Ibu, adalah sosok yang..luar biasa. Kalau kamu mau lihat paket lengkap manusia super, lihat aja bapak ibumu. Mereka berdua adalah sepasang manusia yang ditakdirkan Tuhan untuk bersama dan pada akhirnya menjagamu, sampai kamu menjadi seperti sekarang ini. Aku mau cerita tentang ibuku, Mamiku.
Ibu saya bukanlah sosok yang lebay, benar-benar strong, independent, pintar, cantik pula. Sampai sekarang, beliau sudah berusia lanjut, tapi cantiknya masih sama seperti di foto-foto jadoelnya.
Ibu saya sejak dulu menjadi wanita karier. Kata ibuku, segala berkat yang ia dapatkan, resepnya sederhana. Hanya berserah pada Tuhan, biarkan mengalir, ke mana Tuhan membawa kita, dan selalu ringan hati, seberat apapun jalan yang harus kita jalani dan lewati.
Ibuku pernah jatuh, saat Papoku pergi. Tapi beliau kembali kuat lagi, dan dari situ, kami bertiga harus saling menguatkan satu sama lain. Ditambah, saat ini aku harus menghabiskan masa kuliah dan koas di Semarang, dan ibu serta kakakku di Depok, kerja di Jakarta. Jadi yaa, terpisah jarak saat Paskah, Natal, libur lainnya kadang, sudah biasa.
Kenapa kubilang manusia hebat adalah ibuku? Bukan Gal Gadot, tapi aku yakin Gal Gadot pasti juga jadi sosok Wonder Woman sejati di mata anak-anaknya.
I see my mom is a fighter. Ia selalu melawan apabila ada hal-hal yang tidak sejalan dengan pola pikir dan sifat perfeksionisnya. Tapi, ia tidak pernah melawan anaknya, ia selalu berusaha memahami pola pikir kedua putrinya, yang kadang kontra, kadang pro, kadang tidak masuk di akal. Ia selalu berusaha memahami kami. Selalu mendengar anak-anaknya, dan memberikan wejangan-wejangan berdasarkan pengalaman yang ia hadapi.
Ibuku bukan seorang akuntan seperti kakakku, tapi ia paham bagaimana menuntun kakakku, dan menjadi tempat cerita, atau memberikan saran-saran dan lain-lain. Kayaknya sih gitu, kalau lebih pastinya tanya kakakku aja .
Mamiku bukan seorang dokter, tapi pola pikirnya seperti seorang supervisor. Hampir setiap pesan moral yang diucapkan beliau, terulang oleh supervisorku sendiri.
Aku ingat waktu di stase anak, ibuku pernah bilang "Dek, kalau sempat, kamu kunjungi satu-satu pasienmu, atau pasien apapun. Di IGD, di bangsal, di manapun, pegang dahi mereka, atau pegang mereka. Lalu doakan. Doakan kesembuhan atau apapun yang terbaik bagi mereka."
atau, di saat aku tidak percaya diri, ibuku selalu bilang "jadi dokter harus pede, harus yakin. Selalu berdoa, biar Tuhan tuntun."
atau di saat aku nggak tau mau ngapain dengan semua ilmu ini, ibuku selalu bilang "Tuhan memberkati ya dek, ringankan hati, sekarang memang lagi nggak enak. Jangan anggap ilmu itu beban, jangan anggap supervisormu sebagai orang yang menakutkan. Anggap mereka pakde bude, kamu kepo, kamu tanyakan"
Sejauh ini, dosen terbaik aku adalah beliau. Yang bisa bikin aku berhenti nangis, yang selalu mau mendengar, dan selalu kasih solusi, padahal cuma via telpon. Seandainya ibuku dokter beneran :"( hahahaha. Beliau bilang deng, males sama darah ato apa gitu, nggak suka hapalan.
Sekarang ibuku sudah tua hehe, tapi syukurlah masih sehat sentosa dan masih selalu penuh berkat dari Tuhan. Semoga, ibuku selalu berumur panjang, bahagia, dan Roh Kudus selalu tercurah di atasnya.
Terima kasih, Mami. Dea sayang sama mami, lebih dari apapun juga. Dea belum bisa merawat mami sekarang, masih belajar. Doakan dea, minimal dea bisa selalu jagain mami, dan Mbak Dhita. Dea sayang Mami, Mbak Dhita, dan dea yakin pasti Papo senang lihat dari surga sana. Godbless you.