After the rain has gone, only greatness will remainÂ
Keni
Alisa U Zemlji Chuda
taylor price
will byers stan first human second
Cosimo Galluzzi

Discoholic 🪩
DEAR READER
we're not kids anymore.
RMH
wallacepolsom
TVSTRANGERTHINGS
No title available
Peter Solarz
Claire Keane

JVL
dirt enthusiast
tumblr dot com
Not today Justin
$LAYYYTER

祝日 / Permanent Vacation

seen from United States
seen from United States
seen from TĂĽrkiye
seen from Saudi Arabia
seen from Lithuania
seen from United States
seen from United States

seen from Sweden

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Egypt

seen from Netherlands

seen from United States

seen from TĂĽrkiye

seen from United States
seen from TĂĽrkiye

seen from Malaysia
@sorgiom
After the rain has gone, only greatness will remainÂ
..to turn your frown upside down
ink on paperÂ
2012
Lullaby for little worshippers
If you're happy and you know it...
Main Yuk!
A final project
Spilled ink #1
Vague.
SUEDE, Jakarta, dan Gratisan
Berita Suede yang bakal dateng ke Jakarta untuk kedua kalinya bikin saya excited pada awalnya. Tapi setelah denger informasi tiket yang simpang siur, saya gak jadi berekspektasi sama konser ini. Tapi kalo kata pepatah, rejeki gak kemana. Sahabat saya yang iseng-iseng ikutan kuis via @ismayaLive berhasil menangin dua tiket sekaligus, akhirnya yang satu dihibahin untuk saya. Ah, sujudsukur! Di hari-H, saya dan teman-teman saya berniat mencuri posisi di lini depan, jadi kami pun masuk venue jam 8. Shontelle (kalo kata Adyth “Disasterhead”, Sepeda Onthel) sedang memainkan lagu terkahir dan dilanjutkan dengan Taio Cruz. Sesudah Taio Cruz turun, crowd basian performer sebelumnya pada ogah meninggalkan stage. Yang lebih sialnya, saya berdiri di belakang orang berpostur tinggi besar. Kalo udah begini cuma bisa pasrah dan jinjit. Yah, nasib berpostur pendek memang tidak menguntungkan untuk hal-hal seperti ini. Tiba-tiba ada seorang mbaksis yang menyuruh saya pindah tempat di depannya. Bagaikan mendapat mukjizat, I can see right through the stage, clearly! Whoever you are, thank you very much. Ini adalah visibility panggung terbaik yang pernah saya rasakan. Setelah menunggu selama 1 jam, akhirnya Suede naik panggung tepat pukul 22.00, ini berarti 20 menit lebih cepat dari yang tertera di jadwal. This Hollywood Life dimainkan sebagai pembuka. Lagu kedua adalah She , kemudian Trash yang membuat crowd semakin pecah dengan singalong dan berjingkrak. Dilanjutkan dengan Animal Nitrate dan We Are The Pigs, By The Sea, Electricity, Killing of The Flashboy, Can’t Get Enough dan Everything Will Flow. Kemudian dua track favorit saya dimainkan berurutan: So Young dan Metal Mickey. Performa Brett, Neil, Simon, Richard, dan Mat masih sangat prima. Penonton pun dimanja secara audio dan visual. Ya, apalagi kalau bukan karena gerakan tubuh Brett yang flamboyan nan seksi. Yang paling saya ingat ketika Brett memutar-mutar tali microphone, kemudian “menangkap” dengan badannya sendiri. I have no word to describe it… Fiuh. Lagu selanjutnya adalah The Wild Ones. Brett pun langsung ambil posisi sambil duduk di bibir panggung. Saya curiga kalau penonton di lini terdepan masih dikuasai oleh fangirlsnya 2PM. Huhu. Beautiful Ones yang menjadi “penutup” sebelum encore, membuat crowd pecah untuk kesekian kalinya. Walaupun Brett berkata “It’s going to be the last song for tonight” sebelum masuk ke intro Beautiful Ones, penonton tidak ragu-ragu mengumandangkan koor "we want more". Ketika Suede memasuki panggung untuk kedua kalinya, terciptalah riuh rendah penonton menyambut encore. Dua lagu yang menjadi penutup konser ciamik ini adalah Lazy dan Saturday Night. Repertoar 19 lagu yang dimainkan sangat malam itu sangat memuaskan. Kalau mendengar cerita dari yang sudah menonton konser mereka tahun 2003 silam, tahun ini Suede tampil lebih maksimal. Terlepas dari kendala mendapatkan tiket sehingga menimbulkan kecaman dari mereka yang ngebet sekali ingin nonton - tapi tidak berkesempatan mendapat tiket, this concert was totally off the hook! Credits to: Eci, Innes, Rahmi, Jojo, Reno, dan Adyth.
