Ada yang Berakhir di 2019
Sebuah dekade berakhir di 2019. Seluruh dunia jadi saksi saat media-media politik, bisnis, gaya hidup, musik, kultur populer; digital mau pun print; merangkum apa yang terjadi sepuluh tahun ke belakang. Semua orang di Instagram, Twitter, dan kawan-kawannya #throwback. Album terbaik, film terbaik, kejadian-kejadian penting.
Saya mencoba ikut hype-nya. Tapi ketika mencoba mengetikkannya, jujur ternyata banyak yang saya lupakan. Saya sungguh baru tersadar, ternyata tak banyak yang ingin saya ingat.
Untungnya ada Spotify yang mampu merekap selera musik saya selama satu dekade itu (yang saya aja baru tahu bahwa selera musik saya ternyata demikian J). Nggak ketinggalan Grab yang merekap jarak perjalanan saya. Creepy, sih, tapi ya yang creepy-creepy kadang lucu juga. Kayak Joe di serial TV âYouâ.
Lalu saya memutuskan memilih satu, atau dua dari 2019. Karena dari 365 hari, sejujurnya, banyak hari yang nggak penting.
Sebagai anak pertama, saya selalu merasa saya harus berdiri jadi tameng, putar otak cari solusi, cari kata membuat setiap orang bisa saling mengerti. Buat adik-adik, saya merasa bertanggung jawab buat arah hidup serta kebahagiaan mereka. Perumpamaan kasarnya, ibarat seseorang yang memegang lima tali anjing peliharaan. Jika ada yang pergi, saya yang harus lari dan mengejar mereka supaya kembali.
Betapa betapa betapa⊠lelahnya merasa harus mengontrol segalanya. Tapi jika bukan karena tekanan itu, saya tentu akan selalu buta dan nggak pernah merasa harus melepas genggaman untuk akhirnya ikhlas. Hidup orang lain bukan kontrol saya.
Lalu di tahun 2019, saya akhirnya bisa melepas semuanya: Status, kebanggaan, prinsip, dan semua yang saya bawa sejak lahir. Lepas. Termasuk, orang tua.
Kata orang, setiap orang tua harus melepas anaknya pada satu titik dalam hidup. Mungkin tak banyak yang percaya, bahwa pada satu titik, anak juga harus melepas orang tuanya. Melepas orang tua dari citra yang mereka bangun, dari tanggung jawab mereka sebagai orang tua. Karena di satu titik, kita dipaksa melihat mereka sebagai seorang pria dan seorang wanita, dua orang manusia. Yang rupanya tak terikat satu sama lain. âOrang tuaâ, hanyalah satu bagian kecil dari hidup mereka.
Nggak mudah. Tapi saya melakukannya. âIya, ma, pa, nggak apa-apa. Aku juga pengen lepas dari ego dan âkewajibanâ sebagai anak pertama. Aku melepasmu dari beban moral untuk sepenuhnya jadi orang tuaku.â
âUang bukan segalanya. Pengorbanan adalah jalan,â pikir saya. Selama ini saya terobsesi jadi orang suci kali ya!
Saya sempat makan pas-pasan, selalu pakai baju lungsuran, nggak pernah jalan-jalan, nggak punya gaya sendiri. Saya âmembuangâ semua gaji kerja pertama dan juga uang tabungan selama bertahun-tahun untuk orang lainâyang nggak akan saya detailkan di sini. Saya berpikir, âAh gak mungkinlah aku kayak orang-orang yang hubungannya retak cuma gara-gara uang. Saya ingin yang lain juga bahagia!â
Wah, tai kambing. Ternyata saya nggak sesuci dan seputih itu. Saya bukan santo-santa, bukan Bunda Theresia, bukan Jeff Bezos yang bisa mengucurkan duit buat siapa saja. Gaji saya pas-pasan, cuma dikit di atas UMR ibukota. Saya mengira mengorbankan segalanya buat orang tercinta dan orang yang lebih membutuhkan adalah jalan hidup yang menyenangkan. Pada akhirnya, waktu membuat saya sadar bahwa saya cuma manusia biasa. Yang ketika memberi, diam-diam dalam hati ingin dihargai. Yang ketika berkorban, tanpa sadar berharap imbalan.
Dan ternyata, saya cuma sebiji kuaci yang dipites dikit udah retak. Nilai mulia itu pecah dalam tangisan dan doa, âTuhan aku gak kuat!â Selama ini pula saya mengesampingkan suara hati, mencoba menguatkan diri untuk yang lain. Salahhh. Ternyata cintai diri sendiri sebelum mencintai orang lain itu benar adanya. Ternyata orang pertama yang paling membutuhkan kasih sayang dalam hidup saya ya⊠saya sendiri.
Setelah menomorsatukan kepentingan diri, di tahun 2020 ini, memberi rasanya jadi lebih ikhlas dan tanpa pamrih J
Ternyata 2019 asu. Jakarta asu. Being 24 aaaaasu!
Di tahun 2019, Tuhan lagi ngemil pas nyentil, âJangan sok kuat lah jadi manusia. Kuat itu cuma milik Saya.â
Saya ingat sambil memotong bawang putih di pelataran rumah, HP saya tergeletak di sebelah memainkan Sulung-nya Kunto Aji on repeat. Saya nangis diem-diemâŠ
Cukupkanlah
Ikatanmu
Relakanlah yang tak seharusnya untukmu
Yang sebaiknya kau jaga adalah⊠dirimu sendiri.