Ada begitu banyak tumpukan dosa...yang tak pernah selesai untuk di-istighfari.
Ada begitu banyak aliran nikmat dari-Nya...yang mengalir nyata dan teramat jelas dalam diri sendiri yang tak pernah bisa diingkari, dihitung dan didustai.
Ada begitu banyak prasangka, yang sebenarnya hanya terus menambah noda hati.
Ada begitu banyak tutur kata juga tingkah laku...yang sejatinya jika ditelaah lebih jauh hanya sia-sia dan mendzolimi diri sendiri.
Ada begitu banyak tanya perihal takdir...yang sebenarnya diluar kapasitas daya diri untuk mengetahui. Namun terus bertanya-tanya dengan keras kepala, mengapa harus begitu dan begini, tatkala tak sesuai harapan hati. Bukankah lezatnya hikmah yang terselip dalam setiap takdir...hanya akan terasakan oleh hati yang ikhlas dan ridha pada ketentuan Ilahi?
Ilmu ikhlas, tak pernah tuntas dipelajari, ilmu berserah rupanya susah sekali diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ego selayaknya bara api, menyala, membakar diri jika tidak dikalahkan dengan ketundukan pada Ilahi.
Berlalunya waktu, bergantinya masa, kilas baliknya setiap peristiwa serta datang-perginya manusia..terus menerus berusaha mencipta refleksi dalam diri bahwa tak ada yang abadi di bumi ini. Tatkala mata sibuk memperhatikan apa yang dilihatnya melalui dunia dan tatkala hati lena berkaca pada cermin milik orang lain, butalah hati itu untuk melihat keadaan dirinya yang sebenarnya. Hingga lelah terus menerus menghampiri, gelisah menerpa seperti lautan tak bertepi dan sedih serupa mendung yang tak luruh jua menjadi hujan yang mendatangkan pelangi.
Jangan melihat terlalu jauh pada dunia, jangan berharap terlalu besar pada manusia, belajarlah mencukupkan porsi ekspektasi.. pelajari kembali apa tujuan diciptakannya diri. Ketika kau tahu tujuanmu, kau pun akan tahu rintanganmu. Tujuanmu begitu besar dihadirkan di bumi dan rintanganmu pun akan begitu sukar untuk dilalui. Sejalan, selangkah, setujuan, pada jalan kebenaran yang sunyi.
Rumah, 8 November 2022 13.05 wita