salah satu proses pendewasaan diri adalah menyadari bahwa alamat email Anda terdengar labil dan tidak pro
Beside Lightning Seeds, Playground sucks
Budaya ngaret yang mendarah daging di masyarakat membuat saya menjadi orang yang percaya pada rundown acara. 2 Oktober siang hari, saya mencek jadwal main Lightning Seeds di Playground Festival yang akan berlangsung hari itu juga. Disitu tertulis Seeds main jam 7:30, saya pikir ah paling ngaret 3 jam-an. Makanya saya santai aja diajak Satria Ramadhan dan Anis Suryo belanja batik di Blok M, lalu ke resepsi pernikahan teman mereka sebelum merapat ke venue di Lapangan D Senayan. Di resepsi itu kami makan enak. Sampai pada giliran mengantri wafel (iya, wafel), Satria nyeletuk “Eh gimana kalo tau-taunya Seeds udah main”. Deg, bener juga ya. Untungnya  dia langsung mengkoling rekannya yang udah di venue. Benar saja, katanya Ian Broudie dkk udah dipanggung. Kami melupakan wafel, dan langsung tancap gas ke parkiran (dan ke venue tentunya).
 Pukul 8.15 sampai di arena, saya langsung buru-buru ke loket penukaran tiket pre-sale. Dang, antriannya panjang, dan sempat ada cekcok antara audiens dan panitia. Jadilah saya mengantri dalam kesemrawutan. Kegalauan saya bertambah ketika meninggalkan antrian untuk mencoba masuk dengan gelang pink sebagai bukti guestlist. Tapi hari itu kami sedang sial, gelang sakti tersebut ditolak karena hanya bisa valid sampai jam 8 saja. Fiuh, akhirnya saya kembali ke antrian chaos tadi, sambil diiringi sayup-sayup lagu Flaming Sword. Untungnya, kali ini lebih cepat prosesnya. Saat tiket sudah ditangan, saya langsung bergegas masuk.
 Kali itu lagu Change sedang dimainkan, belakangan saya tau kalau itu lagu kelima pada malam itu. Dilanjutkan dengan Marvellous, Three Lions (yang membuat crowd pecah!), Imaginary Friends, Ready Or Not, Life of Riley, Sugar Coated Iceberg dan penutup yang sempurna, Pure. Ian Broudie dan lainnya tidak banyak omong, cenderung memainkan lagu-lagunya nonstop hampir tanpa jeda. Ternyata mereka sudah diburu flight untuk pulang ke Liverpool. Jadi semuanya terkesan serba terburu-buru. Ditambah lagi karena tidak ada encore, padahal penonton sudah ngarep dan pede kalo mereka akan balik lagi ke panggung. Jadilah, penampilan Lightning Seeds terasa begitu cepat berlalu. Tapi tidak kecewa, karena saya bisa singalong di semua lagu. Ditambah waktu itu saya bisa dibilang menonton seorang diri, jadi bisa lebih lepas mengekspresikan euforia yang saya rasakan. Haha. Taulah apa maksudnya.
 Crowd (indis) pun bubar, saya langsung menghubungi teman-teman yang memang terpisah dari awal. Ternyata ada kabar yang tidak mengenakan. Ada beberapa teman yang tidak bisa masuk karena guestlistnya yang tidak valid lagi. Panitianya, they suck a big time! Tidak ada pemberitahuan sebelumnya bahwa guestlist hanya berlaku sampai pukul 8 saja.
