Hati-hati dengan hati agar tidak ada penyakit hati
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Sweet Seals For You, Always

⁂
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
hello vonnie
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

izzy's playlists!
taylor price

★
occasionally subtle
Cosmic Funnies

JBB: An Artblog!
d e v o n
cherry valley forever
trying on a metaphor
$LAYYYTER

if i look back, i am lost

titsay
Alisa U Zemlji Chuda

seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye

seen from Malaysia
seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Argentina

seen from Azerbaijan
seen from Brazil
seen from Azerbaijan

seen from Türkiye
seen from United States

seen from United States

seen from Switzerland
@slwnabila
Hati-hati dengan hati agar tidak ada penyakit hati
Demi Raga Yang Lain... mungkin hanya beberapa yang mengerti bagaimana rasanya tiap kata dalam video ini. Banyak sekali cerita-cerita dari tenaga medis yang karena “panggilan jiwanya” harus memilih antara keluarganya atau keluarga “orang lain”, Banyak dari mereka yang harus memilih antara senyum tenang istri/suami dan anak-anaknya, atau melihat senyum dari lepasnya khawatir keluarga pasien karena orang yang mereka cintai sudah diusahakan tertangani oleh mereka.
mereka harus memilih dari dua yang tidak bisa dipilih.
hingga akhirnya aku sadar, sebelum memutuskan untuk berjuang hingga akhir di dunia “kesehatan”, kita harus paham, bahwa pekerjaan ini bukan hanya pekerjaan antara diri dengan sebuah instansi, tapi ini adalah pekerjaan untuk sebuah keabadian. Kata siapa ketika dia sudah dapat gelar dokter dia akan bisa duduk santai santai, menunggu pasien dan dapat uang?
seringkali saat kami dulu masih menata-nata diri di perkuliahan tingkat 1 dan 2 ini, dokter-dokter kami banyak yang mengingatkan “buat apa kalian ada di kedokteran? kalau tujuan kalian hanya untuk dapat uang, silahkan fikirkan kembali. karena, jika hanya uang sebagai tujuan, kalian belum ada apa-apanya” beberapa dokter juga mengatakan “sekarang gimana setelah masuk kedokteran? berat? ini belum ada apa-apanya dek. Jadi mumpung masih semester awal, kalau ada yang gak mau atau masih bertanya-tanya untuk apa aku disini, silahkan bilang ke orang tua, untuk pindah jurusan”
Aku menghela nafas. Mulai makin mengerti maksud dokter-dokter tersebut adalah tentang hari ini. Pandemi covid-19
sesekali teringat beberapa dokter, walaupun pada saat sebelum adanya “pandemi covid 19″ ini, mereka juga sangat berlomba dengan putaran waktu. Selain sibuk dengan pasien, ada yang sibuk dengan penelitian untuk ilmu-ilmu baru kedokteran, lalu tetap harus mengajar anak didiknya kembali di dunia perkuliahan. Terkadang kami yang sebagai mahasiswa masih aja khilaf mengeluh jika kita sudah datang dan menunggu lama, ternyata kuliah harus dibatalkan tersebab dokternya sedang ada urusan lain misalnya. Ah, kita.
Dokter kami ada yang bercerita waktu itu, ketika itu hari weekend, beliau dengan anak dan istrinya liburan dan jalan-jalan - makan bersama. di tengah situasi senang itu, tiba-tiba telfon genggam dokter tersebut berdering, ternyata ada pasien emergency yang harus segera di operasi. Dokter izin kepada istrinya untuk meninggalkannya karena harus ke rumah sakit, untung saja, istrinya begitu faham dan pengertian, ia mengangguk dan tersenyum menandakan ia baik-baik saja. Istri dan anaknya pun pulang dengan gojek ke rumahnya, sedangkan dokter tersebut harus pergi ke rumah sakit segera.
apakabar jika dokter itu adalah kita dan masih meninggikan keegoisan diri manusia?
banyak sekali cerita lain yang tak kalah mengharukan. lagi-lagi ini tentang memilih dalam dua pilihan yang tidak bisa dipilih.
Ini hari ke-8 setelah statement #14haridirumahaja dari pemerintah pusat. Banyak yang mengharukan terkait bagaimana kabar tenaga medis di kota-kota yang menangani pandemi ini, bagaimana mereka yang kekurangan APD tapi tetap harus berjuang menyelamatkan sebuah nyawa, bagaimana kemudian mereka harus menahan rindu untuk tidak bertemu keluarga mereka.
