Kartini, Jangan Curang, dong?!
21 April adalah satu dari sekian hari penting di Indonesia. Hari dimana kelahiran Pahlawan Nasional kita R.A. Kartini. Dan juga hari dimana semua orang selalu menggembar-gemborkan Emansipasi Wanita. Hal ini didasari oleh sikap dan perjuangan Ibu Kartini dalam menaikkan hak-hak wanita untuk memperoleh pendidikan, kebebasan, otonomi dan juga persamaan hukum di tengah ketertutupan kaum wanita oleh kultur (Jawa) maupun Agama. Luar biasa, ya?
Emansipasi ialah istilah yang digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hak politik maupun persamaan derajat, sering bagi kelompok yang tak diberi hak secara spesifik, atau secara lebih umum dalam pembahasan masalah seperti itu. — Wikipedia
Apakah emansipasi wanita itu sudah tercapai? Sebagian besar, ya. Dan sebagian lain, mungkin, akan berkata: Berlebihan.
Kartini modern dewasa ini sudah mendapat hak yang tinggi dalam kekuasaan. Ambil saja contoh Ibu Megawati, Presiden RI ke-5 dan Ibu Tri Rismaharini, walikota Surabaya.
Dalam hal pendidikan bahkan tidak sedikit wanita yang memperoleh lebih dari pria. Dan untuk hal lain, saya rasa wanita sudah sederajat dengan kaum pria.
Namun, pernahkah kalian melihat perempuan mengangkat galon air sendiri? Jikapun iya, pasti sangat jarang. Mengapa demikian? Karena mereka pikir, itu adalah perkejaan yang harus dikerjakan pria. Pekerjaan berat yang memang seharusnya dilakukan pria.
Jika kalian menganggap ini peran otot dan kekuatan, mari kita lihat permasalahan lain yang sering kita temui.
Berapa banyak pria yang harus mengantar jemput Kartini mereka saat bepergian?
Seberapa sering pria harus mengalah untuk memberikan kesempatan masuk lift ataupun antrian?
Aturan mana yang tidak memperbolehkan wanita untuk mengungkapkan perasaan mereka terlebih dahulu?
Para wanita mengangkat hak-hak mereka dengan mengkampanyekan Emansipasi, tapi di sisi lain malah membatasi diri sendiri. Agak konyol memang.
Wanita selalu berlindung dari kewajiban—yang seharusnya jika mereka menjunjung emansipasi— bisa dilakukan sendiri. Mereka lari dari tanggung jawab akan emansipasi menuju:
"Lah kok gue?! Lu kan cowok!"
"Jadi cowok ga tau diri banget sih?! Harusnya kan lu.... bla.. bla.."
"Masa lu suruh cewek sih?!"
dan kalimat-kalimat konyol lain...
Bukan bermaksud menghindar dari apa yang sudah ditakdirkan untuk pria namun, Emansipasi adalah persamaan derajat. Tidak ada lagi alasan untuk menghindar dari tiap kewajiban ketika emansipasi sudah kalian angkat.
Wanita seharusnya mengerti, ini sudah bukan jamannya wanita dijajah pria. Kami sebagai pria jelas sadar akan kewajiban yang harus kami lakukan. Kami tahu mana yang bisa dilakukan wanita dan mana yang tidak. Kami paham akan hal yang pantas untuk dikorbankan demi wanita. Tapi, setidaknya, bantu kami dengan tidak usah melontarkan kalimat-kalimat pelarian ataupun terlalu menggembar-gemborkan emansipasi.