Bukan hanya teman-teman saya saja yang tidak masuk, pasti ada puluhan audiens lainnya yang datang khusus untuk menonton Lightning Seeds tapi nasipnya dihalangi barikade security yang sedang menjalankan tugasnya. Selain itu pelayanan ticketing presale juga tidak efektif, dengan mengeluarkan kebijakan tanda bukti pembayaran hanya bisa ditukar saat hari-H. Sangat buang-buang waktu!  Â
Waktu saya dan rombongan pulang, crowd Playground “sesungguhnya” baru bermunculan. Masih ada Crystal Waters, Mylo, Steve Aoki dan dije-dije lain yang saya tidak tau namanya. Tidak bisa dibayangkan bagaimana reaksi para wanita-wanita cantik berbaju kurang bahan dan sepatu berhak waktu menapakkan kakinya ke lapangan luas yang becek itu. Hehe.
 Berdasarkan kesan-kesan yang didapatkan malam itu, dengan tidak sungkan saya menyatakan kapok pergi ke Playground (ini adalah Playground kedua yang saya datangi, pertama tahun 2006) karena kinerja panitianya yang parah, terutama bagian ticketing. Semoga mereka bisa belajar dari peristiwa mengecewakan malam itu.
ps: Mark Cobrasnake said to me: “Can I take your picture?". Ahey
The man, Ian Broudie
Lightning Seeds
oleh-oleh becekan dari venue
Yang punya setlist ini cuma 2 orang di Indonesia. Haha
Dua foto teratas milik Satria Ramadhan, baca juga tulisannya disini http://satriaramadhan.multiply.com/photos/album/199/The_Lightning_Seeds_Pure_and_Simple_Everytime
(Tiavita Herdiana) 3 Oktober 2010 Untuk teman-teman yang telat atau kelewatan nonton Lightning Seeds "Don't sell the dreams you should be keeping, pure and simple everytime"
Jajanan
Sudah dua bulan ini saya magang di Provoke! Magazine. Beruntunglah saya dapat tempat magang yang jam kerjanya lumayan fleksible. Saya biasanya sampai di kantor pukul 13.00, tentunya saya menyempatkan untuk makan dulu di rumah. Biar lebih hemat dan praktis, hehe. Kalau jam sudah menunjukan pukul 15.00, biasanya timbul hasrat untuk ngemil. Untungnya letak Provoke! ini dekat dengan sebuah minimarket lokal (dan juga banyak kafe-resto gaul). Duh, beneran deh sejak ngantor saya jadi hobi jajan. Inilah daftar makanan dan minuman ringan yang jadi favorit saya: Sari Kacang Ijo Bahasa jawanya Green Bean Drink. Awalnya saya sama sekali gak tertarik, tapi sejak rekan sekantor yang seorang vegetarian, Poppie Airil, menawarkan saya minuman ini. Ternyata enak! Percampuran manis-gurih-seger yang pas. Oreo Tidak terbantahkan lagi, biskuit terenak sepanjang masa. Pilihan saya kalo gak yang klasik, atau rasa Blueberry Soba Mie rasa Ayam Kalo kalian besar di dekade 90an, pasti suka jajan mie-mie an yang plastiknya kecil-kecil? Mungkin ini adalah versi abad 21 dari mie-miean legendaries tersebut. Rasanya juga hampir mirip. Rasanya beli satu gak cukup, hehe. Apa mungkin ada ganjanya jadi nagih ya? Â Chiki Balls Favorit saya yang rasa Kaldu Ayam. Nescafe Coffee Cream Ini adalah versi instan dari Nescafe. Saya suka ini karena rasanya tidak terlalu manis dan tidak terlalu kental. Ngemil adalah kegiatan positif disaat Anda lagi mumet. Jadi, selamat jajan! (Tiavita Herdiana) 30 September 2010 Ditulis waktu sedang gabut di kantor
Going Underwater