Ini juga hari ke-8 kami kuliah secara online, baik itu tutorial, skill lab, praktikum dan sebagainya. Yang membuat aku begitu mengerti bahwa ini adalah sebuah pekerjaan keabadian, walaupun mereka harus tetap berjuang di rumah sakit, tapi mereka juga tetap meluangkan waktu untuk kami, penerus mereka nantinya. setiap di akhir pembelajaran online, hampir semua dokter memberikan nasihat dan doa pada kami.
(1)
(2)
(3)
(4)
mungkin ini hanya 4 dari sekian banyak kekhawatiran berselimut doa dari dokter-dokter kami. aku sendiri melihat nasihat dari dokter kami sangat merasa apa ya. aku juga gak bisa mendeklarasikan bagaimana rasanya. Mereka masih saja sempat-sempatnya untuk bilang “hati-hati ya, jaga kesehatan, jaga diri ya”
Aku ingat, waktu itu lagi belajar tentang apa ya, imun kalau gak salah. terus salah seornag dokter bilang :
“kita memang bertugas untuk mengobati pasien, edukasi pasien harus sehat, dan sebagainya. tapi, yang harus dipahami adalah: diantara semua manusia, yang paling rentan terpapar penyakit,virus, bakteri dan yang lainnya itu adalah seorang dokter itu sendiri”
apalagi yang kita cari?
ada. kita dekati Sang Pencipta penyakitnya. kita dekati sang pencipta virus dan bakterinya. hanya itu kuncinya. kunci pekerjaan untuk sebuah keabadian :’
jadi tolong...
tolong taat dan patuh sama apa yang disuruh sama pemerintah atau tenaga medis, minimal untuk masa ini, masa pandemi ini, kalau memang tidak mau selalu menurut.
tolong di rumah saja, keluar jika perlu. kalaupun keluar, harus tetap tenang tapi waspada misalnya pakai APD yang semestinya seperti masker dan handsanitizer atau bawa sabun cadangan. Jangan pula membebani tenaga medis dengan menimbun gloves atau sarung tangan bedah karena kekhawatiran kalian. Kita belajar jadi manusia yang bukan cuma memikirkan bagaimana kita, tapi juga bagaimana orang lain.
Aku tau kamu mungkin banyak uang, sampai kamu bisa saja beli sarung tangan dan masker bedah se mobil truk, tapi jangan lupa kalau kamu juga perlu jadi manusia dengan kamu memikirkan bagaimana tenaga medis yang bukan hanya berjuang untuk covid 19 dan kesehatan kamu saja kalau kamu sakit nanti, tapi masih ada ibu hamil yang uangnya gak sebanyak kamu yang mungkin harus operasi sesar, ada pasien yang harus di operasi penyakit lainnya, ada pasien yang harus di pasang infus, ada pasien yang harus digantikan kateter nya hanya untuk bisa buang air kecil dan semua itu butuh masker dan sarung tangan bedah itu.
sekali lagi, kita harus belajar jadi manusia.
stay safe everyone.
Tentang 2020
hari ini tepat hari ke delapan belas, tahun 2020 telah menyapa semua manusia di bumi ini, menawarkan segala resolusi kehidupan yang lebih baik kedepannya, untuk hidup, pekerjaan, karir, pendidikan dan beberapa orang ada yang mencantumkan rumah tangga dalam daftar resolusi impiannya.
aku ditemani sebuah kopi herbal panas kesukaanku, duduk di ruang tamu rumahku, dengan kipas dan audio qur’an yang menyala. hening. suasana dengan hirup udara yang aku rindukan sejak 5 bulan yang lalu.
aku menulis sebuah tulisan yang memang tidak ada skenarionya, benar-benar dari hati, hasil rehat sebentar dari cicilan tugas kuliahku.
tentang resolusi 2020.
yang kurasakan, aku tidak seantusias itu menuliskan resolusi awal tahunan seperti tahun-tahun sebelumnya. dulu, aku termasuk orang yang tak pernah absen merangkai segala mimpiku dalam resolusi tahunan di sebuah kertas kecil, di buku harian. hampir tiap tahun, dengan semangatnya aku akan memulai hariku, dengan mimpi mimpi baruku. tapi, aku tidak menemukannya hari ini.
setelah melewatkan tahun 2019 yang cukup menarik menurutku, banyak hal yang aku pelajari dari hidup ini, pun termasuk sebuah mimpi dan resolusi.
