Berapa kali dalam sehari kita baca? Banyak dan tak perlu dihitung. Tapi apakah kita mempertimbangkan nilai bacaannya? Belum tentu.
Tulisan banyak sekali di internet dan mungkin sudah menjadi kebiasaan sebagian kita, bangun tidur lekas buka handphone dan mengakses internet. Entah media chatting sehari-hari atau sekedar buka timeline, kita lihat dan baca. Kita membaca hampir setiap waktu.
Berapa banyak bacaan? Banyak sekali. Mungkin sebulan bisa seribu halaman ukuran buku standar. Tapi terasakah perubahan? Belum tentu. Berkembangkah kita dengan bacaan yg selama ini kita baca? Adakah sesuatu yg benar-benar baru dan segar kita dapatkan? Ah, lebih sering biasa saja dan tak ada manfaat segarnya.
Bayangkan kalau yg kita baca setiap hari adalah sesuatu yg sama sekali baru dan memberi manfaat yg menyergarkan? Pasti kita akan mudah mengetahui dan mengerti, serta akan cepat pertumbuhan kita.
Tapi sayang terlalu banyak bacaan bahkan buku yg isinya hanya kajian-kajian jaman dulu, bahkan banyak yg isinya semua orang sudah tahu. Lebih menyedihkan adalah bahasan-bahasan tentang roman picisan.
Aku lihat banyak tulisan yg biasa saja tapi banyak mendapat respons berlebihan. Juga mungkin banyak film-film yg biasa dan begitu-begitu saja tapi orang tak bosan-bosan mengikutinya. Kenapa? Apakah karena ramai dibicarakan lantas kita mengiyakan, ikut-ikutan?
Terlalu banyak orang yg memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yg sebenarnya kurang mereka kuasai dan gemari. Kalau ini terus terjadi, apa yg akan dialami oleh generasi muda di kemudian hari? Akan menjadi bodohkah mereka? Atau menjadi produk lama saja? Yang kebetulan dikemas bungkus baru? Entahlah.
Kita sudah tinggal di negara yg serba meniru teknologi, kreatifitas pun kita meniru. Bahkan selera dan minat saja, kita meniru. Lalu kapan kita akan mandiri? Apakah akan selamanya kita menjadi produk tiruan?
Kalau saja kita mau sedikit saja menjadikan diri kita ini mandiri, setidaknya dalam berpikir saja, bukankah dampaknya jauh lebih baik? Cobalah sedikit saja kita tidak melulu ikut-ikutan, tidak selalu meniru buatan, tidak terus-terusan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Dengan melahirkan kepercayaan diri, mencari tahu minat dan keahlian sendiri, kemudian memantapkan diri untuk mengembangkannya, pastilah bangsa ini menjadi hebat dalam hitungan kejap saja.
Lalu mengenai kebiasaan membaca. Pernahkah kita berpikir bahwa dengan membaca kita bisa mengetahui banyak hal? Lagipula tulisan dalam buku-buku (pertimbangkan penulisnya) banyak yang membahas mengenai masalah-masalah yang amat serius dan dibutuhkan oleh setiap individu. Kita lebih memilih mengumpulkan pengalaman-pengalaman yang tidak penting ketimbang belajar dari pengalaman orang-orang hebat melalui buku-buku.
Banyak sekali ilmuan yang menulis pemikiran-pemikiran terbaiknya ke dalam buku. Banyak bahkan yang mendedikasikan seluruh hidupnya hanya untuk menulis buku. Tetapi kita yang hanya tinggal membaca saja kita malas? Aduh, kita hanya tinggal membaca. Bayangkan betapa penulis menghabiskan banyak waktu untuk memperbaiki tulisan-tulisannya agar pembaca dapat lebih mudah mengerti, berapa banyak penulis-penulis jaman dulu menghabiskan tinta dan kertas hanya untuk menyampaikan pemikiran terbaiknya? Kita hanya tinggal baca. Mereka meneliti, menganalisa, merevisi, lalu meneliti kembali, lalu memeriksa dan menulisnya kembali. Mereka pusing bukan main. Sedangkan kita, hanya perlu membacanya. Alangkah meruginya kita kalau hanya malas menjadi alasan. Hidup terlalu singkat tanpa mengetahui sesuatu yang seharusnya kita ketahui. Bukankah hidup perlu ilmunya?