Tak terhitung berapa banyak "seandainya" yang mengudara. Bukan bermaksud tidak menerima garis kehidupan, hanyak saja semua terasa tak nyata. Penyesalan yang menggunung tanpa suara. Dipendam dalam tanpa tahu sesiapa. Biarlah menjadi perih, sesak, dan busuk dalam dada.
Biarlah pula menjadi riuh dan kusut dalam kepala. Tak apa, manusia ini memang sudah sepantasnya mendapatkannya. Yah karma bagi diri yang selalu bermain dengan waktu. Merasa ada 'nanti'. Hingga lupa waktu bisa menghantamnya dengan 'hilang', dimana tak ada 'kembali' seperti yang selalu dipikirnya
Selamat mengenang dua puluh tiga ke dua belas. Untuk si bodoh yang penuh luka.