gagal? ada yang gagal, ada yang tidak tercapai, ada yang bahkan hasilnya diluar ekspektasi nyatanya lebih memuaskan. tapi, ada juga yang menghilang.
hingga akhirnya, entah karena umur yang memang semakin tua, atau bagaimana. aku merasa, tidak ada resolusi yang benar-benar memuaskan hati. Pendidikan? Karir? atau apalagi?
ya, tidak ada resolusi yang benar-benar memuaskan hati, jika kita silap atau salah menempatkan niat. iya, ini bukan tentang hasilnya, tapi tentang niat dan prosesnya.
Resolusi 2020 : Terapi diri sendiri.
ini resolusi yang paling tepat untuk kita yang mungkin telah melewatkan banyak hal yang menurut diri ini berat dari biasanya. menuntut diri ini untuk mendobrak kenyamanan diri.
tidak usah terlalu muluk ingin ini itu, mencapai ini itu, mendapatkan ini itu yang besar, yang nyata hasilnya, yang bisa jadi achievement diri dibanggakan sana sini. Tapi kita lupa untuk terapi diri sendiri.
Terapi diri sendiri yang dimaksud misalnya,
pertama : kamu mungkin harus lebih tepat waktu dan memberikan lebih banyak persiapan untuk sebuah kegiatan apapun itu, baik untuk masalah sekolah atau lainnya, untuk menghindari rasa tertekan dan rasa bersalahmu pada diri sendiri.
kedua : kamu mungkin harus berusaha untuk makan yang sehat, olahraga teratur, minum yang banyak, makan buah, batasi penggunaan gadgetmu untuk menghindari stress yang kamu tidak sadari.
ketiga : setiap selesai satu harinya, mungkin sebelum tidur, kamu bisa mengapresiasi diri mu sendiri, berterimakasih karena sudah melewatkan hari ini dengan baik. Jika ada yang kurang maksimal, kamu harus bisa memaafkan diri mu sendiri.
keempat : Kamu mungkin harus bisa menyadari bahwa tidak semua orang bisa kita bahagiakan, kamu tidak perlu memaksakan dirimu sendiri.
dan yang paling utama, kamu mungkin harus mengambil kembali cinta Sang Maha Pemilik Skenario Hidup ini. Rayu Ia dengan doa terbaikmu dalam tiap sujudmu, yang mungkin tahun lalu kamu terlalu sibuk dengan hal lain, terlalu sibuk mengurusi orang lain, hingga waktumu bersamanya sedikit. dan kamu tidak bisa memungkiri itu.
terapi diri sendiri ini juga kamu tidak bisa menyamakan kamu dengan yang lainnya. tidak perlu sama terapinya. tidak perlu di dikte orang. kamu hanya butuh evaluasi diri sendiri, tanyakan pada diri sendiri, lihat kembali riwayat hidup kita selama tahun-tahun kemarin, lalu kamu mendiagnosis dirimu sendiri. setelah itu, kamu yang hanya bisa melakukan terapi apa yang terbaik.
ya, terapi diri sendiri yang sangat penting. Kamu tidak perlu terus-terusan memikirkan orang lain, tapi kamu sendiri lupa kalau kamu belum makan 3kali hari ini. kamu terlalu banyak memikirkan orang lain, kenapa begini dan begitu, mencari solusi sana sini, tapi kamu sendiri lupa kalau kamu belum minum minimal 8 gelas sehari. se-simpel itu pun nyatanya tidak bisa saling meniadakan satu sama lain.
eit, terapi diri sendiri ini bukan berarti kamu menghentikan semua sikapmu pada orang lain, lalu beranggapan “sorry, aku lagi terapi diri sendiri. tidak bisa diganggu” bukan.
tapi, kamu tetap menjadi bagian yang terbaik dari dirimu untuk orang lain, dan kamu harus juga memikirkan dirimu, itu point nya. sesekali niat “menyehatkan diri” harus ada dalam sebuah resolusi.
minimal, resolusi tahun ini, kamu bisa apresiasi dirimu, lakukan semua hal kecil sebaik mungkin, lalu berterimakasih untuk segala hal yang kamu lakukan untuk dirimu.
kalau bukan kamu yang mengapresiasi dirimu sendiri, kamu mau minta dari siapa? sedangkan orang lain pun sibuk dengan dirinya masing-masing.
jangan lupa untuk juga menyehatkan diri ini.
Metro, Lampung ; 18 Januari 2020.
setahun lalu
udah sangat lama saya gak nulis lagi disini, karena kemarin pindah haluan ke platform lain blog**r, sampai akhirnya rindu juga nulis disini.
---
udah hampir satu tahun, nulisnya gak benar-benar pakai sajak yang rapi. Tapi gak masalah, standarisasi masing-masing orang berbeda. dan kita gak bisa menyamakan satu sama lain. Karena semua tulisan punya rasa yang berbeda dan ketenangan yang berbeda pula.
