Demi allah aku butuh clobazam
Dan sesuatu yang tajam
dirt enthusiast
sheepfilms
No title available
One Nice Bug Per Day

Discoholic 🪩
NASA
d e v o n
tumblr dot com
DEAR READER
Not today Justin
todays bird
Keni

izzy's playlists!

roma★

Andulka
Sweet Seals For You, Always

JBB: An Artblog!
Stranger Things

shark vs the universe
styofa doing anything

seen from Malaysia
seen from Japan

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from Jordan

seen from Malaysia

seen from Italy
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia
@surau-sorrow
Demi allah aku butuh clobazam
Dan sesuatu yang tajam
Demi allah aku butuh clobazam
Di kamar pacarku, cemas, lapar, haus dan nahan pipis. Di luar rame laki-laki, aku familiar dan semuanya teman baik. Tapi aku lagi gak baik. Pacarku diam seharian. Katanya sih nggak kenapa-kenapa. Tapi aku ngerasa asing. Nggak tau ini gejala pra menstruasi atau memang pacarku yang asing, yang pasti aku nggak merasa nyaman. Aku mau pulang tapi ini hampir pukul satu dini hari. Jujur aja aku takut klitih. Aku takut mati. Tapi berada di sini bikin aku merasa sedih, kayak aku nggak diinginkan untuk berada di sini. Aku haus banget, ingin pipis dan kelaparan, tapi aku nggak berani ke luar. Panik harus ngelewatin laki-laki, padahal baru kemarin—bahkan baru tadi tatap wajah dengan mereka.
Aku haus banget, ingin pipis diselingin nangis, ingin makan juga, lalu tidur. Tapi aku nggak berani. Aku ngerasa terisolasi sama pikiranku sendiri. Aku pengen pulang. Aku cuma nggak tau gimana caranya. Sarmi, tolong jangan diemin aku lagi.
Aku benci realita bahwa aku selalu butuh keberadaan orang lain, setidaknya aku yang berada di sekitar mereka. Aku maunya kalau tidak Sarmi, Mama, Papa, adik-adik, ya kalau tidak, aku ingin mati.
Sejujurnya aku benci dengan dependensiku yang semakin hari semakin membabi buta terlebih kalau sedang sendiri. Lebih benci lagi karena orang-orang yang kuinginkan hadir hanya lima orang itu saja, tidak mau yang lain. Sedihnya, kemanjaan ini berlangsung terus menerus dan menggerus, aku sudah sama seperti parasit.
Tulisan ini baru saja kutemukan di draf. Membacanya aku takut, beberapa episode dari kejiwaanku yang tidak stabil jelas membuatku lupa diri—tepatnya aku tidak sadarkan diri. Jujur saja aku lupa, bahkan sempat kaget mengetahui aku pernah menulis pengakuan penuh sesal dan bebal seperti ini. Bebal karena keseluruhannya adalah benar, yang berbeda cuma sekarang aku sedang benar-benar tak berharap mati. Aku bahagia, terlampau bahagia dan pelit untuk merelakan hidupku, meninggalkan mereka yang kusebut di atas, tak ada yang kurang barang satu atau dua hal, semuanya terasa cukup dan berlimpah sekarang.
Dua paragraf suram yang aku tulis entah kapan dan kupersiapkan entah untuk apa tersebut cukup menyadarkanku bahwa sebenarnya mungkin aku bisa benar-benar gila di suatu waktu, mendambakan kematian padahal takut akan kesepian. Utopian.
Semoga semua kebaikan dibalas dengan kebaikan, dan segala bentuk keburukan, keserakahan, ketidakpuasan, rasa tega, pengabaian, kemunafikan, dan segala jenis sifat yang bersebrangan dengan bona fide mari kita balas dengan hahaha saja.
