Syukur alhamdulillah, pagi ini, ayah saya berhasil menyelesaikan urusan akademiknya, baru saja beliau wisuda dari kuliah S3 nya di jurusan Administrasi Pendidikan UPI.
Ada pelajaran yang sungguh berharga yang bisa diambil dari lulusnya orangtua saya dalam mencapai S3.
ayah saya kuliah ketika saya duduk di SMA kelas 2 akhir, dan baru selesai selepas saya lulus kuliah. Beliau menyelesaikan kuliah program S3 selama 7 tahun lamanya.
Bukan karena malas, tapi rintangan yang dihadapi begitu berat, bahkan sampai memengaruhi kehidupan keluarga kami beberapa waktu.
Ayah saya adalah seorang trainer, banyak ilmu yang saya curi dari beliau, dari obrolan ketika makan, atau obrolan ketika mencuci baju, dsb. Beliau begitu lincah, pergi ke satu tempat ke tempat lainnya, mengajar dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Di tahun ke-3 perkuliahan S3, ayah saya terkena gejala stroke. Tubuhnya yang biasa bergerak lincah, harus terbujur kaku, dirawat di rumah sakit. Akibat dari gejala stroke ini, ayah saya cuti kuliah dulu, selama kurang lebih 1 tahun. Nampak, koordinasi tubuh mulai kurang baik. Terkadang, untuk berjalan perlu dibantu. Bahkan sering sekali, jika berjalan nampak terlihat lemas.
Setelah mengalami 1 tahun stroke, ayah saya bersikukuh ingin melanjutkan kembali kuliah S3. Sejujurnya, keluarga meminta untuk menyudahi kuliah, karena dengan kondisi seperti ini, akan menyulitkan kuliah. Tapi, ayah saya begitu yakin dengan pendiriannya. Akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, ayah saya meneruskan kembali kuliahnya dengan kondisi yang tubuh yang nampak lemas. Untungnya, ayah saya masih bisa menggunakan pikirannya secara baik.
2 tahun berselang, keluarga kami kembali mendapatkan berita buruk. Ayah saya tertimpa pagar sebuah rumah yang terlepas dari temboknya ketika sedang mengendarai motor. Mengakibatkan terjadi benturan di kepala dan mengganggu kinerja otaknya.
Kali ini, kondisinya jauh lebih parah dari gejala stroke waktu itu. Bahkan, tidak hanya tubuhnya yang melemah, namun juga ingatannya ada yang hilang. Ayah saya bahkan tidak ingat restoran fastfood favoritnya, nama barang-barang yang biasa digunakan, bahkan sempat lupa nama saya.
Perlu penyembuhan kurang lebih selama 6 bulan untuk akhirnya bisa mulai kembali membaik. Namun, kondisinya tak bisa kembali normal, adanya benturan membuat gangguan di otak sehingga kadang kala lupa akan beberapa kata.
Namun, akhirnya ayah saya tetap ingin menyelesaikan urusan kuliahnya. Saat itu, keluarga juga tidak setuju. Apalagi dengan kondisi seperti ini. Namun ayah saya tetap ingin menyelesaikan kuliah, apapun yang terjadi. Padahal, saat itu, jatah kuliah ayah sudah tidak memungkinkan untuk lulus karena banyaknya cuti yang diambil.
Tapi luar biasanya, kami ditunjukkan jalan yang baik. Para dosen memperbolehkan ayah saya untuk melanjutkan kuliah, dan menjadi semangat bagi ayah saya untuk terus menyelesaikan kuliah. Hingga akhirnya, dalam 1 tahun, ayah saya menyelesaikan disertasinya dengan kondisi fisik yang kurang baik. Alhamdulillah, di pertengahan 2016, ayah saya menyelesaikan sidang S3nya.
Beberapa hari yang lalu, ayah saya mengalami sesak nafas luar biasa. Dan penyakitnya terus berlanjut. Bahkan, tadi malam, ayah saya diminta untuk diopname di RS karena kondisinya kurang baik. Padahal, besok pagi, ayah saya akan di wisuda. Namun, ayah saya tidak ingin diopname, beliau ingin menyelesaikan yang selama ini telah dikerjakan. Akhirnya, kami tidak melakukan opname dan diganti dengan banyak berdoa agar diberikan kelancaran untuk esok hari.
Dan pagi ini, saya berdiri di belakang para wisudawan, terpisah jarak 10 m dengan kursi wisudawan paling belakang. Dan saya sangat fokus, untuk mendengarkan nama orangtua saya dipanggil.
“Dr. Ir. Sukma Setiabudhi” ucap protokoler
Nampak dari layar LED, video ayah saya maju ke depan panggung, mengambil ijazah, sambil dipegangi oleh seorang petugas yang membantunya berjalan. Dan di titik itulah, hati saya terharu. “Alhamdulillah, sebuah cita-cita ayah saya yang didambakan selama ini, tercapai”.
Saya belajar tentang kegigihan dari ayah saya. Kegigihan untuk mencapai hal yang diinginkan. Melihat senyumnya di wisudaan, menunjukkan betapa puasnya ayah saya melewati kuliah S3 yang begitu berat itu.
Dan tahukah kamu apa rencana yang beliau inginkan setelah ini? Beliau ingin kuliah jurusan bahasa inggris di Universitas Terbuka.
“Selama masih hidup, kita harus terus mencari ilmu qi” ujarnya pada saya ketika selesai melaksanakan shalat.
Ayah saya, selalu menjadi inspirasi, bahwa semua orang bisa mempelajari ilmu. Tapi tidak semua orang, bisa mengamalkan serta membagikan ilmu.
Semoga, kita semua dijadikan orang yang senang berbagi ilmu, serta diikhlaskan hatinya dalam melakukannya.
Ayah saya, sudah menyelesaikan S3 nya, dan mungkin ini juga saatnya, saya memberikan S3 (baca : Estri) juga untuk kedua orang tua saya. Aamiin.