yap, ini tentang satu tahun kemarin. Kamu tau kalau seseorang udah lama pergi dari teman lamanya, terus tiba-tiba kembali, pasti rasanya pengen kasih tau semua yang ada dalam diri dia jadi sebuah resume tahunan kan? Nah, ini yang mungkin sedang ada dalam diri ini.
kita baru bisa menamakan itu cinta, kalau udah jalan bersama, merajut kisah bersama, sampai akhirnya kenangan yang membuat dia tau itu namanya cinta. benar?
sama seperti halnya hidup, kita tau skenario apa yang Allah siapkan pada kita, ketika kita benar-benar sudah melewati waktu dan takdir itu sampai akhir. Allah tidak memberi kisi-kisi tentang skenarioNya untuk hidup kita. Jika semua manusia tau kisi-kisinya, mungkin tak akan ada yang namanya hikmah dan pembelajaran, karena semua takdir berjalan sesuai dengan hati dan ia bisa melewati itu agar mendapat takdir terbaik.
Nyatanya, Allah lebih hebat. Sesekali Ia tepuk pundak hambaNya yang mungkin sudah terlalu jauh berbelok dari jalanNya, Sesekali Ia memeluk hangat hambaNya yang tidak bisa memeluk dirinya sendiri. Sesekali Ia ketuk pintu hati hambaNya yang mungkin terlalu keras karena urusan dunia.
Sesekali...
sesekali yang akan selalu mengerti tentang keadaan terbaik hambaNya.
ah namanya manusia, sudah di kasih sinyal tapi kadang tidak peka. Kamu terlalu sibuk dengan urusanmu, padahal Tuhanmu sedang memberikan sinyal untukmu kembali padaNya, kamu terlalu sibuk, katamu.
Sampai akhirnya, kamu akan sadar sendirinya, bahwa benar adanya, jika kamu mengejar dunia, sebesar apapun usahamu, kamu akan lelah. Karena yang kamu kejar akan terus lari berotasi tanpa henti.
namun, jika kamu dekati dan bergantung pada Sang Pemilik Dunia, Yang Maha Besar melebihi dunia, maka tidak ada hal yang tidak mungkin, Dunia akan berevolusi mengikutimu. seperti Bumi yang memutari Matahari. Kamu akan lebih tenang.
---
Bukan, bukan itu yang mau saya sampaikan.
Setahun lalu, kata-kata yang selalu hadir setiap harinya dalam fikiran dan hati ini, kita sebut sebagai kata-kata dari saya dewasa pada saya hari ini dan kemarin adalah : “It’s okay baby, It’s okay. Kamu udah berusaha”
Berusaha bertahan,
Berusaha kasih yang terbaik,
Berusaha melapangkan hati,
Berusaha...
Tapi ada hal yang mungkin seringkali saya lupakan, kamu memang sudah berusaha, tapi kamu lupa satu hal.
saya lupa bahwa hati semua manusia itu punya Allah. Dan kita tidak berkuasa untuk meluluhkan hati yang sedikit tidak lunak, menata kembali hati yang tumbang, dan menumbuhkan jaringan-jaringan baru pada hati yang koyak dan pecah.
tidak apa-apa, adik kecil. kamu masih belajar. It’s okay, baby.
Mendiagnosis diri sendiri
Atau, kamu diam dulu untuk sesaat.
Lalu kamu pergi, dan biarkan semesta tanpamu beberapa detik.
Agar hatimu tenang, yang terpenting jangan lama, dan jangan lupa pulang
Kamu cuma butuh melapangkan hati lebih lapang lagi,
Dan menanam kesabaran lebih dalam lagi.
Nak, nanti ada satu titik dimana kamu akan merasakan suatu hal yang kamu pun masih menerka bagaimana definisi rasanya. Dan cuma kamu yang punya maknanya.
Bilangin sama Milea, Dilan mungkin salah...
Sebenarnya yang berat bukan rindunya. Tapi, konsekuensinya.
Ya, konsekuensi dari menahan rindu karena sebuah jarak dan dimensi waktu.
Coba saja!:)
Aku melihat seseorang, ia memiliki beban yang sangat dalam, keletihan yg luar biasa. Kemudian ketika itu ada suatu hal yang membuatnya ingin marah. Hampir saja. Ia diam, menghela nafas, kemudian beristighfar. Dan, ia berusaha untuk kembali seperti biasa
Jangankan mengenalmu, untuk sekedar merindukanmu saja aku begitu takut. Khawatir Allah cabut rasa ini. Karena Allah cemburu atas kelalaian hati menempatkan siapa yang harusnya berada di posisi tertinggi
Kemarin. 24-25 Mei 2017 Waktu yang bergulir setiap detiknya Hanya saja, terkadang terbayang problematika dunia ini. Mengalir begitu saja dalam memori kesendirian saat ini. Akankah kita sekuat kemarin?