Ramadhan #10: Tentang Teguran Allah yang penuh Cinta
Teguran? Sering kita merasa bahwa teguran itu karena marah, karena tak suka atau karena ada yang salah. Apalagi jika orang yang menegur menggunakan mimik muka yang sangat mendukung atau bahkan menggunakan nada dan bahasa yang lebih tinggi dari biasanya. Tapi, tidak begitu jika tegurannya adalah teguran cinta. Ya, itulah teguran yang Allah berikan kepada nabi Muhammad, kekasih-Nya. Kala itu Nabi Muhammad pulang dari perang tabuk, meskipun tidak tejadi pertempuran dan Umat Muslim memperoleh kemenangan, tapi perjalanan 800km dan cuaca yang sangat panas bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Apalagi zaman dulu belum ada motor, mobil apalagi pesawat terbang. Di sela-sela melepas hawa-hawa perang itu Allah menurunkan sabda-Nya untuk Rasul: “Sungguh Allah telah memaafkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?” Mungkin kita bertanya-tanya? Dimanakah letak cinta-Nya. Bukankah dalam ayat ini terdapat teguran yang sama saja seperti teguran pada umumnya? Coba kita teliti lagi lebih dalam. Pernahkah seseorang menegur kita dengan berkata, “tidak apa-apa saya sudah memaafkan kamu. Tapi saya Cuma ingin tahu, kenapa kamu…?” pernah kah? Tidak kan? Atau mungkin ada yang pernah, tapi hanya satu atau dua orang saja. Dalam mata kuliah Tafsir Tarbawi, dosen saya—rahimahullah—sering menyinggung ayat ini sebagai salah satu contoh yang Allah berikan dalam mengekspresikan teguran yang penuh cinta. Beliau menjelaskan bahwa, bentuk cinta Allah dalam teguran ini adalah Allah lebih mendahulukan kasih sayang-Nya (dengan mengatakan: Allah telah memaafkanmu) dari pada mempertanyakan kesalahan Nabi yang mengizinkan orang-orang mukmin (yang munafik) untuk tidak berperang. Selain itu, dosen saya menambahkan… Allah juga sangat memahami kondisi psikis Nabi yang baru saja pulang berperang. Bagaiamana mungkin Nabi yang baru saja pulang berjihad Allah persalahkan. Bagaimana mungkin Allah langsung bertanya kepada Nabi, mengapa… mengapa.. atas jihad yang telah Nabi laksankan. Padahal jihad itu adalah titah Allah, dan jihad juga merupakan salah satu amalan yang paling dicintai-Nya. Tidak, Allah tidak demikian. Allah tidak mempersalahkan Nabi. Dan Allah juga tidak mempertanyakan kepada Nabi, mengapa… mengapa… seolah menistakan apa yang Nabi telah laksanakan. Melainkan Allah memafkan, dengan menuturkannya “in the very beginning of” sabda-Nya. Baru kemudian Allah menanyakan alasan Nabi mengizinkan orang Mukmin untuk tidak berperang. Dan Allah juga menjelaskan kepada Nabi perbedaan antara orang yang beriman dan tidak beriman dalam berjihad pada dua ayat berikutnya. Lalu pernahkan kita menegur seseorang dengan penuh cinta seperti yang dilakukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad ini? Atau justru teguran kita penuh amarah karena semata-mata dikendalikan oleh hawa nafsu. Semoga kisah ini, ayat ini, dapat menjadi pelajaran untuk kita bahwasanya Allah pun melakukan teguran dengan penuh cinta, lalu pantaskah kita menegur dengan“sekarep dewek”?. Wallahu a’lam Semoga bermanfaat.














