Dialog Koin Emas
catatan dakwahku # 15
Memiliki teman hidup yang sempurna, baik, dan menentramkan adalah anugerah yang tiada tara. Memiliki dia yang selalu ada dan senantiasa membersamai kita dalam kesuksesan, kesejahteraan, dan kebahagiaan, menjadi dambaan bagi hampir semua orang termasuk aku, gadis sederhana yang baru menemukan dirinya melalui teman hidupnya.
Perkenalkan, namaku Suci Dara Zahera. Aku sudah dipanggil “uci” oleh bapak sewaktu masih berada di dalam perut ibu. Dan Ternyata, qodarullah dugaan bapakku itu benar. Aku anak perempuan mereka yang lahir di sudut desa di kecamatan Batujajar, Bandung Barat, Jawa Barat tepatnya di sebuah rumah sederhana dekat gerbang sebuah SMP, pada 21 tahun silam.
Berbicara tentang teman hidup, apakah teman-teman pembaca sudah menemukan teman hidupnya? Bagi yang belum, semoga Allah segera pertemukan. Bagi yang sudah, semoga Allah memberkahi kebersamaannya. J
Alhamdulillah, aku juga sudah menemukan dan memilih teman hidup. Memang jika sendirian berjalan di tanah bumi yang penuh hiruk pikuk asap godaan dan hamparan pahala, rasanya akan berat tanpa teman. Bersama teman, setidaknya hidup kita lebih berwarna dan berenergi bahkan mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan dunia akhirat.
Kisahku dengannya dimulai saat usiaku masih sekitar 4 tahun. Waktu itu, aku dibujuk ibu untuk ikut mengaji bersama kakak-kakak karang taruna yang mengadakan pengajian untuk anak-anak di desaku. Kata ibuku, “Seorang muslim itu harus paham ilmu agama, harus dapat mengaji dan membaca al-qur’an dengan baik karena itu semua akan menjadi bekalnya di akhirat kelak.”
Kutatap wajah ibuku, senyumnya begitu tulus. Matanya masih tertuju ke arahku dengan berbinar-binar penuh harap agar hatiku bisa tergerak mengikuti ajakannya. Yaa hati kecilku seperti terpanggil, tapi karakterku yang tidak mudah bergaul dengan orang lain menghalangi terealisasikannya panggilan itu. Lantas aku berujar,
“Mah, aku malu. Nggak ada temen.” Agar beliau tidak menanggapi jauh bahkan malah marah padaku, aku bergegas henyak dari hadapannya.
Tapi usaha ibu dan bapakku tidak cukup sampai disana. Akhirnya mereka menyekolahkanku di sebuah TK terdekat. Walau berbasis TK, pengajarannya memadukan antara ilmu dunia dan ilmu agama. Para ibu gurunya menggunakan kerudung begitupun dengan seragam murid-murid perempuannya. Dan dari sana aku mulai dikenalkan bacaan IQRO sebelum akhirnya mendapat kelayakan membaca al-qur’an.
Lalu, setahun kemudian, orang tuaku menyekolahkanku di MI yang berlokasikan dekat pasar Batujajar. Sampai setelah lulus dari MI, aku dikirim ke pesantren untuk jenjang SMP dan SMA. Nampakknya orang tuaku sangat berserikeras berjuang memperkenalkan dan mendekatkan aku dengan ilmu-ilmu agama. Sebenarnya, saat itu aku belum menerima semua keputusan orang tuaku itu. Kehidupanku seperti bukan milikku. Saat aku hendak mengelak, mereka sering berujar “ Itu semua untuk kebaikan dan kebahagiaanmu nanti!” Aku tidak paham, apakah aku harus bahagia nanti, dan kapan nanti itu? Yang jelas, aku tidak benar-benar menikmati semua perjalanan itu. Bukan ini yang aku mau, dan kuakui saja ada ketidakikhlasan yang menyelinap ke dalam hatiku.
Hingga permasalahan besar pun mulai menghampiriku saat aku duduk di bangku SMA. Dimana dimasa itu, anak-anak mulai menemukan hal-hal baru. Dan pada saat itu pula sudah mulai dituntutnya mereka untuk belajar mengambil keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas keputusan yang dipilih.
