Lalu membela diri. Dan ditutup dengan "Ngga ada salah siapa-siapa"
Yah begitulah kehidupan pernikahan seumur jagung ini. Mungkin memang jalan hidupku adalah untuk terus jadi perempuan kuat dan mandiri. Karena siapa yang bisa bantu kalau bukan diri sendiri? Bersandar pada siapa pula? Bahu tuk menangis ku lebih sibuk latihan tennis daripada menyeka air mataku.
jadi, menangis memang tak guna.