Sudah lama saya menyimpan obsesi kepada dunia laut, terutama biotanya. Setelah lebaran kemarin saya mendapat ajakan menarik, mencoba paket diving di SeaWorld. Program ini bernama Fun Dive, dengan membayar Rp 200.000 (diskon Kartu Mahasiswa) katanya kita bisa diving di Main Aquarium SeaWorld selama 1 jam dengan bimbingan instruktur handal. Bonus dokumentasi bawah air dalam format DVD pula. Cukup menarik dan ekonomis. Langsung lah saya meng-oke-kan tawaran teman saya. Awalnya sempat ragu, di kepala saya muncul beberapa pemikiran: “Kalo gak bisa nafas gimana?”, “Kalo dimakan hiu gimana?”, “Kalo oksigen tiba-tiba abis gimana?”, dan hal-hal konyol lainnya. Tapi dengan modal nekat, saya pantang mundur. Hari-H yang disepakati jatuh pada Sabtu, 18 September pun datang. Perasaan saya campur aduk, apalagi pas nyampe SeaWorld kita langsung konfirmasi ke loket khusus. Ini artinya tidak ada lagi waktu untuk berubah pikiran, ha! Kami berenam diantar memasuki ruang ganti dan langsung mengambil diving suit, atau wetsuit, sesuai ukuran. Ternyata memakai wetsuit tidak semudah yang dibayangkan. Mungkin yang laki-laki sih gampang-gampang aja, karena tipe badan yang cenderung “lempeng”. Saya pun sampai harus mengganti ukuran sebanyak tiga kali. Inilah saatnya turun ke air! Sebelum “meneggelamkan diri” ke akuarium raksasa sedalam 7 meter, kami diberi pengarahan terlebih dahulu di kolam kecil. Yang paling penting adalah membiasakan diri bernafas di dalam air memakai regulator (regulator ini harus selalu dalam mulut! Kalau copot bisa bahaya akibatnya), dan equalizing (beradaptasi dengan tekanan air dengan memencet hidung ketika “turun” setiap 1 meter). Sesudah 15 menit latihan kecil, akhirnya kami digiring ke kolam besar. Di awal, saya bawaannya grogi berat dan panikan karena kuping dan hidung sakit (hehe, saya kurang memperhatikan waktu latihan equalizing) Padahal kata instruktur kunci kenyamanan dalam diving adalah tidak boleh panik! Okelah, mau tidak mau harus saya bawa santai. Ternyata benar, setelah saya rileks dan kembali menyelam, saya menjadi sangat menikmati pengalaman berada di bawah air itu. Senang sekali rasanya bisa lalu lalang diantara biota laut. Meskipun tidak banyak ikan-ikan berwarna cantik, tetap saja menjadi suatu kepuasan. Yang mendominasi di akuarium ini adalah ikan Pari dalam jumlah cukup banyak (dan besar-besar!), lalu ada penyu laut berukuran raksasa dan sangat gendut! Saya sempat mengelus-elus tempurung si kakek penyu lucu itu. Ada juga ikan-ikan besar yang mukanya memble. Kami disini juga sering melambaikan tangan pada pengunjung yang sedang melintasi akuarium. Wah, rasanya seperti diver profesional , padahal mah cuma anak kemarin sore. Kesempatan berenang di akuarium utama Sea World ini saya rasakan selama 1 jam 30 menit. Buat yang nafasnya boros, kira-kira dikorting jadi satu jam-an lah. Benar-benar pengalaman yang membuat saya dan teman-teman saya ketagihan! Kalo Tuhan meridhoi, bulan Oktober nanti saya berncana nyemplung lagi di Sea World. I’m keeping my finger crossed for it Beberapa fakta tambahan: Teman saya melakukan aksi “penembakan” di dalam akuarium. Dan tentu saja diterima. Manis sekali, silahkan mencoba ide fresh ini Instruktur disana sangat baik (dan setia). Mereka akan tetap menemani kita menyelam sampai bisa. Thanks ya mas-mas Bernafas dengan regulator membuat tenggorokan kering dan haus. Ini bisa diatasi dengan menelah ludah (Glek) Untuk bergerak ketika diving, sebenarnya kita tidak perlu menggerakkan tangan ketika berenang. Disini cukup mengandalkan dorongan dari fins di kaki. **** Saya sangat merekomendasikan SeaWorld Fun Dive kepada teman-teman. Dengan harga cukup terjangkau kita bisa mendapatkan pengalaman baru dan tidak terlupkan. Jadi, selamat mencoba! (Tiavita Herdiana) 26 September 2010
