Menarik sekali postingan kakak sebelumnya. Aku sebagai seorang yg pernah berkecimpung di dunia dakwah di jogja, dulu seringkali mengutamakan kepentingan dakwah daripada kuliah maupun pribadi. Semisal syuro jm 6 pagi sampai jm 7 kuliah, kumpul jm 5 pagi, sorenya syuro lagi, sabtu minggu untuk dauroh/tatsqif/mabit dsb... kadang ada rasa nilaiÂČ yg dulu itu sekarang sirna sama sekali. Apa mungkin dunia pasca kampus yg jauh lebih berat tantangannya? Atau efek domino dari pemulihan masa pasca covid? Hampir tidak lagi menemukan vibes orangÂČ yg semangat di dunia dakwah, bahkan sholat pun udah keren bgt keliatannya. OrangÂČ yg dulu gethol di dunia dakwah kampus, tidak memungkiri kini sibuk dengan pekerjaan, atau yg sudah menikah sibuk dg rumah tangganya. Apa dakwah itu hanya romansa di dunia kampus? Bahkan sekarang di dunia kerja yg dibutuhkan adl ilmu, skill, dan attitude yg baik. Sempat ada rasa, yah dulu pas kuliah agak kureng, ngga mendalami benerÂČ ilmu zaman kuliah yg jadi pondasi di dunia kerja. Untuk mengaplikasikan ruh dakwah supaya bisa longlasting itu susah sekali. Mungkin boleh opininya tentang urgensi dakwah kampus dilihat dari keawetannya di dunia pasca kampus? Supaya orang tuh ngga hanya memandang perjuangan dakwah kampus sebagai euforia dalih mencari keberkahan yg sifatnya temporer. Boleh juga ditambahkan gimana mempertahankan semangat 'dakwah' itu pasca kampus yg mana krn tuntutan mencari sesuap nasi tidak menjamin dapat lingkungan yg kondusif dan bisa ketemu orangÂČ sefrekuensi lagi. Makasiih~
Romansa Dakwah Kampus: Mengapa Terasa Hanya Euforia Sementara?
Pertanyaan menarik! Izin prolog dulu ya sender. Kembali pada serial tulisan saya sebelumnya, bahwa memang pandemi adalah 'game changer' dari banyak hal dalam konteks pengelolaan dakwah kampus. Vibes yang kamu rasakan dulu namun sekarang seolah terasa hilang, saya rasa bukan sebatas hal-hal dzahir yang ikut serta dalam menciptakan nuansa militansi, keimanan, dsj. tetapi ada hal lain, yang saya sebut 'intangible things' (baca: nilai) yang (mungkin) sedikit banyak telah bergeser.
Entah mungkin karena faktor 'penjaga nilai-nya yang buru-nuru pengen lulus, tanpa ada upaya ekstra untuk menyalurkan nilai ke adik-adiknya, atau memang pergeseran tren hidup, yang membuat segala sesuatu harus dikalkulasi dengan materi? Jika 'menguntungkan' saya ikut, jika enggak, nanti dulu. Saya ada hipotesis dan kajian soal ini.
Tetapi, sebenarnya bagi saya apapun bentuk perubahannya, perubahan adalah perubahan. Ia akan terus ada, makanya ada statement : "setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya", tinggal bagaimana mereka generasi yang masih peduli bersikap, menganggap itu sebagai masalah atau justru peluang dan tantangan amal baru? :D
Saya ada materi yang mengkaji bagaimana cara organisasi pasca pandemi bisa melakukan revitalisasi atau adaptasi di masa perubahan ini. Dahulu saya presentasikan di pertengahan pandemi, dan makin getol saat pasca pandemi.
Singkatnya, dunia dalam fenomena yang menyebabkan segala sesuatu berubah sangat cepat. Yang dulunya mudah untuk memprediksi sesuatu, menjadi sukar, dsb. Maka, mau bagaimanapun perubahannya, fokus saja mencetak kader dakwah yang adaptif dan resilien.
