Engkau Yang Terus Percaya Bahwa Kita Akan Menang
Saat sedang menulis ini, melalui akun Baik Berisik Jakarta, Gaza telah dikuasai penjajah 70% dari wilayah sebelum 07 Oktobet yang mengakibatkan kamp-kamp pengungsi menjadi tak leluasa.
Selain itu, melalui akun-akun Perjuangan Palestina yang salah satunya Timteng Podcast, muncul simpang siur berita penangkapan salah satu aktivis Palestina oleh Polri atas Red Notice Interpol yang menimbulkan spekulasi oleh publik.
Pertanyaanya para aktivis dan wartawan sama :
"Apa sebetulnya sikap pemerintah terhadap perjuangan Palestina sampai-sampai harus ada penangkapan Aktivis?"
Dan berita syahidnya para penduduk Gaza yang mungkin sudah menjadi keseharian linimasa kita. Semoga tidak membuat kita lupa dan bosan mendengarnya.
Untuk kita yang sedang lelah untuk mengawal isu ini —yang sebetulnya tak punya hak untuk lelah— beberapa poin dari buku "Thufaan Of Truth" tulisan Bang Amar ini setidaknya dapat menjadi pengingat untuk bangkit esok hari :
1. Titik Terendah Perjuangan
Pernahkah engkau membayangkan saat Hamas mengalami titik terendak perjuangan mereka? tidak memiliki pemimpin karena ditangkap penjajah.
Yang menjadi pertanyaan, apakah perlawana menjadi hilang arah dan lenyap begitu saja? Jawabanya tidak dan bahkan lebih menakutkan.
Imad Aqil bersama Halaqahnya secara independen mengorganisir perlawanan dengan senyap yang menimbulkan ketakutan di dalam hati penjajah.
Agenda mereka ditengah ketidakpastian dan banyaknya mata-mata adalah saling mengingat akan ibadah harian, setoran hafalan antar kelompok, saling menguatkan hati menciptakan perlawanan senyap —pemboman, penusukan, teror— kepada penjajah berdampak signifikan meski tanpa Qiyadah.
Saat itu Imad Aqil dan kelompoknya menjadi legenda dan patut kita tiru semangat kepeloporanya.
2. Riset Dalam Keterbatasan
Sniper, drone, roket, bom, dan RPG Yassin 105 yang mampu menembus Tan Merkava bukan hadir tiba-tiba. Senjata ini hadir dari kecerdasan para mujahid yang melintasi zaman di tengah keterbatasan fasilitas.
Tito Masoud, Yahya Ayyash, Adnan Al-Ghoul, Nidal Farhat, Mohammad Al-Zawari, Muhammad Dheif —mutarabbi Imad Aqil aktor Thufaan Al-Aqsha— dan nama-nama lainya adalah rantai-rantai perjuangan riset senjata hingga memberikan efek yang signifikan di perang hari ini.
Apa yang kita lihat hari ini adalah keberkahan perjuangan yang dilanjutkan oleh generasi setelahnya. Mereka mengajarkan kita untuk tetap berusaha dan menyandarkan hasilnya kepada Allah.
3. Persatuan Diatas Jabatan
Pasca Intifada Ke-2, Hamas berijtihad mengikuti pemilu dan menang hingga menghantarkan Ismail Haniyah menjadi Perdana Menteri. zionis tidak suka dengan Hamas sebagai pemenang karena memiliki ideologi perlawanan yang sangat kuat. Dibentuklah friksi dengan Fatah hingga cukup melemahkan soliditas perjuangan.
Pada tahun 2014, Ismail Haniyah akhirnya meletakan jabatan Perdana Menteri dengan tujuan terciptanya persatuan Masyarakat Palestina setelah dinamika yang lumayan lama dari 2007-2014.
Apakah Hamas tiba terbentuk dalam satu hari saja? Tentu saja tidak. Syaikh Ahmad Yassin, Sang Mujahid Kursi Roda memulainya dari Al-Quran dan membangun akidah yang kuat bagi anak-anak muda Gaza, lalu meniupkan semangat jihad secara perlahan di dalam hati mereka.
Dr. Abdul Azis Ar-Rantisi, Ismail Haniyah, Yahya Sinwar, dan banyak tokoh lain yang merupakan mutarrabi beliau yang meneruskan perjuangan Sang Syaikh. Juga Imad Aqil yang membina para pemuda di masa krisis, yang salah satu muridnya, Muhammad Dheif menjadi perancang Thufaan Al-Aqsha yang membuka tabir kelemahan militer zionis.
Dan Sang Pria Berkeffiyeh Merah, Abu Ubaidah dalam sebuah pidatonya mengungkapkan dalam perang ini, Hamas telah berhasil merekrut 7000-10000. Betapa dalam keterbatasan kondisi, semangat mengkader penerus adalah prioritas utama untuk keberlanjutan perlawanan.
Dan masih banyak lagi, pelajaran-pelajaran penting dari buku tersebut, yang tentu sangat saya rekomendasikan untuk dibaca. Agar semangat kita tak luntur karena duniawi, karena perjuangan ini adalah jalan yang panjang.
Setidaknya kita menjadi bagian dari umat Rasulullah shalallahualaihi wassallam yang senantiasa memperbaiki diri, menjadikan pembebasan Baitul Maqdis sebagai cita-cita dan pembuktian iman yang sempurna.
Mengutip pidato dari Komandan Dheif :
"Hai segenap muslim. Di seluruh negara Arab dan Islam, dari Thanjah hingga Jakarta!
Mulailah bergerak maju menuju Palestina Sekarang, bukan besok. Sekarang, bukan besok! Jangan biarkan batas negara, peraturan, atau halangan apapun mencegah kalian dalam pembebasan Masjidil Aqsha!"
Kartasura, 23 Juli 2026 | (7/30)
Challenge Membaca 30 Buku Selama Setahun & Menulis di Tumblr Setiap Hari