Beberapa minggu ini saya di serang dengan pertanyaan “kenapa ga kamu teruskan ilmu codingmu itu ?”
Hari ini diserang 3 orang, minggu kemarin diserang sama salah satu engineer. :D dan minggu – minggu kemarinnnya lagi.
Jujur, saya geli sendiri. Membayangkan deretan huruf – huruf mistis yang 3 tahun lalu saya putuskan untuk saya tinggalkan itu. Loh ? kenapa? :D
Saya dulu tidak pernah merasa salah jurusan. ( Ndak tahu, ini gengsi mengakui atau memang saya merasa tidak pernah salah jurusan waktu itu ? wkwkwk. Boleh dikira – kira sendiri.) Kenapa saya tidak merasa salah jurusan. Karena ya, ya dari awal saya memilih untuk masuk informatika. Saya tahu kalau di informatika saya akan berkutat dengan computer, software dan ilmu programming itu. Saya tahu kalau segala sesuatu yang berhubungan dengan informatika itu adalah hal yang asing untuk saya. Saya tahu itu. Bahkan saya ndak punya leptop waktu masuk kuliah semester pertama. Masih sering Makai fasilitas Lab dan komputer perpustakaan untuk ngerjakan tugas. Saya tahu kedepan mungkin akan sulit, susah, banyak ndak fahamnya. Saya tahu, tapi saya tetap menujunya. Kenapa ? karena di awal saya sudah yakin. (atau karena saya keras kepala ? entahlah itu mana yang benar. Disimpulkan sendiri (lagi) juga boleh :D ).
Dalam memilih jurusan ketika kuliah ini orang tua saya tidak banyak memaksa, terserah saya mau pilih apa. Orang tua saya yang memang hanya seorang petani desa, yang mereka tahu hanyalah kuliah itu jadi guru atau jadi insinyur. (ini jaman dulu..mereka tahunya ituu ) Mereka jelas tidak tahu kalau sekarang ada banyak sekali jurusan yang bisa dipilih. Bahkan jadi petani saja ada jurusannya. Lah mereka dulu jadi petani ilmu turun temurun saja.
Pilihan saya dulu kalau ga ketrima di pendidikan yang saya ambil informatika. Pilihan informatika ini sebenarnya hasil diskusi sama saudara sepupu saya, dia melihat nilai – nilai di raport saya, memberikan gambaran, lalu membuka kemungkinan kemampuan apa yang saya punya. Semua peluang dia jelaskan. Setelahnya saya mikir, berhari – hari. Dan hati saya manteb di informatika. Susah dijelaskan alasannya apa . Susah, tapi saya tetap menujunya. (entahlah, kadang saya itu yakin tapi ga punya cukup alasan buat menjelaskan, hanya bisa di rasain saja.)
Takdir, saya ketrima di D3 Informatika. 3 tahun menjalani perkuliahan di dunia informatika ini. Membuat saya berfikir ulang, kelak barangkali saya ga akan bekerja yang berhubungan dengan koding. Tapi saya masih memberikan peluang kepada diri saya untuk mengambil kesempatan ketika mendapat tawaran kerjaan yang berhubungan dengan IT asalkan tidak 100% ngoding. hahaha :D
Setelah lamaran demi lamaran saya masukkan. (banyak lamaran yang saya masukkan di perusahaan dan ambil bidang IT sebenarnya.. :D ) Akhirnya suatu pagi saya dipanggil interview di kantor tempat saya bekerja. Setelah diterima saya berfikir untuk saya ambil saja, ‘kenapa enggak?’.
Sampai sekarang, sampai saya pindah dari bagian pembelian ke divisi keuangan.
Dan siang ini terjadilah percakapan kecil diantara kami berempat :
“umi ini lo bagus. Bisa 360 derajat. 3D. Buat ngeliat desain rumah yang kita buat.”
“iya mbak, aku dulu pernah di ajari. Pernah nyoba.”
“kenapa ilmumu ga kamu lanjutkan. Ayo bikinlah kayak gini.”
“ga mbak. pusing.”, jawab saya pendek.
“looh kamu dulu salah masuk jurusan mbak ? dulu gap using?”
“yaaa.. pusing juga. Ya penting kan udah bisa keluar sekarang.”
Sebenarnya, dalam hati saya juga masih punya ingin (yang kecil) sih. Kembali berkutat dengan semua itu. Tapi kalau untuk urusan bekerja saya sudah tertinggal jauh. Harus lari marathon buat menyamai perkembangannya sampai saat ini. Tiga tahun itu lama, ilmu – ilmu itu pasti sudah berkembang pesat. Dan yang kami pelajari waktu kuliah dulu adalah ilmu dasar saja. Jadi lari marathon pun ga cukup rasanya, perlu sprint sambil marathon, eh atau marathon sambil sprint ya ?
Entahlah, saya termasuk orang yang biasa saja menyikapi : orang yang bekerja tidak sesuai jurusannya. Asalkan perusahaan menerima dan dia punya kemampuan untuk melakukan tugasnya. Ya, kenapa tidak ? Lain lagi kalau masalahnya perusahaan menetapkan syarat harus sesuai jurusan. Ya kalau dia mintanya jurusan elektro, gimana anak komunikasi bisa masuk ? dari syaratnya aja udah jelas ga diterima.
Yaa rejeki bisa datang dari mana saja kan? Atau barangkali suatu saat nanti ketika saya bosan dengan semua ini, saya justru pulang dan membuka lapak jahit – menjahit (baju) dirumah, atau saya pilih jualan jilbab dan rajutan online, atau saya malah memilih berkebun sambil jualan bunga hias, atau saya malah ngajar TPA saja, atau saya malah asyik menulis dirumah saja sambil menunggumu pulang. Begitu juga bisa kan ? XD