Kadang orang beranggapan membeli itu lebih mudah daripada menghargai, berfikir negatif lebih mudah daripada mencoba untuk membuka pikiran dari segala sudut pandang. Dunia ini memang terlalu asyik untuk dijalani, harta dunia yang menyilaukan, hidup ini terlalu larut dalam kemerlap untuk dijalani. Sampai akhirnya aku sekarang berada dalam rengkuhan seorang pria yang memang tidak seperti di dongeng dalam cerita pengantar tidur, tapi dia cukup multi-talented untuk menjadi boneka yang hangat di musim hujan. Banyak belajar, banyak mendengar, banyak berkomentar, banyak argumen, dan banyak kata yang tak bisa terucap ketika kami bertemu. Aku bertemu dengannya di suatu restoran, diawali tatapan yang hangat, nada suara yang gemulai namun tidak dibuat - buat, gerak tubuh yang apa adanya, senyum yang tidak ada habisnya tersirat dari semua lekuk wajahnya sampai akhirnya sekarang tiada doa yang tak luput selalu menyebut namanya. Dalam renungan berkata, dalam doa berucap, dalam harap aku menyebut untuk diberi yang terbaik dari semuanya. Mungkin, ini yang namanya t’lah mendapat apa yang menjadi pelengkap sampai nantinya yang dijalani hanya “mengobrol” tiada habis sampai akhir menjemput. Kadang yang kita inginkan, bukan selalu yang kita butuhkan. Bukan gemerlap yang dibutuhkan untuk makanan jiwa, bukan materi yang dibutuhkan untuk setiap hela nafas. Entah mengejar apa aku hidup disini, entah menginginkan apa aku bisa disini sekarang. Hidup memang sudah diatur oleh yang berkuasa, yang berkuasa pun bisa menghargai sedetik lalu menjatuhkannya ke detik selanjutnya. Si penguasa bisa menjadi raja yang bijak dalam kerajannya atau malah jadi raja yang kesiangan untuk seluruh keluarga. Si penguasa bisa jadi mempunyai anak, tetapi tetap sifat, sikap dan darah yang mengalir tak bisa berdusta. Bukan menyalahkan tetapi membantu menyadarkan, mengetuk dan memberi ruang untuk berfikir ke depan. Sampai sekarang yang dibutuhkan dari semua solusi hanya mengobrol dan berbicara dengan kepala dingin dan itu memang jalannya.