Dan disanalah aku mulai mendapatkan banyak guncangan. Yang kala itu, aku masih dalam perjalanan mencari teman, semesta malah mengirimkan ujian-ujiannya. Satu persatu masalah berdatangan, seperti cinta yang tak sampai, persaingan kompetisi yang semakin ketat, tuntutan mempromosikan citra diri, dsb. Aku merasa kewalahan dengan semua itu. Faktor putus cinta sedikit banyaknya membuat diriku seolah rapuh. Pertama kalinya aku merasakan patah hati. Namun, tidak hanya itu yang mengguncangkan diriku. Aku dituntut untuk tampil dewasa, harus selalu baik-baik saja, harus kuat dan bertahan, yang mana sebenarnya aku belum siap untuk itu semua.
Dan karena fase ini adalah baru bagiku, aku mencoba memberikan dan berbuat yang terbaik. Kata mereka, banyak mendengarkan orang lain hidup akan dapat menjadi lebih baik. Aku harus terbuka dengan saran dan kritik. Namun naasnya, kritikan dan saran itu secara tanpa sadar menghantarkanku menjadi orang lain. Aku belum pandai menyaring mana ucapan mereka yang membangun diriku, dan mana yang malah hanya mengganggu. Yang jelas saat itu aku berpersepsi “orang yang hebat adalah yang mampu membahagiakan semua orang.” Saat itu, aku ingin semua orang menyukaiku, menghargaiku, jangan sampai ada satu orang pun yang membenciku apalagi dibuat kecewa olehku.
Ternyata, betapa sulitnya melakukan semua itu. Semua omongan mereka itu, menuntutku untuk menjadi sempurna, tidak boleh salah, tidak boleh memiliki cacat sehingga aku semakin takut untuk mengambil keputusan. Aku semakin takut jika disalahkan. Semua itu, membuatku seperti memasang wajah palsu dihadapan banyak orang yang harus menampakkan kondisi baik-baik saja. Aku seperti menciptakan kebohongan demi kebohongan yaaa mungkin kebohongan yang tidak memberikan untung untuk orang lain namun bahkan memberikan kerugian untuk diri sendiri.
Lantas apa yang bisa kulakukan? Saat itu, aku hanya bisa mengadukan semua di kala hening malam sudah datang. Berbisik di tengah kesunyian hati sampai berderai air mata sambil tersedu-sedu “Ya Allah, sebenarnya aku nggak kuat dengan semua ini.” Aku lantunkan kalamNya dalam isak tangis hingga tanpa sadar terlelap dan terbangun dengan kondisi lebih baik.
Hal itu terus saja berulang, mengusik hingga tiba kelulusanku di pesantren.
Alhamdulillah Ada kelegaan karena semua tuntutan itu ku kira akan usai. Namun ternyata, ucapan mereka masih saja mengiringi. Terlebih lagi, dengan instuisiku yang berlebihan. Aku merasa masalah ini belum selesai. Seolah diriku seperti terdorong untuk mewujudkan cita-cita orang lain. Seperti halnya guru-guruku yang menyarankan begini. Sedangkan orang tuaku memintaku begitu dengan alasan-alasannya, dan semua itu kusibukkan diri mendengarkan harapan-harapan mereka.
Lantas aku berkata dalam hati, “Lalu aku harus bagaimana? Mengikuti yang mana?” Diriku benar-benar terobsesi dengan ekspetasi orang lain. Namun, tanpa sadar perlahan aku merasa “kehilangan diri sendiri”.
Singkat cerita, Allah pun menegurku, aku dinyatakan tidak lulus di suatu program seleksi masuk perguruan tinggi. Hal itu benar-benar meruntuhkanku. Aku tidak bisa mewujudkan ekspetasi mereka. Ambruk sudah. Aku benar-benar lelah menjalani semua itu. Minatku untuk melanjutkan sekolah menjadi ragu, bahkan aku menjadi ragu dengan potensiku sendiri.
