Di manakah aku sekarang? Aku membayangkan bahwa aku sedang berjalan melewati padang rumput yang terlihat hijau di akhir musim hujan ini dengan pemandangan pegunungan hijau nun jauh di sana. Terlihat sebuah danau di tengah padang rumput ini. Serasa berada dalam lapangan golf, kau tahu? Tapi kenyataannya sekarang, aku masih di sini sedang duduk manis di bangku di dalam perpustakaan dengan yoochun - nama laptop tersayang - di depan ku sedang memandangi dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan di luar gedung perpustakaan ini.
Walaupun di dalam perpustakaan ini terlihat banyak orang dengan aktivitasnya masing-masing, aku merasa kesepian. Biasanya memang seperti itu juga sebenarnya. Perasaan kesepian yang selalu kurasakan karena aku merasa tak ada seorang pun yang di dunia yang peduli padaku. Bukan karena aku manja lalu aku merasa perlu untuk diperhatikan, tapi mungkin karena kurangnya cinta yang kurasakan selama 22 tahun hidupku ini yang menjadi penyebabnya. Tapi, bila kau bertanya kepadaku apakah cinta itu maka aku belum bisa menjawabnya sekarang.
Aku hanyalah seorang gadis (atau dapatkah aku menyebut diriku sebagai perempuan?) biasa dengan tinggi badan rata-rata perempuan Asia dengan kulit cokelat khas sawo matangnya dan bentuk tubuh seperti buah pir bila orang Amerika menyebutnya. Bila kau melihatku mungkin kau tak akan pernah menduga bahwa aku masih berumur 22 tahun. Ya, aku mengakuinya bahwa aku memang memiliki wajah yang lebih tua dari umurku yang seharusnya. Kau ingin tahu ini terjadi karena apa? Ini terjadi karena aku memamg telah dewasa lebih awal sebelum waktunya.
Aku tak pernah merasakan bagaimana hidup menjadi sebagai remaja perempuan yang biasanya di mana mereka masih sangat polos, murni, dan hanya merasakan indah serta manisnya kehidupan. Aku sudah kehilangan rasa manisnya hidup sejak remaja. Aku melihat bahwa di dalam hidup ini tak hanya manis yang harus kita rasakan tetapi pahitnya juga harus kita rasakan. Bisakah kau membayangkan bahwa kau akan merasakan pahitnya hidup sedini itu? Saat kau masih seperti bunga yang belum mekar dengan sempurna tapi karena suatu keadaan kau terpaksa mekar sempurna sebelum waktunya dan layu, mati dengan cepatnya, lenyap tak bersisa.
Mimpi yang selama ini aku impikan, yang selalu menjadi angan-anganku yang ingin ku raih saat ku dewasa serasa hilang satu persatu tanpa jejak. Hidup serasa tak bermakna tanpa adanya mimpi-mimpi itu. Tapi, saat kau mencoba memimpikan hal-hal baru untuk menggantikan mimpimu yang telah lalu, kau merasa tak akan pernah bisa. Rasa putus asa yang melanda semakin hari semakin menyiksa. Ingin rasanya melanjutkan perjalan yang sempat terhenti tapi setiap semangat datang, saat itulah semangat itu padam.
Lalu apakah yang harus aku lakukan? Apakah harus diam tanpa melanjutkan langkahku yang tertunda? Rasanya sangat menyesakkan. Aku ingin keluar dari semua situasi ini! Tapi siapakah yang akan membantuku untuk keluar dari semua ini bila semua orang sudah tak peduli denganku? Aku lelah. Ingin rasanya ku berteriak kepada dunia,
“Kenapa aku? Kenapa bukan yang lain? Di antara tujuh miliyar manusia yang ada di Bumi, kenapa harus aku?”
Aku yakin kalian akan menjawab, “Semua yang terjadi di dunia ada alasannya.”
Sekarang, bila ku bertanya apa kalian mengetahui alasan kenapa semua ini padaku, apa kalian bisa menjawabnya? Ku yakin kalian akan mengembalikan pertanyaan itu kepadaku dan mengatakan padaku bahwa aku pasti mengetahui jawabannya. Tapi kalian salah. Aku tak mengerti alasan dibalik semua ini. Bahkan aku tak dapat memahami diriku sendiri.
Hanya satu orang yang akan selalu hidup bersama kita yaitu diri kita sendiri. Bila kita bisa menerima diri kita dan memahami diri kita itu sebenarnya siapa maka itu tak akan menjadi masalah. Namun, bila kau tak memahami dirimu sendiri lalu kau harus bagaimana? Ini benar-benar membuatku frustrasi. Aku ini siapa?
Orang-orang berkata bahwa kebahagian itu datangnya dari dalam diri kita sendiri. Di mana kita harus memahami diri kita sendiri sebelum kita memahami orang lain. Tapi pada kenyataannya di dalam hidupku akan lebih mudah bagiku untuk memahami orang lain daripada aku memahami diriku sendiri. Ironisnya, orang-orang yang dengan mudah aku pahami itu tak bisa memahami keadaanku. Aku selalu merasa mereka memanfaatkan kebaikanku kepada mereka.
Bukan aku tidak ikhlas atas apa yang aku lakukan untuk mereka tapi aku ingin berkata pada mereka, “Ku mohon untuk kali ini tolong pahami aku.” Karena dada ini sudah sesak dengan banyaknya perasaan yang aku pendam di alam bawah sadarku. Dapatkah kau bayangkan saat kau ikhlas melakukan sesuatu untuk membantu orang lain tapi semakin lama orang tersebut menjadi selalu tergantung padamu dan kau merasa lelah akan semuanya lagi dan lagi?
Apa kau mengetahui suatu pepatah yang berbunyi, “ The loneliest people are the kindest. The saddest people smile the brightest. The most damaged people are the wisest. All because they do no wish to see anyone else suffer the way they do.” Lalu saat ku perlakukan kau dengan ramah, akan kau memperlakukan dengan sama atau kau akan memperlakukan aku seperti mereka? Mereka yang hanya memanfaatkan keramahan dan kebaikanku hanya untuk kepentingan mereka?
Betapa mulia tujuan orang-orang yang disebutkan dalam pepatah tersebut. Tapi yang mereka dapatkan malah lebih buruk dari apa yang selama ini mereka rasakan. Dapatkah kau membayangkannya? Dapatkah kau merasakannya? Ku rasa kalian tak akan pernah mengerti bagaimana rasanya.