Hari ini kebetulan saya lagi iseng mengobrak-abrik rak buku. Entah bagaimana tanganku berhenti pada satu buku dengan guratan judul “Secret Admirer”. Buku yang sudah lama sekali, salah satu buku pemberian dari sahabat.
Dia ini sebenarnya teman main, teman nyontek, teman kerja PR di sekolah dan sekaligus teman bolos jaman sekolah dulu. Oh iya, dia juga yang menemani saya mengintip-intip di jendela kelas orang yang saya suka alias modus-modus saat jam pelajaran, yang akhirnya kita pun lari terbirit-birit saat ditegur sama guru. Lucu juga kalau diingat-ingat.
Melihat buku itu saja sudah membuat saya lagi dan lagi merindukan masa-masa sekolah. Sewaktu kelas 11 semua akhirnya pindah kelas, kebetulan saat itu saya memilih kelas IPS. Semua juga tau lah IPS itu seperti bagaimana. Ketika saya sangat-sangat pendiam, dia adalah orang paling sok asik datang ngobrol sama saya padahal kita tidak pernah saling kenal satu sama lain, alasannya dia sih karena kita dulu satu sekolah jaman SMP jadi harus akrab. And then, saya akhirnya menemukan teman yang cocok untuk seru-seruan di kelas yang baru.
Tidak penting alasan dia memberikan buku itu untuk apa, ya karena sampai sekarang pun saya tidak tau atau yang lebih tepatnya tidak mau tau alasan itu. Saya juga tidak mau berspekulasi kemana-mana. Karena dia pun juga cuma sekedar kasih begitu saja, padahal jelas-jelas itu bukan bukunya dia, malah itu buku kakaknya. Dia pun juga bilang “ambil saja tidak apa-apa, saya yang tanggungjawab” entah dia juga mau menanggung jawabkan apa. Ya sudahlah saya ambil, saya jadikan kenang-kenangan saja dari manusia ini.
Sekarang ini sudah jarang sekali bertukar kabar. Baik itu via WA, IG, terlebih telfon. Sudah sekitar 3 tahun tidak pernah ketemu. Padahal sewaktu masih jaman maba, setelah mama, dia adalah orang yang rajin berkomunikasi dengan saya entah sekedar menanyakan kabar sampai curhat masalah asmara dia dengan dua orang wanita. Tentunya saat itu saya pemegang rahasia terbesar soal lika liku asmaranya, betapa rumit masalah percintaannya dia saat itu.
Terakhir ketemu pas dia lagi main ke Makassar. Rindu sih sama manusia ini. Rindu dalam artian persahabatan. Saya cuma ingin bertukar cerita dan bertukar tawa seperti jaman sekolah dulu. Itu saja.
Hei bro, sepertinya pertemuan kita selanjutnya akan sedikit canggung.
Makassar, 7 September 2019