Tantrum
Terkadang aku bingung apakah sebutir Setraline tiap pagi hari benar-benar mampu mempertahankan kewarasanku. Entah kenapa yang kurasakan saat rutin menenggak racun-racun 'baik' tersebut justru kehampaan, lebih suram dari sekedar kesepian. Sunyiku bukan sekedar keheningan tanpa suara, sunyiku mati, seisi dunia seolah menghilang, yang kurasa aku terkurung, tersudut, teralienasi, disuatu ruang tak berwarna namun juga tidak transparan, ruang kosong tak bersudut-tak bersisi, bisa kau bayangkan tidak? Kalau tidak ya silahkan saja bayangkan sebuah tempat yang berwarna; hitam atau putih namun tanpa tepi di seluruh ruangnya, dan hanya ada dirimu sendiri, satu, sedang bingung dan mempertanyakan sesuatu yang bahkan kau sendiri tidak tahu kalimat apa yang tertera di depan beribu-ribu question marks di kepalamu. Manusia sekompleks itu. Menggambarkannya saja sulit, PANTSK ANJING VABI CAPEK NIAN KAMOANG RASANYA AKU PENGEN TERIAK SERAYA MENCABIK-CABIK KULIT LENGANKU WAJAHKU KAKIKU PERUTKU SAMPAI BUYAR HANCUR SAMPAI HILANG EKSISTENSIKU SAMPAI JIWAKU LENYAP TANPA MENINGGALKAN RESIDU.
Sori, aku bingung menjabarkannya, semoga jeritan barusan bisa menggambarkan betapa marah dan muaknya aku pada diri sendiri. Kalimat barusan adalah murni kemarahan tiba-tiba saat aku mencoba menulis paragraf rapi namun ternyata berubah haluan jadi amukan yang patetis ini. Benar-benar aku sudah sinting, kali ya? Maaf.
Psikiater bilang ini depresi. Beberapa minggu lalu, lebih tepatnya sebulan yang lalu, beliau mengganti diagnosanya dengan yang lebih baru. Pada minggu-minggu tersebut yang kulakukan hanya menangis tersedu-sedu, menyesali kenapa aku harus lahir, dan mengisolasi diri. Ditanya kenapa, akupun tidak tahu pasti. Yang jelas kamar yang dulunya kujadikan tempat favorit kini telah alih fungsi secara otomatis menjadi penjara paling sinting. Sendiri. Bingung. Marah. Sepi. Sedih. Yang berputar-putar cuma pikiran ingin mati. Diagnosa jahat yang tanpa sengaja tertanam di benakku selama 2 tahun terakhir telah berganti—beliau bilang aku Bipolar dan gangguan cemas akut. Lagi-lagi diagnosis jahat mengobrak-abrik pikiranku, serta kehidupanku. Mungkin benar manifesto ecek-ecekku, bahwasanya banyak pengidap gangguan mental yang pathological living, atau hidup atas keyakinan yang dibuat-buat sendiri.
Mengetahui diriku tidak selalu stabil secara mental dan terjerat label ‘pesakitan keren’—omong kosong yang diglorifikasi para muda-mudi generasi Y-Z bodoh dan narsis–padahal sebenarnya mereka waras dan baik-baik saja—justru membuatku mual, lambungku sudah kembung menyaksikan para keledai bodoh yang berlomba-lomba untuk terlihat paling beda, spesial, menderita dan putus asa. Sialnya diagnosa mandiri mereka membuat gangguan ini semakin disepelekan, dan dijadikan lelucon oleh orang-orang yang sepenuhnya waras kejiwaannya. Rupanya cap pretensius kini tak cuma berlaku pada skena permusikan saja, ya hahahahaha. Di saat ada yang benar-benar krisis, orang-orang jadi sinis dan memilih untuk apatis kan jadinya! Hahahahahahahahaha, ini aku sedang bercermin ya?
Padahal mau caper bagaimanapun ke seluruh dunia, kurasa orang-orang yang disebut empath kini mulai membatasi diri, ntah karena memang tidak ingin berbaik-budi lagi, atau sudah kepalang pesimis. Dan kalau dilihat-lihat lagi sepertinya memang semua orang dilanda kepusingan tingkat akhir. Siapa yang bisa menyelamatkan siapa?! Tidak ada yang benar-benar waras di dunia yang krisis ini. Ketidakwarasan ini kira-kira siapa yang bisa mengerti ya? Maksudku, kalau semua orang melewati fase hidup yang berbeda-beda, berarti kegilaan yang mereka hadapi juga berbeda-beda kan? Lantas kenapa aku jadi skeptis tak menentu begini ya terhadap orang-orang lain yang menunjukkan kelemahan dan keputusasaan mereka dengan caranya mereka sendiri? Hahahahaha satu lagi bentuk keegoisan manusia ketika mulai kehilangan atensi! Ironis.
