Viral Chat Dosen ‘Kok Kamu Atur Saya’, Ini Tips Komunikasi yang Baik
togel hk - Warganet di Twitter dihebohkan dengan postingan akun @collegemenfess pada tanggal 15 Agustus 2020 yang memposting screenshot chat seorang mahasiswa dengan dosennya. Postingan tersebut sudah dikomentari oleh warganet sebanyak 3.300 komentar, 6700 retweet dan sebanyak 15.800 likes.
Cuitan @collegemenfess tersebut merupakan bentuk kesedihan dan kekecewaan seorang mahasiswa terhadap dosen pembimbing skripsi-nya. Seperti yang tertulis di postingan tersebut, mahasiswa tersebut juga merasa respons dosen yang lain tidak ada yang seperti itu.
“gue nangis banget. selama ini ngga pernah diajar beliau. Kemarin beliau jadi dosen tamu di sidang gue, dosen lain ngga ada yg respon begitu. Gue nangis bgt.” tulis akun tersebut.
Ada beberapa penyebab mengapa bisa terjadi miskomunikasi antara lain adalah kurangnya edukasi mengenai etika komunikasi pada generasi yang lebih muda, ingin serba instan, kurangnya empati akan situasi seseorang, pilihan kata yang kurang tepat, dan yang terakhir karena adanya perbedaan budaya.
“Oleh karena alasan ketiga, yaitu kurangnya empati akan situasi seseorang, pemilihan kata ketika berkomunikasi menjadi sangat penting. Bolehlah mahasiswa terburu-buru dan ingin cepat dijawab, tapi selain etika, pemilihan kata juga penting ya,” ujar Anastasia Kiki Widiantari, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jumat (21/8/2020).
Menurut Widiantari, pemilihan kata yang tepat dapat dilakukan dengan cara mencari dan mengganti kata atau kalimat lain yang berbeda tetapi memiliki esensi atau makna yang sama. Selain itu, Widiantari juga menambahkan bahwa kurangnya edukasi mengenai etika komunikasi pada generasi yang lebih muda disebabkan oleh perbedaan tata krama. Berbeda dengan generasi terdahulu di mana tata krama memang sangat ditekankan, baik di rumah maupun di sekolah.
Widiantari memberikan beberapa tips bagaimana untuk meminimalisir kesalahpahaman dalam berkomunikasi antar mahasiswa dengan dosen yang menurutnya tidak mudah untuk merubah kebiasaan yang sudah terbentuk lama. Namun, hal tersebut bukan tidak mungkin.
Menurut Widiantari, konteksnya disini adalah mahasiswa dan terdapat dua sudut pandang yang berbeda, yakni dari mahasiswa dan dosen itu sendiri.
“Jika dari mahasiswa, ingatlah jika kalian memasuki dunia perkuliahan, berarti kalian selangkah lagi untuk memasuki dunia kerja di mana etika dalam bekerja itu harus dilatih sedari dini supaya dapat diterima di lingkungan kerja dan karirnya lancar,” kata Widiantari.
Selain melatih etika dalam bekerja agar dapat diterima di lingkungan kerja, Widiantari juga menambahkan bahwa kampus memiliki peranan besar membentuk mahasiswa mempunyai etika kerja yang baik. Mahasiswa dari latar belakang apapun dapat belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru dan melatih etika dalam berkomunikasi, sekaligus melatih softskill. Kemudian yang paling penting adalah tetap menjaga emosi saat berkomunikasi.
Selanjutnya, Widiantari juga memberikan sudut pandang dari sisi dosen sebagai pengajar yang dianggap lebih sulit untuk dijelaskan. Widiantari mengatakan bahwa ia akan mencoba memahami latar belakang cara berkomunikasi dan mencoba menghadapi mahasiswa yang kurang mengerti etika berkomunikasi dengan sabra.\
Namun, terkadang Widiantari merasa harus tegas. Akan tetapi tidak semua dosen seperti itu, kampus memberikan etika berkomunikasi yang bertujuan untuk menjembatani masalah kesalahpahaman dalam berkomunikasi.
Kemudian, Widiantari memberikan tips bagi mahasiswa agar kedepannya hal serupa seperti kesalahpahaman komunikasi antar dosen dengan mahasiswa tidak terulang lagi. Pertama, Widiantari mengatakan bahwa mahasiswa harus belajar menggunakan kalimat Bahasa Indonesia yang baik dan benar, hindari menggunakan kata yang informal dan kurang sopan seperti, ‘gak’ dan ‘gimana’.
Yang kedua, mahasiswa juga harus mempelajari jadwal kerja dan karakter seorang dosen. Pada akhirnya mahasiswa dapat mengetahui apakah dosen sedang sibuk atau tidak.
Widiantari melanjutkan, “Kemudian yang ketiga, selalu perkenalkan diri dulu jika itu awal komunikasi kalian dengan dosen karena dosen tidak mungkin bisa mengingat semua mahasiswa dengan tepat, dosen juga manusia ya,”
“Keempat, dalam chat kalian, gunakan salam pembuka, kata 'maaf' atau 'mohon maaf' karena mengganggu waktu dosen tersebut, dan terima kasih di akhir percakapan,” ujar Widiantari
Yang kelima dan terakhir, Widiantari menjelaskan bahwa mahasiswa harus menghindari penggunaan singkatan ketika membuat pesan. Selain itu, mahasiswa juga harus konsistem terhadap omongan-nya. Apabila seorang mahasiswa sudah diberikan suatu kemudahan, mahasiswa tersebut harus menunjukkan kesungguhan kepada dosen karena tidak ada dosen yang tidak merasa senang terhadap mahasiswa yang konsisten