Hari kedua di Yogyakarta.
Sepertinya aku menderita sleep disorder.
Aku bingung. Aku belum mempunyai teman dekat disini yang bisa aku ajak hangout seenak jidat kayak Billa seperti waktu di Jawa Timur. Alhasil, aku hanya di kamar kos menonton drama Korea. Aku belum bisa hidup dengan tenang sebelum menyelesaikan 1 serial drama Korea yang aku tonton. Walaupun pada akhirnya tetap tertidur di depan laptop waktu menonton drama, aku tidak pernah mengulangi part yang tidak aku lihat dan menganggapnya sudah khatam.
Lama-lama aku merasa capek juga karena terus tertidur di depan laptop dengan posisi yang sangat absurd. Aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus mencari kegiatan yang bermanfaat, even itu hanya pergi berbelanja. Sangat kebetulan sekali Yogyakarta mempunyai clothing brands yang lumayan lengkap di bandingkan dengan Malang. Kesempatan emas, pikirku.
Setelah bangun dari tidur siangku yang tidak direncanakan, aku bersiap-siap keluar dari kamar kos. Hal pertama yang terlintas di pikiranku adalah membenarkan kuku kakiku yang sudah jelek.
Aku sempat menyasar di mall yang salah ketika mencari nail art rekomendasi dari Google. Di Galeria Mall memang ada nail art, tapi sepertinya hanya menyediakan pengecatan kuku saja. Setelah berkeliling sebentar, akupun memutuskan untuk pindah ke Hartono Mall. Akhirnya aku menemukan salon nail art di sini.
Tempatnya memang tidak sebagus tempat langgananku di Malang, tapi not bad. Aku memilih pedicure kering karena aku ingin cepat-cepat pergi ke H&M juga.
Hasilnya juga not bad, namun aku sedikit geregetan karena ketika memakai sandal cat kukuku sedikit tergores. Sedikit dan memang tidak kelihatan kalau tidak di perhatikan dengan seksama. Tapi tetap saja aku geregetan. Aku hanya bisa mendengus dan terlalu malas untuk complain karena itu kesalahanku sendiri. Okay, lain kali aku tidak akan menggunakan sandal Fiona ku lagi jika pergi pedicure.
Aku berjalan cepat dan sedikit aneh karena ada cat yang setengah kering menempel di kuku kakiku. Aku juga tidak peduli terhadap tatapan aneh orang-orang padaku.
Jujur, aku sebenarnya bingung ketika sudah di H&M. Sepertinya, pilihan bajunya tidak sebanyak H&M di Surabaya. Aaaaa, mungkin karena season sekarang, pikirku.
Yasudahlah, yang penting aku mempunyai 1 set celana pendek dan kaos pendek. Aku lelah memakai daster seperti ibu-ibu. Sorry, mom. Yes, daster-dasternya adalah pemberian Ibuku.
You know, aku telah sangat terbiasa dengan kesendirian. Namun, entah mengapa aku membayangkan aku di sini memiliki partner dan itu adalah Ipang. My dream boy. Aku sangat mendambakannya karena dia adalah tipeku. Seketika itu juga aku tersadar bahwa Ipang sudah memiliki pacar. Lalu aku bingung, bagaimana caranya mendapatkan partner yang baik dan benar disini.
Setidaknya agar aku tidak terlalu sendiri.
Teman-temanku memang banyak disini, tapi terkadang aku butuh dari sekedar teman.
Aku melamunkan Ipang sembari menunggu Gojek yang menjemputku datang.
Sepanjang perjalanan aku memikirkan, bagaimana nanti jika aku gagal lagi? Haruskah aku mengambil kerja part time untuk meringankan beban orangtuaku? Aku bingung.
Atau haruskah aku belajar saja supaya lolos tes?
Kata orang yang terpenting adalah positive thinking. Baiklah, aku akan terus berpikiran positif supaya mendapatkan energy positif juga.
Ketika sampai di kosku, (setelah berputar-putar di kampung karena sopir Gojekku ini nyasar), aku telah mengambil keputusan.
Aku harus menyelesaikan menonton serial drama Koreaku, lalu aku dapat kembali belajar dengan tenang.
Okay, Ibuku menelepon. Bercerita dan mengomel panjang lebar yang aku jawab dengan kata “ya” dan “he’em”.
Mampus. Sepertinya kali ini aku butuh asupan untuk bisa memejamkan mata. You know what I mean.