AMOR FATI: BELAJAR MENCINTAI TAKDIR DARI UMAR BIN KHATHAB
Aku yakin setiap orang memiliki rencana hidup atau rancangan kehidupan yang ingin dijalaninya. Bahkan hal itu menjadi alasan terkuat kehidupan terus berjalan dan bertahan hingga sejauh ini.
Kehidupan bak kapal yang siap berlayar di tengah lautan. Kita menjadi nahkodanya dengan segala perbekalan yang sudah dipersiapkan, berharap satu tujuan pasti yang kita telah harapkan akan kita dapatkan atau kita menangkan.
Namun bagaimana jika pelayaranmu tak menujukan kapalmu ke arah pulau impianmu? Bagaimana jika arah kapalmu menjauhi rute perjalananmu yang kau impikan? Bagaimana … ? Bagaimana jika kapalmu karam dan kau … harus berganti kapal lain ? Bagaimana jika kau pada akhirnya terdampar pada pulau lain yang tak ada dalam wishlistmu? Dan bagaimana-bagaimana lainnya yang membuat sesak dadamu dan merumit di kepalamu?
Bagaimana kamu akan menerimanya?
Bagaimana kamu akan menjalaninya?
Bagaimana kamu akan kembali memulainya?
Ada pepatah mengatakan, kemarin sejarah, besok misteri, dan hari ini adalah anugerah.
Bukankah yang telah terjadi padamu hari ini adalah anugerah-Nya. Anugerah yang telah tertetap menjadi takdir hidup.
Umar dan Berterimanya takdir Hidup
Pada masa kepimpinan khalifah Umar bin Khattab di tahun kedelapan hijriyah tepatnya di bulan Rabiul Awwal, khalifah bersama dengan para sahabat melakukan perjalanan dari Madinah menuju ke negeri Syam. Namun perjalanan ini kemudian terpaksa dihentikan saat mencapai daerah Sargh, di perbatasan Hijaz dan Suriah.
Khalifah Umar bersama rombongannya bertemu dengan Abu Ubaidah bin Jarrah dan beberapa pimpinan pasukan Muslim dari Syam. Abu Ubaidah kemudian memberikan kabar bahwa terdapat wabah penyakit menular yang menyerang negeri Syam.
Setelah mendengar kabar ini, khalifah Umar segera menghentikan rombongannya guna melakukan musyawarah, untuk menentukan apakah harus melanjutkan perjalanan atau kembali ke tempat yang lebih aman.
Perdebatan itu akhirnya menghasilkan dua keputusan yang berbeda. Abu Ubaidah dengan gigih tetap melanjutkan perjalanan, sedangkan Umar juga dengan keputusannya untuk kembali.
“Wahai Khalifah Umar, apakah kita akan lari dari ketetapan Allah?” tanya Abu Ubaidah.
Umar menjawab dengan tegas, “Iya, lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya.”
Khalifah Umar pun kemudian memberikan analogi mengenai hal ini agar Abu Ubaidah bisa mengerti keputusannya.
“Bayangkan ketika kau menggembalakan unta milikmu di tempat tandus, maka itu adalah takdir Allah. Kemudian ketika engkau memilih untuk menggembalakan untamu di tempat yang subur, itu juga merupakan takdir Allah,” jelas khalifah Umar.
Abu Ubaidah tetap melanjutkan perjalanannya dan bersikukuh hingga Umar menangis Ketika mendapat balasan dari Abu Ubaidah yang tak akan bergeming di sana dan menunggu Keputusan Allah untuknya. Hingga pada akhirnya Abu Ubaidah wafat beserta beberapa sahabat dan pengikut karena terkena wabah penyakit.
Ya Umar pun menangis menerima ketetapan takdir yang terjadi padanya. Sebagaimana yang disampaikannya bahwa pada akhirnya takdir Allah selalu baik walau terkadang perlu air mata untuk menerimanya.
Kau harus senang dan tenang bahwa apa yang telah kau upayakan dan usahakan itu telah Allah catat dan Allah gantikan dengan takdir terbaiknya menurutNya untukmu.
“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.” – Umar bin Khattab.
Bahkan takdir yang sekarang kamu tidak sukai bisa jadi adalah sebaik-baik rencana Allah yang diberika padamu. Tetaplah berprasangka yang baik.
Sebagaimana dalam filsafat Jerman, Amor fati atau mencintai takdir itu penting. Bagaimana kita berterima dengan yang terjadi, kita terus menayangkan prasangka-prasangka baik kepada Sang Pencipta bahwa ketetapannya tak akan membawa kita kepada keburukan. Meski harus belajar mencintai takdir dan ketetapannya meski hati sebenarnya menolaknya atau bahkan tak menyukainya
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui,” (QS Al-Baqarah: 216).
#28hariberprosa #puanberaksara #tadikamesra #jejaringbiru #amorfati