Topeng kebohonganku yang selalu menunjukkan wajah palsunya, kulepas dan kulempar jauh-jauh. Sepanjang hari aku hanya mengutuki diri sendiri. Aku jauhkan diri dari semua orang. Bahkan waktu berinteraksi dengan Tuhan pun aku lakukan seadanya. Tidak ada ritual-ritual mengadu lagi. Hilang semua harapanku bahkan sebenarnya aku tidak pernah punya harapan dan tujuan. Aku hanya menumpukkan semua harapan untuk mewujudkan harapan-harapan orang lain. Aku tidak tahu apa yang aku mau. Aku tidak tahu apa yang aku bisa. Dan aku merasa aku sudah tidak berguna lagi di dunia ini.
Miris memang pernah berada di lubang peratapan seperti itu. Hampir saja aku lupa diri, hampir saja aku menghantarkan diri ini pada kemusnahan. Dan itu hampir saja….
Dan Masya Allah, Allah Maha Baik. Pada suatu hari di hari-hari kelam itu, bisikkan perkataan ibu sewaktu aku kecil tiba-tiba terngiang di telinga. Terlintas pula nasehat dari para guruku di pesantren tentang anjuran agar menjadikan al-qur’an sebagai teman hidup. Saat itu, aku tidak benar-benar meyakininya. “Apa hebatnya sih? Kok kita harus berteman dengan sebuah buku!” Pikirku saat itu.
Ternyata, panggilanNya tidak hanya sampai situ. Tanpa kusadar, Allah seperti memberi rambu-rambu petunjuk agar aku mau kembali, bertahan, dan melepaskan semua beban hidup agar tidak ditanggung sendiri. Temanku saat itu hanyalah handphone. Qoutes kata-kata hikmah di media sosial, perlahan mengajakku untuk mau beranjak dari keterpurukan. Hingga ada satu untaian kata yang memberi petunjuk, kurang lebih begini. “Al-qur’an adalah obat”. Saat itu pun, langsung terlintas lagi nasehat-nasehat guruku, perkataan orang tuaku. Dan aku hanya bisa terdiam. “Jika memang ini petunjukNya, aku ingin mencari kebenarannya.”
Bayangan-bayangan tentang menyudahi hidup kuhempas jauh-jauh. Aku hadirkan diri untuk mencari kebenarannya. Lalu, perlahan Allah gerakkan hatiku menonton sebuah acara Hafiz Indonesia RCTI di Youtobe. Yaa qadarullah, aku jarang menonton tv karena di pesantren tidak ada tv. Dan Masya Allah, perlahan-lahan hati yang awalnya seperti tertutup dan hampir mengeras, mulai meluluh. Saat mendengar kalam-kalamNya yang indah, air mata ini tak bisa lagi terbendung. Jadi, selama ini aku kemana aja? Sebenarnya, kepada apa dan siapa aku menggantungkan diri? Dan sebenarnya kemana mauku?
Tumpah air mataku. Basah bajuku oleh tangisan penyesalan. Terlebih lagi saat aku mendengar bahwa dalam kalamNya, agar jangan putus asa dari rahmat Allah.
Kuhelakan nafas panjang. Yaa, aku sudah terlalu jauh berpaling. Aku harus kembali. Maka mulai saat itu aku putuskan untuk mau lagi berinteraksi denganNya. Kumulai perbaiki hubunganku denganNya. Dan bersedia membaca lagi kalam-kalamNya.
Dan alhamdulillah, Allah bimbing aku untuk tidak lepas dari menggenggam hidayahNya. Aku dihantarkan untuk bersedia belajar dan mengajar mengaji di TPA tempat TK-ku dulu. Kuputuskan untuk sejenak rehat dari perjalananku menlanjutkan pendidikan. Walau usiaku akan berkurang, dan mungkin teman-temanku akan sukses duluan, tak mengapa. Yang penting aku bisa menemukan diriku terlebih dahulu dan menemukan definisi suksesku sendiri.
