Dari awal bikin blog sejak SMP (yang berlanjut ke kuliah dan kerja!), kebanyakan isinya cuma puisi atau cerita singkat yang menye. Nggak tahu kenapa ya, emosi saat sedih secara nggak sadar bikin motivasi nulis makin tinggi. Semakin sedih, semakin lancar pula nulisnya. Parah, sih, tapi ya… daripada nggak nulis sama sekali? Hahaha.
Tentu aja aku nggak mau kebiasaan ini berlanjut karena bikin nggak terlalu produktif dan kayanya capek deh nulis sedih-sedihan melulu. Klise banget, tapi memang mungkin aku sedang butuh sesuatu yang baru di awal tahun 2019.
Februari ini resmi memasuki bulan keenam aku bekerja di salah satu multinational advertising agency di Jakarta sebagai seorang copywriter. Kantor ini dulunya juga tempat awalku magang, tempat di mana aku memantapkan niat untuk masuk ke dunia persilatan ahensi. Dan aku nggak salah, my bosses and collagues are just so great! Meski kerjaan dan brief dadakan kadang mengobrak-abrik jam tidur, orang-orang kantor berhasil bikin diri ini tetap happy dengan jokes receh dan petuah kerjaan serta kehidupan yang nggak ada habisnya.
Kehidupan sebagai seorang “fresh graduate yang akhirnya merantau ke ibukota untuk bekerja” awalnya berjalan dengan lancar. It was some kind of liberation! Merasa bebas, mandiri, dan merasa udah jadi orang dewasa yang bisa mengambil keputusan sendiri (this was gooood at the very beginning). Pekerjaan di kantor juga nggak main-main, tanggung jawab sepenuhnya pun aku pegang. Hingga akhirnya di bulan ketiga (atau keempat, aku lupa), ada sesuatu yang rasanya mengganjal.
“Do I really want this job? Am I doing great in my job?”
“Bener nggak sih jalan yang aku ambil sekarang? Kok rasanya aku gini-gini aja.”
“I don’t think I’ll be a great copywriter in the future…”
“Will I ever be afford to buy a decent house? A car? What about my future investment? And my parents, what about them???”
“SHIT I’M ALMOST 25 AND STILL A POTATO!”
Yup, kira-kira itu pertanyaan dan pernyataan yang ada di kepala selama beberapa bulan terakhir. Did it bother me? A LOT! Pertanyaan-pertanyaan ini udah jatuh di tahap mengganggu, di mana aku bisa mewek begitu aja saat lagi memikirkannya. Hasilnya, aku makin insecure dari hari ke hari. Setiap kerja, brainstorming, sampai present ide pun bawaannya minder. Melihat unggahan teman-teman di media sosial juga bikin drop. Akhirnya cuma bisa sambat dan uring-uringan. Is adulting really this hard?
Akhirnya, beberapa waktu yang lalu aku mulai teringat tentang istilah quarter-life crisis dan mulai googling buat menuntaskan rasa penasaran. Ternyata, menurut Alex Fowke, quarter-life crisis dikategorikan sebagai “…a period of insecurity, doubt and disappointment surrounding your career, relationships and financial situation.” Meskipun namanya ‘quarter-life’ alias usia ke-25, tapi nggak serta merta baru di usia 25 tahun orang bisa mengalaminya. Krisis ini bahkan bisa muncul di usia 18 tahun.
Beberapa hal yang aku dapatkan dari hasil googling singkat ini ternyata cukup menarik. Salah satunya adalah bagaimana krisis ini dianggap sebagai salah satu fase yang wajar dialami pada masa pendewasaan seseorang. It’s a part of adulting! Semua orang bisa dan sangat mungkin mengalami krisis ini. Oh well, ternyata aku nggak sendiri.
Artikel lain pun menunjukkan cara-cara untuk melalui krisis ini. Sewaktu dibaca rasanya simpel, tapi buat ngelakuinnya ternyata harus punya keyakinan diri yang cukup kuat. Dari sini aku berpikir untuk menuliskan aja hal-hal yang ikut andil dalam pembentukan quarter-life crisis yang membingungkan ini. Selain sebagai salah satu metode yang disarankan untuk overcoming the crisis, yaitu mengidentifikasi masalah, mungkin ini jadi pertanda buatku untuk mulai menulis sesuatu yang lebih konkret daripada puisi-puisi galau (ha!).
So, it’s final! Aku akan mulai menulis beberapa topik tentang quarter-life crisis dengan tajuk Almost 25. I think this is the right opportunity that might help me to overcome the crisis (dan sebagai latihan menulis yang runtut, cuz you’re a goddamn copywriter!) . I’ll write, discuss it with my friends, and of course, have some self-talk untuk merefleksikan masalah yang ada ke diri sendiri.
I’M SO EXCITED! Let’s start this sebelum 2019 tiba-tiba udah setengah jalan!
P.S. I don’t think anyone will read this but I’ll keep trying anyway!