13 Tembang untuk Hati yang Galau
List yang terinspirasi oleh posting milik Disasterhead ini dibuat pada Juni 2009. Saya pada dasarnya senang membuat list-list dari hal yang saya suka sampai saya benci. Jadi tidak menutup kemungkinan untuk membuat list kurang penting lainnya. Sekarang, edisi lagu galau dulu ya. Selamat menyimak 13. L’arc-en-ciel – Niji Niji artinya pelangi. Lagu ini bukan lagu galau cinta, tapi lebih menceritakan tentang kehidupan yang kelam dan suram. heart-throbbing part: The boy saw the hatred to which he is hiding a person shadow.I don't want to see this kind of world anymoreNo more! No more! No more! 12. Duran Duran – Ordinary World Betapa susahnya melupakan orang yang sudah terlanjur kita cintai, dan membayangkan dateng ke resepsi pernikahannya. heart-throbbing part: I turned on the lights, the TV and the radioStill i cant escape the ghost of you 11. Pet Shop Boys - Always on My Mind Tentang penyesalan seseorang karena menyia-nyiakan pacarnya. Makanya, kalo punya pacar, jagalah baik-baik. Uhuk heart-throbbing part: Maybe I didn’t hold you, all those lonely, lonely timesAnd I guess I never told you, I’m so happy that you’re mine 10. Daft Punk – Something about Us Sesuai dengan idiom klasik: Cinta tidak harus memiliki heart-throbbing part: I need you more than anything in my life I want you more than anything in my life I'll miss you more than anyone in my life I love you more than anyone in my life 9. Dandy Warhols - You Were the Last High Mungkin ini curahan hati Courtney Taylor (vokalis) sebagai musisi rock, punya seribu fans yang rela ditiduri, tapi hatinya cuma untuk satu orang. heart-throbbing part: I am alone but adored By a hundred thousand more than I said When you were the last high And I have known love like a whore From at least ten thousand more than I swore When you were the last 8. Beatles – If I Fell Cowo yang capek dikecewain sama cewe, lalu bertemu dengan seseorang yang baru, tapi masih ragu apakah dia akan dikecewakan seperti masa lalunya. heart-throbbing part: If I love you too, oh please don’t hurt my pride like her, cos I couldn’t stand the pain 7. Album Leaf – Always for You Lagu ini cocok didenger waktu jalan di trotoar, sendirian, malem-malem dan habis hujan. heart-throbbing part: And all the memories will never fade, for years and years In my heart you'll stayIt was always for you #garuktanah #mewek
6. Daniel Beddingfield – If You’re Not the One Menurut saya semua anak metal yang denger lagu ini juga bakal meleleh. heart-throbbing part: I never know what the future brings But I know you're here with me now We'll make it through And I hope you are the one I share my life with heart-throbbing part 2: I don't wanna run away but I can't take it, I don't understand If I'm not made for you then why does my heart tell me that I am? Is there any way that I can stay in your arms? Hoho.. pasti banyak yang ngerasa deh. 5. Nirvana – Where did you Sleep Last Night Kalo dipikir-pikir, lagu ini temanya sama dengan hits "Yolanda" milik Kangen Band. Ya, dengan part catchy "Kamu dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa?" heart-throbbing part: My girl, my girl, don't lie to me, Tell me where did you sleep last night. In the pines, in the pines, Where the sun don't ever shine. I would shiver the whole night through. 