Bagi sebagian orang yang dimasa kampus concern terhadap nilai-nilai perjuangan, keadilan, dsb. akan ada satu momen kita dibenturkan akan apa yang kita yakini dan dinamika yang terjadi. Misalnya ketika dulu semasa di kampus memperjuangkan penolakan RUU CIPTAKER, maka ketika kita kerja di ranah bisnis, apalagi yang fokus ngelola HR macam saya ini, akan muncul dilematika dan konflik batin tersendiri. #iykwim :D
Pertantannya kenapa vibes dakwah di pasca kampus tidak terasa, seolah hanya nuansa yang kontemporer saja?
Pandangan bahwa Dakwah Kampus sebatas ruang aktualisasi sosial:
Menurut saya, seharusnya dakwah kampus tidak hanya dilihat sebagai aktivitas, tetapi juga proses pendidikan karakter. Saya menganalogikan LDK/LDF yang lengkap dengan budaya: adanya jamal (jam malam), atau kenapa ada hijab dalam syuro, dsb. Di awal juga bertanya apa pentingnya di dunia pasca kampus?
Emang besok rapat di dunia kerja pakai hijab? kan enggak. Saya mencari jawaban ke kating tidak puas, akhrnya setelah perenungan panjang dan terbentur dinamika, baru saya punya kesimpulan. Bahwa hal yang demikian itu adalah bagian dari pembiasaan/pelatihan diri kita. Bahkan syuro itu saking unggulnya (khasnya orang Islam), kalau dibedah banyak hal yang secara tidak langsung mengajari kita sesuatu loh! Next kita bahas.
Kurangnya Pemahaman Filosofis tentang Dakwah:
Saat di kampus, banyak dari kita lebih fokus pada aktivitas teknis dakwah (program, kegiatan, syuro) tanpa benar-benar mendalami landasan filosofis dakwah itu sendiri. Akibatnya, ketika aktivitas teknis hilang di dunia kerja, ruh dakwah ikut memudar karena tidak ada fondasi yang kuat.
Tuntutan Kehidupan yang Lebih Berat
Setelah lulus, kita dihadapkan pada tuntutan finansial, karir, dan keluarga. Fokus kita lebih banyak tersita untuk "bertahan hidup" dibandingkan memperjuangkan dakwah. Dalam kondisi ini, dakwah sering kali terpinggirkan karena dianggap tidak relevan dengan kebutuhan hidup. Bagi sebagian orang ini adalah titik krusial, banyak yang akhirnya 'belok' di tengah perjalanan. Itulah kenapa pentingnya kita untuk tetap berjamaah, agar kontrol diri, sosial, dsb bisa tetap terjaga.
Pahami kembali visi dakwah kampus, yang berupaya untuk "Menciptakan alumni (kader dakwah) yang berafilisasi terhadap Islam". Sebab mau jadi apapun kita (ekonom, politisi, dsb.) kita adalah aktovis dakwah, nahnu du'at qobla kulli syai'.
Membangun filosofi dakwah yang menyentuh semua aspek kehidupan. Dakwah kampus bukan hanya soal syuro atau program, tetapi soal menanamkan filosofi bahwa dakwah adalah cara hidup (manhajul hayah). Dengan cara ini, dakwah tidak akan berhenti di ruang-ruang kampus, tetapi terus menjadi bagian dari setiap aktivitas kita: dalam pekerjaan, keluarga, hingga hubungan sosial.
Relevansikan DK dengan tuntutan hidup. Dakwah pasca kampus harus dikaitkan dengan kebutuhan hidup nyata, seperti pengembangan karir, peningkatan skill, atau keseimbangan antara spiritualitas dan profesionalitas. Dakwah tidak hanya soal kegiatan, tapi juga bagaimana kita memberikan solusi bagi tantangan zaman.
Temukan lagi lingkungan yang mendukung. Meski tidak lagi berada di kampus, kita tetap membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk menjaga semangat dakwah. Cari komunitas baru yang sevisi dan mendukung pengembangan spiritualitas kita.