"Penumpang dengan tujuan keberangkatan, P. Silahkan menaiki bus yang akan segera berangkat."
Ini kali pertama aku menginjakkan diri di terminal tipe A kotaku. Gemerisik suara pembicara terdengar jelas dari speaker yang menempel di dinding terminal. Meski tak seramai yang kukira, tempatnya sama persis seperti yang selalu kubayangkan. Deretan kursi panjang yang dipenuhi oleh dus, tas, hingga tentengan jajanan bawaan para musafir. Jejak kepergian yang melekat pada lantai terminal.
Suara bising bus yang perlahan memenuhi parkiran terminal mencekat kalimat-kalimat yang tersangkut di tenggorakanku. Hingga menit berikutnya, terdengar panggilan untuk bus tujuan Mamuju. Waktu semakin erat menggenggam pundakku.
Sudah tiga hari lamanya, aku dilanda bahagia dan sedih yang saling tarik dan tolak satu sama lain. Tak lain karena seorang sahabat yang harus menjajaki karir di tempat yang terbentang beratus kilometer jauhnya. Sebenarnya, sudah beberapa bulan ini aku dapat merasakan jelas, bagaimana orang-orang yang selalu ada di sekitarku mulai berlayar menuju tempat perjuangannya masing-masing. Meski awalnya aku lebih banyak denial, berdalih dibalik tawa dan canda. Hingga ketika tiba waktunya, aku dipaksa menerima bahwa hidup punya warna-warninya sendiri yang tidak dapat kita tebak.
Sejepret, lalu dua jepret. Aku pernah membaca suatu hipotesa, bahwa untuk melihat hal apa yang membuat seseorang takut kehilangan, cukup lihat apa yang sering dipotretnya.
Mungkin itu pula alasan aku jarang punya potret yang layak dengan orang-orang terdekatku. Entah ini hanyalah bentuk ego atau suatu perwujudan doa. Tapi aku tahu jelas, sejauh dan selama apapun waktu terbentang, aku tidak akan kehilangan mereka. Ada bagian dari diriku yang kusimpan pada orang-orang baik ini, pun mereka simpan kepingnya sendiri padaku. Dilipat dan disimpan rapi dalam hati.
Perlahan, terminal kembali sepi. Aku berdiri menunggu penumpang-penumpang yang akan berangkat. Menuju perjalanan terminal-terminal lainnya yang perlu ia tempuh. Tak mengapa jika memang harus pergi, sudah kusisipkan alamatku disini. Jadi, kala lelah menghimpit, pulanglah dan ketuk pintu rumah kembali.
Aku akan menunggu cerita perjalananmu dengan tangan yang siap menyapa kembali.
- catatan, 25 januari 2022