Aku tidak tahu lagi sudah seberapa besar kebencianku terhadap dunia, terhadap manusia, terhadap eksistensi kita yang dihadapi misteri dan teka-teki di setiap detiknya, seperti cuitan basi akun-akun seram di Twitter, "tahu apa kamu soal?" Iya. Tahu apa kita soal dunia yang apesnya saat kita tempati sudah cacat dan terlampau intelek begini? Cuma bikin pusing. Tahu apa kita soal intensi Illahi ketika menciptakan kamu, Adam, Hawa dan buahnya, Bapak dan Ibumu di rumah, kekasihmu yang sedang mengedit lapis-lapis artboard seraya mencabuti kulit kering di wajahnya, hingga kucing amoral yang suka membobol lemarimu tiba-tiba? Tahu apa kita soal gejolak kegelisahan yang membuat beratus juta orang menangis, gemetar hebat hingga kejang kesemutan, ditanya kenapa mereka pun tidak tahu, selain;
kami merasakan urgensi untuk merisak diri sampai sakit sampai sakit sekali sampai tak sadar diri sampai hilang kendali sampai hilang identitas diri sampai hilang yang kita sebut eksistensi sampai mati, entah apa esensinya, kami tak peduli, yang kami ingin cuma pulih dan tidak terperosok lagi.
Dunia kenapa ya menyebalkan begitu? Atau lebih tepatnya, otakku kenapa ya menyebalkan begini?
Hidup sekompleks itu, bahkan kemampuan untuk memahami diri sendiri saja kebanyakan orang tidak punya. Apakah memang dunia yang pelit dan keji, atau manusianya saja yang kepalang tak sabaran sehingga seringkali mati, bahkan sebelum tubuh mereka benar-benar mati? Zombie? Mungkin teori tersebut benar adanya walopun apokalips belum benar-benar terjadi.
Hahahahahahahahaha ngomong apa sih, gebukin kepala aku dong, plis?
Surel balasan.
Terimakasih sudah pernah berisik dan melucu, ada terobosan lebih baik dari vaseline yang belum pernah kamu coba, satu label pasaran yang mungkin cocok untuk melembabkan wajah; sebut cetaphil ke salah satu SPG cantik drugstore kondang untuk beli.
Berhubung promo treatment gratis sehabis mandi-sebelum tidurmu sudah tidak valid, jangan manja dan malas untuk pijat-pijat lembut sekitar bawah mata, matamu pasti lelah menatap layar biru dengan lapis-lapis artboard yang bikin pusing, semangat dan jangan tunda tidurmu terus.
Biasakan isi penuh tumblermu dengan air putih sebelum masuk kamar, makan dan sebelum tidur, ngisi seperempat botol cuma bikin kamu capek bolak-balik dan semakin males minum. Anyang-anyangan gak enak, sakit beneran apalagi. jangan amini diagnosa dokter di kereta dengan kemalasanmu.
Burung-burung yang biasa berisik pukul 7 pagi di ventilasi kamarmu adalah satu dari hal-hal yang lumayan bikin murung. Mulai sekarang alarmku cuma suara ceburan air kolam renang ibu kos dan teriakan cucunya yang mengganggu. Ah sial, pensiun jadi rapunzel sedih juga ya.
Sekarang hiburanku di kamar mandi bukan lagi nyikatin pasir-pasir item di ubin kalian (seru banget karena gak abis-abis), tapi adu nyali membunuh cacing. Ah shit, here we go again.
Ingat, promo burgerking nasgor seafood tongseng balung yamie nasi kucing sambel teri donat kentang dan cimory mie piggo snack aneh trendy pisang ijo angkringan enak unknown pukul 1 malam sanger dan teh tarik, solo mukbang sambil nonton mufi cukup membantu untuk refill serotonin, kalau-kalau kamu butuh.
