Rekaman suara lapangan ini dibuat pada bulan Agustus 2018 di Temon, Kulon Progo, Yogyakarta. Saya berjalan dengan membawa alat perekam dari portal paling barat ke arah timur. Berawal dari wilayah pemukiman warga Sidorejo dengan musik dangdut serta suara burung, saya berjalan menuju wilayah di mana bandara Yogyakarta International Airport sedang dibangun. Angin pesisir selatan berhembus kencang disertai dengan suara pasak besi yang menggema. Tubuh saya memasuki kekosongan namun ingatan saya menyadarkan bahwa kondisi kosong ini diciptakan dengan kekerasan dan meninggalkan luka di kehidupan banyak orang. Wilayah ini sebelumnya riuh dengan kehidupan yang berlangsung di kebun, masjid, sekolah, dan rumah milik banyak keluarga.
Atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, wilayah ini dikosongkan dengan paksa oleh orang-orang berseragam. Kekosongan ini adalah monumen atas hilangnya kehidupan. Mereka yang berusaha mengubur luka, akan berkata bahwa kekosongan ini hanya sementara karena sebentar lagi deru mesin pesawat, knalpot kendaraan, dan lalu lalang turis. Namun saya percaya jika kita mendengar dengan lebih seksama, suara-suara kehidupan yang pernah ada di Temon akan lamat-lamat terdengar dan menghantui masa depan kita. (Anonim)