Semoga dihadiahkan padamu ketenangan
Tentu saja setiap orang ingin sekali berbahagia. Lalu menjadikan bahagia sebagai tujuan hidup dan mengejar sekuatnya. Dulu waktu kecil, definisi bahagia yang kudambakan adalah saat nanti tumbuh dewasa bisa bersekolah di SMA favorit, sepertinya akan begitu membahagiakan. Mendapat banyak pujian, dihormati banyak orang dan tentu saja mendapat banyak teman. Setelah mendapatkannya tentu saja begitu berbahagia. Tapi ternyata kebahagiaan itu sementara.
Setelah benar-benar tumbuh dewasa. Menjalani banyak kisah hidup, banyak sekali definisi tentang kebahagian berubah. Melihat teman-teman yang sudah mapan, sahabat yang sudah memiliki pasangan hingga tetangga yang baru saja dianugrahi kekuasaan. Sepertinya hidup mereka begitu menyenangkan. Hingga berpikir, inilah jalan yang seharusnya dipilih. Padahal mungkin saja setelah mendapatkannya, akan menjadi hal yang biasa saja.
Jadi berpikir ulang, apakah nanti setelah mendapatkan semuanya, hidup akan begitu menyenangkan? Lalu kenapa banyak sekali mereka yang harta saja mengejarnya, justru gundah gulana menjadi temannya setiap masa. Mereka yang mempunyai paras yang rupawan, namun ditengah jalan ditinggalkan. Atau justru mereka yang hidupnya sederhana, namun justru ketentraman didalam hatinya.
Aku tau sekarang apa masalahnya. Setiap orang berlomba-lomba mengejar kesenangan untuk bisa bahagia. Padahal seharusnya ketenangan yang dikejar untuk lebih bahagia. Memiliki harta seluas semesta memang sangat menyenangkan, namun tidak menjadikan ketenangan karnanya, lalu buat apa? Memiliki pasangan yang rupawan memang menyenangkan, namun jika tidak memberikan ketenangan, buat apa pula.
Puncak tertinggi dari pencapaian hidup itu ketenangan, bukan kesenangan. Mereka-mereka yang telah mencapai puncak ketenangan pasti akan menemukan sendiri kebahagian. Namun mereka yang mengejar kebahagiaan, belum tentu akan memperoleh ketenangan. Jadi sebenarnya kebahagiaan itu bonus, utamanya yang lebih baik di kejar adalah ketenangan. Lalu bagaimana mendapatkannya? Tak usah begitu khawatir tentang dunia, yang menjadi hak kita akan dengan sendirinya datang, yang bukan hak kita akan sendirinya pergi. Tak usah diperumit lagi.