Yha persetan soal tetap solo atau berdua bertiga atau bersepuluh—kamu kedepannya, masih jauh lebih banyak doa dan semoga dariku tentu saja. Sehat-sehat, Sarmi.
Kata Sarmi, ini catatan terimakasih.
Catatan terimakasih, bukan cuma lampiran skripsi aja yg butuh.
Terimakasih asupan ucapan "semangat" nya di berbagai kondisi, tidak bisa dibandingin dengan efek taurina yang terkandung di ribuan botol kratingdaeng.
Terimakasih untuk selalu mengingatkan untuk memperbanyak minum. Aku ketemu semacam dokter di kereta, dia bisa nganalisa penyakit dari saraf di pergelangan tangan, dari berbagai diagnosa penyakit, dia cuma kasih saran untuk memperbanyak minum, kamu mendahuluinya ratusan hari yang lalu.
Terimakasih kehangatanya telah menerimaku untuk menjadi rekan makan apapun di berbagai waktu di 7 bulan terakhir ini. Dan tentu jemputanya juga di beberapa kesempatan. Btw aku masih hutang sego godog. Satu lagi Dendeng kemaren enak banget.
Terimakasi tetap menjaga kelembaban wajahku, saran untuk memakai vasseline merupakan terobosan yang bagus, meski aku harus memakainya setiap habis cuci muka.
Terimakasih untuk kepedulian akan bibirku, gatau bakal seberapa banyak luka kalau aku tidak mengikuti metode pencabutan yang baik dari kamu.
Terimakasih untuk mau turut mengurus akun instagram ora rugi, membantu memilih sandang di awul awul, mengambil foto, mengeluarkan energi untuk edit, upload dan saran caption.
Terimakasih telah melakukan semuanya dengan ikhlas. Semoga bisa merepotkanmu lagi dilain waktu, tentunya dengan porsi yang berbeda, keterlaluan banget kalau sama. Maaf aku meromantisir perpisahan, tapi beneran aku sangat pingin ngirim ginian, sekali lagi matursuwun meuthia: )
Kurang satu, terimakasih telah jadi pacar yang baik, kesimpulan dari semua.
—diterima Sabtu, 10/8/19, pukul 20.09. Membacanya aku nangis sampai pusing, mungkin saatnya aku hibernasi lagi sampai benar-benar pulih, terimakasih kembali, Sarmi.
Kamu adalah badai.
Yang mana telah aku amini bahwasanya kamu samadengan angin, yang menyapu habis nestapa. Adalah debu, sebagai pengganti wudhu—setidaknya orang-orang bilang begitu, lantas kunggap kamu yang akan membersihkan sendu, tanpa peluh, tanpa keluh. Adalah hujan, yang runtuh sejuk tepat di pusat ubun-ubunku, lalu membasuh kuyup sampai ke hati paling hulu. Adalah pusaran, yang mengitari benakku dengan yang lucu-lucu, pun tidak lupa obrolan soal aku-kamu, sampai ke gumaman dungu dariku—setidaknya jadi imbang ketika kamu balas dengan fakta-fakta seru bak guru-guru itu. Seringkali sok tahu sembari menerka-nerka kepusinganku, wah pacarku lucu, tebakmu meniru suaraku, kebanyakan betul sesekali diselingi saru.
Akhir-akhir ini dibuat bersemi—tentu saja lebih heboh dari melati, mengemis atensi sampai tidak tahu diri. Hari ini pacarku justru bungkam seperti Obi, menyendiri, sampai tak sadar badaiku kini jadi belati.
Jangan diam terus, Sarmi, aku hampir mati.
*Obi adalah anjing di kontrakan.
Aku harap aku kamu; yang dicintai sebegitunya hingga tak perlu lagi merasa takut lawanmu hilang, karena pada akhirnya yang dicari akan terus kamu, bukan aku. Karena yang cinta cuma satu—aku.
Kamu? mana tau.
Kamu, mana mau.
Aku mengingat-ngingat bualanmu di hari ke sepuluh; kau menyukaiku–sangat, katamu.