Dan hari demi hari, aku menemukan banyak hal yang berarti. Satu persatu bagian diriku yang hilang itu kembali. Aku tumbuh kembali menjadi diri yang utuh. Aku merasa lebih baik dengan ketenangan yang senantiasa menyertai. Dan ini adalah anugerah terbesar bagi hidupku. Sebenarnya, Allah sudah hadirkan al-qur’an yang kubutuhkan bahkan sebelum aku mengetahui apa yang kubutuhkan. Al-qur’an yang pernah dibaca, didengarkan, tersimpan rapi dirak lemari, yang digaung-gaungkan oleh kedua orang tuaku dulu untuk dipelajari. Dan inilah jawabannya. Al-qur’an yang seharusnya diyakini menjadi pedoman bukan hanya sekedar cukup diketahui secara definisi saja. Al-qur’an adalah teman yang harus diimani, dan layaknya seorang sahabat, harus dilimpahkan kepercayaan penuh kepadanya tanpa ada keraguan sedikitpun.
Dan setelah hidayah ini datang, satu tekadku “Aku tidak ingin membiarkan hidayah itu pergi lagi.”
Yaa, sekalipun kehidupanku sudah mulai membaik tetap saja ujian silih berganti, aku tetap mensyukurinya, karena kini aku sudah lebih siap menghadapi semuanya. Aku tidak akan memilih jalan menyerah lagi, aku sudah menemukan diriku bersamaan dengan teman hidupku.
Maka untuk menjaga semua anugerah yang Tuhan beri, Allah menautkan hatiku untuk mulai bersungguh-sungguh menghafal al-qur’an. Walau pada awalnya ada perasaan khawatir dan takut karena betapa beratnya tanggung jawab seorang penghafal al-qur’an. Namun, setelah direnungkan ini adalah jalan terbaik untuk tetap menjaga keistiqomahan bersamanya.
Dan dengan kemauan kuatku itu, Allah pertemukan aku dengan Kelas Tahfiz Online dari instansi pendidikan Tahfiz di daerah Padang. Alhamdulillah, walaupun online tapi aku benar-benar terbantu. Saat itu programnya 4 bulan dan alhamdulillah aku bisa menyelesaikannya dan mendapatkan 1 juz hafalan.
Dan sebulan sebelum program tahfidz di kelas online-ku usai aku mendapatkan bc-an di suatu grup WhatsApp tentang Rumah Qur’an Nurhidayah Online. Aku pun mencari tahu lebih jauh, sepertinya aku sangat membutuhkan lingkungan seperti itu, berada ditengah-tengah orang yang sedang memperjuangkan kualitas diri dan menjaga keimanannya.
Dan Alhamdulillah, aku merasa beruntung berada di sini, dengan didampingi oleh ustadzah-utadzahnya yang luar biasa aku seperti mendapatkan role model muslimah sejati untuk diriku sendiri. Disamping itu, di ruQun ini tidak hanya menyediakan program menghafal al qur’an saja, tetapi ada program-program lain yang membantu meningkatkan kualitas interaksi kita dengan al-qur’an, disertai dengan adanya program pengembangan diri seperti: kelas menulis; workshop; ngaji bareng, dll. Tidak jarang juga ustadzahnya mengajak bermuhasabah diri, mengingatkan sholat tahajjud, membaca al-kahfi, dll. Semua hal ini membuatku seperti berada di taman surga. Yang mana diliputi nuansa kebaikan yang terus menerus. Saling mengingatkan dan menjaga. Saling peduli dan berkasih sayang. Disinilah kutemukan ukhuwah islamiyyah yang sesungguhnya, bahwa berjuang sendirian dan sukses sendirian tidak akan memberikan untung yang banyak. Tetapi dengan sama-sama mengajak saudara semuslim kita, saling merangkul, membina, dan menjaga, harganya tidak tertebus oleh dunia dan isinya.
Dengan hal itu, aku ingin mengucapkan terimakasih kepada Allah atas hidayah yang sangat mahal ini, bantu aku untuk senantiasa Istiqomah yaa Allah, aamiin. Dan juga terimakasih kepada orangtuaku tercinta, guru-guruku, teman-temanku dan juga terimakasih Rumah Qur’an Nurhidayah, semoga panjang usia kebaikannya dan terus memberikan manfaat terlebih lagi umat. J
“Bersama al-qur’an aku menemukan diriku yang sebenarnya. Yaa dialah teman hidup yang sebenarnya”

