4. Smiths – How Soon is Now? No explanation needed heart-throbbing part: I am human and I need to be loved heart-throbbing part 2: So you go, and you stand on your own and you leave on your own and you go home, and you cry and you want to die Hiks, betapa galaunya hidup. 3. Pulp – Disco 2000 Sempat menjadi anthem galau saya dan teman sebangku di SMA. Bercerita tentang hubungan yang percintaan yang tidak pernah terjalin, walaupun si cowo udah ngarep banget sama si cewek yang tetep dicintai meskipun udah punya kehidupan sendiri. heart-throbbing part: What are you doing sunday baby? Would you like to come and meet me maybeYou can even bring your baby 2 Chantal Kreviazuk – Leaving on the Jetplane Merinding tiap kali denger lagu ini. I always hate goodbye. heart-throbbing part: Now the time has come to leave you One more time, oh, let me kiss you And close your eyes and I'll be on my way 1. Stone Roses - I Wanna be Adored Anthem gatot (galau total) waktu jaman pencarian cinta sejati. Hehe. heart-throbbing part: I wanna, I wanna, I wanna be adored I wanna, I wanna, I wanna be adored I wanna, I wanna, I gotta be adored Bonus: Semua lagu dari album s/t The Used. Hahaha Versi Lokalnya (silahkan tertawa) 13. Base Jam – Bukan Pujangga 12. Dewa19 – Roman Picisan 11. Goodnight Electric – Bedroom Avenue 10. Sore – Pergi Tanpa Pesan 9. Rumahsakit – Sakit Sendiri 8. Dewa19 – Kirana 7. D’Masiv – Merindukanmu 6. Chrisye – Kisah Cintaku 5. Anda – Menghitung Hari 4. Padi – Kasih tak Sampai 3. Reza ft. Masaki Ueda – Biarlah Menjadi Kenangan 2. Dewa19 – Dua Sejoli 1. Kersipatih - Mengenangmu Bonus: Leonardo – Insecure (Tiavita Herdiana) Juni 2009
Salah satu resiko pake Esia
A: Halo ini vita ya B: Iya ini siapa ya A: Lagi ngapain..? (nada manja gak enak) B: Lagi di rumah. Ini siapa sih? (mulai curiga) A: Ini Joni anak Paramadina (who the ef is Joni? Janji Joni?) B: Hah siapa? gak kenal * end of call ** gak lama, nelfon lagi A: Kok dimatiin sih? (intonasi sok manis) B: LO MAU APA SIH TAIK! #galak #sangar * end of call 02196230378, so 2005 banget deh lo.
Romantisme Kaset dan CD
Belakangan saya kembali menengok koleksi kaset dan CD saya. Awalnya saya sempat merasa “terpaksa”, karena MP3 player saya yang rusak-jadi daripada tidak ada musik pengantar tidur atau disaat bosan dari komputer, maka hanya kaset yang bisa saya andalkan.  Saya mulai membeli kaset sejak SD. Yang pertama saya beli pakai uang jajan sendiri adalah album Millenium-Backstreet Boys. Waku itu di akhir 90an adalah jaman dimana boyband sedang naik daun. Sejak itu saya rajin membeli kaset. Kalau CD baru saya beli sejak SMA, mengingat harganya yang cukup mahal untuk kantong pelajar waktu itu. Di tahun 2004-2005, ketika saya mulai kenal sebuah toko yang menjual CD bagus, dan mulai rajin membeli CD-CD dari musisi lokal (ehm). Kembali boks transparan tempat saya menyimpan harta karun diatas. Diliputi rasa bersalah karena sempat membodo-amatkan, saya pun membereskan kaset dan CD sambil bernostalgia. Kaset-kaset inilah yang bertanggung jawab dalam membentuk saya diusia belasan, kata orang sih usia dimana masih mencari jati diri yang sebenarnya. Beberapa yang jadi favorit saya: 1. Mariah Carey – #1's
Ini adalah album kompilasi terbaik Mariah Carey (1998). Menurut saya saat itu adalah kondisi puncak Mariah dalam mengeluarkan masterpiece nya. Saya juga masih respek dengan imagenya, tidak seperti sekarang yang cenderung ke arah nakal dan memperlihatkan terlalu banyak kulit.