Di hari keduapuluh, bualanmu tak berubah barang sedikit; kau menyukaiku—sangat, katamu lagi. Untuk pertama kali, aku dibudak rayu—aku rasa aku jatuh. Aduh.
Di hari kedua puluh-sekian-entahlah, bualanmu mulai mengganggu; kau menyukaiku—sangat, tapi kau masih dimabuk candu pada si ayu. Batinku ngilu, sadar betul bayangmu makin semu.
Di hari ketigapuluh kuhitung lagi, kubaca lagi, bualanmu tak kunjung berganti; kau menyukaiku—sangat, bedanya kali ini kau bermimpi perihal aku, kamu, bertemu—sampai tiga malam berturut. Kali ini kurasa kau bersungguh-sungguh, bualanmu jadi semanis madu; sialnya, kau mulai jadi hantu.
Di hari keempatpuluh sampai beberapa malam terakhir di pertengahan bulan taurus, bualanmu mulai layu. Aku rasa redup sudah penasaranmu pasca temu kesatu yang mendadak kawin dengan pengharapanku. Atensiku menggebu, sesekali tersulut—lalu hangus aku mendamba racun yang bermadu.
Rayumu palsu,
tipuanmu,
asu.
Ingatanku memutar ulang memori di dua bulan yang lalu kala Tuhan pertemukan aku denganmu di tanah pijakan para pendosa hingga para pengembala cinta bertransaksi sesuatu yang mereka namai afeksi; bisa berupa gesekan meki, virtual buddy, dan bahkan produk terburuk—buah dari interaksi, yang disebut hati.
Transaksi malam itu berjalan mulus dengan basa-basi seputar ilmu politik yang bagiku tidak lebih menarik dari seni dan puisi-puisi, membahas betina serta berbagai jenisnya, bertukar rasionalisasi tentang hal yang dicari dilahan hina ini, juga mengulas tentang potretmu yang kau anggap terlalu kemayu—percayalah, kau malah terlihat manis di potret itu.
Hari kedua, tanah hina tersebut mendadak berubah rupa jadi secair lautan bahkan samudera. Arus percakapan kian menderas sehabis tanda tanya yang kau layangkan pagi itu—menenggelamkan transaksi ini ke tahap yang lebih jauh dari ekspektasi awal si nona bodoh ini. Nona ini jatuh cinta, tuan, tapi terlalu kalut untuk mengakuinya. Perkara iman jadi ketakutannya yang utama. Semakin jatuh lagi, kala aku, si puan bodoh ini malah larut dalam kepercayaan instan—terhadapmu tentunya, dan terhisap dalam pusaran afeksi—yang kukira kau juga akan larut didalamnya.
Hari keempat, lima hingga seterusnya sampai hari kesekianpuluh, setelah terus menerus bermain teka-teki, setelah melewati basa-basi, setelah larut dalam imajinasi tak bertepi, setelah mengitari jalanan ramai hingga sepi, setelah beragam lelucon konyol yang kau lontari, setelah senderan kecil hangat yang aku beri disela-sela lorong sunyi yang kita lewati, setelah obrolan yang membuat nyeri tiap kali membahas yang sedih-sedih tentang eksistensi ‘kita’ yang aku kira saling bersimpati, setelah berbutir-butir emoji hati yang terkirim ke satu sama lain tiap pagi, sampai akhirnya kita berdua tak lagi berinteraksi…baru aku tahu namamu Brihaspathi.
Kebetulan malam sebelumnya aku bermimpi—entahlah aku juga malas mengingatnya, setidaknya aku lega bisa berjumpa denganmu lagi. Tapi setelah pagi yang menyenangkan itu, siang justru menjadi malapetaka bagiku, dihadirkannya rentetan realita pahit yang kutemukan dari arsip-arsip digital yang lebih melukai dari sebuah belati;
Namamu Brihaspathi, kakak yang mengaku punya empat adik—salah satunya adik perempuan cantik yang selalu aku puji-puji; sang adinda yang baru saja aku ketahui sudah beberapa tahun terakhir kau kasih-kasihi.
