Hirato baru saja memasuki portal masuk ke kapal saat ia menemukan beberapa Sheep mengelilingi lingkar portal tempatnya berdiri sekarang. Tidak seperti biasa di mana ia akan disambut dengan suara mesin dari sistem kapal yang akan meminta identifikasi dan melakukan iris-scanning, hening memenuhi ruangan saat robot-robot berbentuk domba mungil itu memandanginya seakan tengah menunggu sesuatu.
"Hirato, coba bilang sesuatu, apapun!"
Hirato menoleh ke belakang dan menemukan senyum bodoh Tokitatsu. (Sejak kapan dia ada di sini?)
Namun Hirato memutuskan untuk mengabaikan, awalnya. Memilih untuk bergerak menuju koridor untuk memasuki kapal lebih jauh, tetapi domba-domba itu malah mengikuti.
Ia melangkah ke kiri, dan para domba ke kiri.
Ia bergerak ke kanan, lalu dombanya ikut pindah ke kanan.
Pada akhirnya Hirato memutuskan untuk berhenti dan diam berdiri, memandangi para domba yang berdiri di depan Hirato, menahannya tanpa kata. (Memandangi, sungguh, bukan memelototi. Karena ia tahu mereka sama sekali tidak bersalah ataupun sedang butuh reparasi. Dan jika ada yang patut disalahkan maka pastilah orang yang kini berada di belakangnyalah si tersangka utama.)
"Hirato--" Tokitatsu memulai lagi.
"Bisa kalian siapkan heli dan ikat Tokitatsu-san lalu antarkan beliau kembali ke kantor secepatnya?" ia memotong kalimat pria berambut abu-abu gelap itu dengan datar. "Aku tidak ingat punya janji dengannya hari ini."
"Pemindaian suara berhasil, mee. Kapten Hirato dari Circus Second Ship, Anda boleh memasuki kapal, mee."
Hirato baru mulai melangkah menginjak baja lantai kapal, saat kali ini Tokitatsu sendiri yang masuk ke antara Hirato dan pintu koridor.
"Bagaimana menurutmu?" Diangkatnya salah satu Sheep dengan antusias di hadapan dada. "Aku menghapus sistem identifikasi lama kapal dan meng-upgrade program mereka dengan pengenal suara. Domba-domba ini sekarang bisa menggunakan sample suara yang telah diinput sebagai identifikasi, atau merekam dan menyimpan data suara baru ke dalam database dengan mudah. Jadi mereka yang akan menjaga pintu masuk, dan bisa langsung mengenali atau menangkap penyusup yang tidak terdaftar di whitelist tanpa harus dikoordinasikan dulu oleh kita. Lebih praktis, 'kan?"
"Hoo," Hirato mendesah mengerti, mencoba menarik senyum bisnis terbaiknya. "Kupikir kau datang untuk menghindari pekerjaanmu, Tuan Jenderal Teknologi Badan Pertahanan Nasional. Apa staff-mu sedemikian sibuknya mengurusi pekerjaan yang kau abaikan sampai tak bisa diutus ke sini?"
"Kejamnyaaa, Hirato! Aku sudah meminta mereka meng-upgrade Rabbit di first ship untuk test run. Tapi biar bagaimanapun aku ingin dengar pendapat adikku tersayang dulu."
Setelah membalas kedipan mata kakaknya dengan tatapan dingin tanpa kata-kata, Hirato bersiap pergi. "Kau membuang waktumu."
"T-t-tunggu dulu!" Tokitatsu berusaha mencegah dengan panik. "Setidaknya berikan komentarmu sebagai kapten, Hirato! Menginspeksi sistem baru sebelum diterapkan termasuk dalam job description-mu, 'kan?"
Langkah Hirato berhenti kali ini, dengan menahan helaan napas panjang. Ia lalu menatap ke salah satu domba yang berada di depannya. Robot AI itu balas menatapnya.
"Mereka tidak mengatakan apa-apa." Hirato bergumam sambil turun bertumpu pada salah satu lutut, meraih kepala salah satu domba. Bulu sintetis domba itu terasa lembut di telapak tangannya.
"Apa mereka bisa diprogram untuk mengatakan sesuatu yang akan memancing orang untuk membalas?"
"Maksudmu, meminta identifikasi dan nomor circus-ID seperti sistem lama?"
"Bukan," Hirato membalas lagi. "Sesuatu yang lebih sederhana."
Di kepalanya terbayang akan sosok pemuda berambut abu-abu yang menyambut segera setelah tangannya yang mungil meraih dan membuka pintu. Wangi bunga di vas. Cahaya matahari yang menembus melalui kaca jendela dan mencapai lantai. Buku di pangkuan tangannya. Lalu senyum cemerlang yang semestinya samar dalam ingatan, jika--
Hirato mendongak dan menemukan Tokitatsu yang menunggu, mengangkat alis dan tersenyum.
--tidak dilihatnya lagi barusan. Suara yang menentramkan, nada yang hangat, dan Hirato ingat persis bahwa kata yang berkali-kali didengarnya waktu itu adalah....
"...'Okaeri'," Hirato menjawab.
"Ooh!" Tokitatsu menyahut sembari menumpuk kepalan di atas telapak tangan, tanda mengerti. "'Okaeri', ya. Benar juga. Jadi orang yang masuk akan membalas mengucapkan 'tadaim'-- eh?"
Tokitatsu melihat ke arah Hirato lagi, mendapati lelaki berambut ungu tua ini bangkit dari posisinya.
"Tapi ini 'kan bukan ru--" Tokitatsu menghentikan kalimatnya lagi, saat ia bertemu pandang dengan sang adik.
Hirato hanya tersenyum tipis, dan berlalu pergi.
Setelah terpaku sejenak, Tokitatsu menghela napas maklum sambil memperbaiki letak kacamatanya.
"Curang sekali, Hirato." Senyum kembali ke bibirnya. "Setidaknya bagilah sedikit cintamu itu pada kakakmu ini."
[Karena mereka sangat mengerti; bagi anak-anak Circus yang tak lagi dianggap ada apalagi memiliki keluarga untuk pulang, kapal ini adalah satu-satunya rumah.]
|| Palu, 11 September 2014 ||