2. V/A - Now That's What I Call Music! 4 Sebenarnya album ini saya beli sebagai kado ulang taun untuk kakak saya di tahun 2000. Faktanya kakak saya adalah pendengar Cypress Hill dan black music sejenisnya, namun dengan polosnya saya membelikan album hits pop ini. 3. Nirvana – In Utero Saya mulai menjadi fans berat Nirvana sejak 2003 (ketika single You Know You’re Right dirilis) dan mencoba untuk mengkomplitkan albumnya. In Utero terbilang sulit dicari, saya harus berterima kasih kepada teman sekelas yang menghibahkan album milik ayahnya kepada saya.  4. Rage Against the Machine – The Battle of Los Angeles Guerilla Radio muncul jadi salah satu back song untuk game Tony Hawk di PS 1, saya pun langsung jatuh cinta. Album ini juga yang membuat saya kemudian membaca biografi Che Guevara, untung gak sampai beli kaosnya. 5. Green Day – Nimrod Semua orang berpendapat kalau Dookie adalah karya terbaik Green Day. Namun bagi saya yang ketika itu duduk di kelas 2 SMP dan “beragamakan” teenage angst, lebih memilih Nimrod ketimbang Dookie. Potongan lirik The Grouch yang saya tulis ke dalam binder saya: "Life's a bitch and so am I. The world owes me, so fuck you". Tsk, kelam sekali saya pada waktu itu. 6. L’Arc~en~Ciel – Clicked Single Best 13 Saya ingat, dulu saya sempat mengolok-olok teman SMP saya yang fanatik dengan hal-hal berbau Jepang. Laruku salah satunya. Disini karma berbicara, di hari pengambilan Ijazah SMP saya langsung cerita kepadanya kalau saya sekarang mendengarkan Laruku, kemudian diikuti dengan musisi Jepang lainnya.  7.   Kaiser Chiefs – Employment Lagu-lagu di album ini tidak terlalu istimewa buat saya. Tapi ini adalah kaset terakhir yang saya beli (2005) dengan menggunakan uang almarhum Ayah saya yang pergi sebulan kemudian. *** Saya bersyukur masih bisa merasakan jaman saat kaset dan CD masih menjadi favorit. Mendengarkan kaset juga mengajarkan saya untuk lebih sabar. Saat kebelet untuk mengengarkan track favorit, hanya bisa mengandalkan tombol Rwd atau FFwd. Kalau sekarang tinggal klik track mana yang akan didengarkan. Mendapatkan lagu-lagu yang rare juga merupakan tantangan. Dulu saya sering merekam lagu tidak bisa didapat dalam album ke dalam kaset kosong (bahasa kerennya membuat mixtape). Kalau mendesak dan sedang tidak ada stok kaset kosong, kaset materi les bahasa inggris dari LIA pun jadi korban. Seru sekali kalau diingat, masih membutuhkan usaha untuk mendengarkan musik. Karena saya tidak mencoba piringan hitam, maka saya berpendapat bahwa mendengarkan kaset atau CD adalah sebuah ritual romantis dan salah satu bentuk penghayatan musik yang paling tinggi. Tiavita HerdianaRabu, 8 September 2010
Ian dan Kula
Seumur hidup saya baru 3 kali dateng ke konser musik. Yang pertama adalah Radio Dept, kemudian Belle and Sebastian (dapet gretongan, yaudah sikat), dan yang terakhir Ian Brown & Kula Shaker (turns out it became one of the greatest history of my life). Ian Brown adalah eks vokalis Stone Roses yang tetep eksis berkarir solo meskipun selalu berada di bawah bayang-bayang band legendaris Madchester itu. Kula Shaker band asal London dengan masa keemasan di tahun 96-99 ini baru aja ngeluarin album bulan Juni kemarin, dan menurut saya gak kalah sama karya-karyanya yang dulu. Saya berkesempatan dateng ke Meet&Greet di salah satu hotel mewah daerah Senayan. Ternyata pas sampe di hotel saya ketemu junior saya di kampus, eh ternyata dia udah duluan foto bareng Ian dan geng Kula. Yaudah makin menggebu-gebu gak mau kalah. Saya yang bareng dengan temen-temen dari Provoke langsung melipir ke ruangan. Sempet nungguin sekitar 30 menit, akhirnya Ian George Brown pun dateng. Antar percaya dan gak percaya bisa berada seruangan sama Juru Selamat kaum Indies. Sesi Tanya jawab pun berlangsung singkat, rata-rata pertanyaannya gak jauh dari Stone Roses deh. Kemudian langsung menyerbu Ian untuk signing session. Lumayan saya dapet tandatanga dan foto “colongan” yang pertama. Sayang saya waktu itu terlalu konsen sama Ian jadi gak ikut M&G nya Kula. Hujan gerimis malu-malu yang mengguyur venue di Lapangan ABC Senayan, bikin suasana jadi mirip Glastonburry (sok tau, kayak pernah aja). Suasana dingin-dingin Manchester malam itu justru makin menambah euforia penantian Ian dan Kula Shaker yang sebentar lagi bakal berbagi panggung. Setelah berapa kali ada atraksi asap di panggung yang bikin deg-degan, yes akhirnya Kula Shaker is on stage! Saat intro Sound of Drums dimainin, temen saya teriak-teriak penuh kegirangan, “NG****T!! INI BUKAN MIMPI KAN!!”. Atraksi Crispian Mills yang lincah sambil bergitar bikin dia terlihat sangat panas (hot), uggh. Lagu-lagu favorit saya yang malam itu masuk ke dalam setlist adalah Peter Pan, Modern Blues, Jerry Was There, 303, Hey Dude, Tattva, Hush, dan yang membuat lautan manusia puwecah: tentu saja Govinda. Temen saya yang bilang “NG****T” tadi tiba-tiba nyeletuk, “Aduh jadi pengen masuk Hindu nih”. Akhirnya mereka pamit dan turun dari panggung. Saya sempet bengong karena gak percaya satu jam telah berlalu
Foto oleh Ijak
Foto oleh Mahdesi Iskandar
Tapi saya gak sedih berlarut-larut dong, karena sekitar jeda 20 menit akhirnya sosok dengan baju training warna kuning naik ke panggung. There he was, membuka penampilan dengan I Wanna be Adored membuat crowd sing along. Btw, lagu ini adalah lagau galau saya dulu, heheh. Malam itu Ian Brown joget monyetnya dipadu dengan gerakan senam yang lucu membuat dia terlihat muda dan fit. Saya yakin semuanya pada berharap Brown membawakan lagu-lagu Stone Roses lebih banyak. Malam itu total 18 lagu yang dibawakan. Beberapa diantaranya adalah Golden Gaze, Love Like a Fountain, Keep What You Got, Longsight M13, FEAR. Setelah lagu terakhir dimainin, Ian dan band nya melipir dari panggung. Tentu saja crowd langsung ber-We Want More, We Want More, dan bener kan ternyata mereka balik lagi kan (yakin karena udah liat bocoran setlistnya). Setelah dua lagu, akhirnya lagu yang bikin crowd puwecah: Fools Gold jadi penutup encore. Ian Brown yang katanya gak kangen sama Stone Roses rupanya tetep ngandelin lagi-lagu band lamanya sebagai klimaks di konsernya. AAAHHH saya sedih, konser pun beneran selesai malam itu. I wish I could rewind the whole show :’(
Foto oleh Mahdesi Iskandar
Ternyata, ada satu lagi kejutan yang saya alami malam itu. Temen saya yang kebetulan jadi LO untuk Ian Brown mempersilahkan saya dan beberapa teman untuk masuk ke belakangan panggung. Ternyata udah cukup banyak “penyelundup” disana hehe yang lagi ngantri. Lumayan deh bisa foto bareng Ian Brown dan dikasih setlistnya Kula Shaker :D (Terimakasih Jojo, Onnie, Satria dan temen-temen Provoke atas “akses”nya)
Foto oleh Satria Ramadhan
Oya, ada beberapa poin menarik dari konser tersebut: Ternyata Ian dan Kula itu gak akur, mereka saling ngedumel di belakangnya. - Kula Shaker rempong , terutama Crispian yang katanya agak angkuh. Kalo Ian malah cenderung santai - Momen terseru Kula adalah saat bawain 303 (saya suka improvisasi di line: “I’m just, I’m just, Im just-nya). Kalo Ian Brown tentu saja pas I Wanna be Adored - Ohya, Ian juga sempet nginjek2 bendera UK yang dikasih sama penonton dari bawah panggung. Udsgil ya doi - Selepas konser ini saya jadi galau karena memori yang terlalu indah pada malam itu (apeu) dan gak bisa terulang lagi Jumat, 7 Juli 2010 *tulisan ini diselesaikan sebelum saya baca berita pembatalan performance Navicula di Bali secara last-minute oleh pihak Ian Brown. You really broke our hearts, man
Bring back our good old stuff: Poskart
I bet you don't wanna miss those extra-ordinary postcard works from 83 artist. Thank you ruangrupa for giving me chance to participate on this exhibition :) “Kartu pos: kertas selembar yang bikin berdebar-debar, dan enak buat digambar-gambar” (Ika Vantiani, curator) 9-15 July 2010 at RURU Galery Jl. Tebet Timur Dalam Raya 6