Aduh polos betul si perempuan bodoh ini, menaruh hati pada tuan pembohong yang sedang coba-coba bermain api. Sayang kemarahan puan ini tidak valid lagi, dan bahkan sesungguhnya tidak pernah valid. Puan yang sebelumnya mati rasa ini mendadak tersungkur oleh afeksi yang turut kau ciptakan dari hari kehari.
Makin takut perempuan ini pada lelaki karenamu, Brihaspathi.
Kini yang kurasa hanya rasa malu bertubi-tubi karena aku setulus-tulusnya mengasihi, sedang dirimu berkali-kali membodohi.
Manusia memang terlahir hipokrit kataku diawal perkenalan. Dengan gamblang aku utarakan kelabilan termurni seorang insan manusia, pun kamu juga turut mengaminkan. Keduanya; aku dan kamu ternyata larut dalam kemunafikan. Aku bilang aku tak akan jatuh, karena bukan itu tujuan awalku—ya walaupun aku sadar betul; soal hati siapa yang tahu. Pun kamu juga mungkin begitu. Toh pernyataanku sahih, pada akhirnya kita hanyalah dua jiwa yang terbuai oleh manisnya interaksi. Tidak salah kan persepsi ini?
Begini, aku beri tahu…kini aku mengandung bongkahan-bongkahan kecil afeksi yang perlahan membukit sejak pagi ke-dua waktu itu. Pengharapanku hanya satu yang menjadi beribu; ⠀ aku ⠀ ingin ⠀⠀⠀kamu terus tidak kurang ⠀ tidak lebih ⠀⠀⠀⠀ aku ⠀⠀⠀⠀ ⠀ingin ⠀⠀⠀⠀⠀ ⠀kamu ⠀⠀⠀⠀⠀terus ⠀ ⠀ ⠀jadi ⠀ ⠀ teka ⠀ ⠀⠀teki ⠀⠀⠀⠀tiap ⠀⠀⠀pagi ⠀ ⠀dari ⠀⠀⠀hari ⠀⠀⠀⠀ke ⠀⠀ ⠀⠀hari ⠀⠀⠀⠀lagi ⠀⠀ ⠀lagi ⠀ ⠀lagi ⠀⠀lagi ⠀⠀⠀lagi ⠀ ⠀⠀⠀lagi ⠀ ⠀⠀sampai ⠀ ⠀nanti ⠀sampai akhir ⠀ sampai ⠀⠀⠀kita ⠀ ⠀⠀⠀lupa ⠀⠀ ⠀⠀⠀diri ⠀ ⠀⠀⠀⠀⠀o ⠀⠀⠀⠀⠀⠀。 ⠀ ⠀⠀⠀⠀。 ⠀ ⠀⠀⠀.
Tapi jangan, Nanti kamu risih. Tapi jangan, Nanti kamu pergi.
bernama vajaynab yang senang sekali menerpa silaunya pesona fuccbois edgy dari universiti tetangga hingga matanya berevolusi jadi meki tapi ora sudi liat bapa bapa di ayopoligamidotcom sebab dah pada uzur cuma nga sadar komuk dasar lelaki crocodile pemangsa ukhti ukhti ora laku. sana binasa kalian!
i asked him to stop staring, because his charm burns every particles of mine; my cheeks, he makes them flushed and hot. and oh—now they're melts away.
kamu suka sekali bervakansi ke mimpi ya?
sekenanya bawa-bawa rindu kesini!
mendadak sarafku jadi dilematis;
“bangun lalu meringis,
atau tidur sambil menangis?”
ish!
belum selesai aku berpikir,
kamu bilang kunjungannya malam ini hampir habis
sebentar sekali sih?!
ah
ya sudah
mati sajalah
daripada dihantui oleh kamu lagi
nihil faedah
yang kudapat hanya gundah
dasar bedebah!
—sepertiga malam terakhir setelah kunjungan tuan.
Retorika Hampa
Aku mengutuk jarak; yang menjadi ruang tempat kita berdialektika tentang indahnya erotika manusia. Aku menggeram pada dinginnya malam-malam belakangan yang entah kenapa terasa menyejukkan namun tetap kesepian.
“Aku benar-benar butuh cinta,” katamu lewat pesan.
Duh. Andai kita bisa beretorika diatas ranjang yang sama, ya.