Belalang
[Cerita ini adalah bagian dari kumpulan cerita masa kecil saya yang kadang saya tuliskan jika suasana hati dalam keadaan happy. Hahaha ]
Cerita masa kecil itu rasanya ga akan habis meski diceritakan banyak kali. Tidak membosankan meski dikenang berulang - ulang. Ada beberapa ingatan yang hilang, ditelan terbatasnya memori mengingat semuanya. Entah kenapa bisa hilang, saya kadang menyayangkan. Tapi biarlah.. masih ada banyak yang bisa dikisahkan.
Dulu ketika rumah orang tua saya masih ndak menetap. Maksudnya ada dua, kadang ke Kecamatan Bringin (desa bapak saya berasal) kadang ke Kecamatan Karangjati (tempat Emak saya berasal). Kalau basa jawanya omah lor dan omah kidul. Bapak saya masih leluasa mau ke rumah mana, bukan pilihan sebenarnya. Tapi memang kewajiban untuk kadang kerumah Karangjati, kadang ke Bringin. Soalnya dirumah Karangjati ada sawah yang harus di garap. Nenek saya sudah tua untuk ngurusi sawah. Cukup nenek bagian menggembala kambing saja. (Nah, lain kali kuceritakan masa - masa ikut nenek menggembala kambing ini) Bapak adalah menantu satu-satunya yang diharapkan mengurusi sawah warisan tersebut. Soalnya Emak saya anak terakhir, sementara kakaknya ikut suami. Dan di rumah Bringin, kakek saya punya ladang yang luaaaas banget. Dan banyak. Heran… kenapa ladangnya ada dimana-mana. Dibelakang rumah kakek ada ladang luas. Kemudian di pinggir kali, biasanya kita nyebutnya perengan. Karena dekat sungai. Kemudian sawah dua petak yang panjang - panjang. Kemudian satu lagi ladang yang berjarak 2 km dari sawahnya.
Jadi tugas bapak adalah bantuin kakek ngurusi sawah dan ladangnya ini. Dan kadang juga ternaknya yang banyak. Mungkin karena kakek anaknya banyak, jadi kakek dari muda bekerja keras buat anak-anaknya nanti. (Tujuh anak-anaknya kakek ini. Dan bapak adalah anak laki-laki pertama dan sekarang menjadi satu-satunya) Atau memang tanah warisannya banyak. Entahlah, saya ndak tahu mana yang benar. Tapi saya pernah dengar cerita bahwa kakek pernah beli ladang dengan satu ekor kambing saja. Itu artinya jaman dulu tanah murah sekali (?) atau kambing mahal sekali (?). Kambing setara dengan ladang yang luas. Kalau sekarang kambing satu saja yang betina ndak sampe 1,5jt. Kalau kambing jawa malah ndak sampe 1jt.
Dengan begitu bapak akan sering ke ladang. Entah bersama kakek atau sendirian. Saya adalah ekor setianya bapak dan kakek. Kemana mereka pergi saya ikut. Walau nanti pulang kotor semua, walau nanti pulang basah semua karena kehujanan atau jadi gosong karena kepanasan. Saya ga peduli. “Pokoknya ikut, ndak mau ditinggal.” Kata saya waktu itu. Dan meskipun aslinya tiap saya udah bosen main disawah, saya pasti teriak - teriak ngajak pulang. “Paak… berapa menit lagi?”,“ mbah panas, ayo pulang”. Dan rengekan lainnya. Dan dengan sabarnya bapak bilang, “iya, nanti. Sebentar lagii..” sambil terus mencangkul atau terus mencabuti rumput diantara kacang tanah. (Biasanya disebut dangir)
Atau bapak akan memanggil saya kemudian ngasih keresek, bekas jajan atau bekal. Lalu menyuruh saya keliling ke satu pohon pohong ke pohon lainnya. Padahal banyak sekali pohon ketela pohong disawah. Bapak minta saya nyari belalang. (Bapak tahu, saya sukaaa sekali sama belalang dan jamur (ada cerita masa kecil saya yang judulnya jamur, belum selesai tapi). Meskipun suka, tapi saya penakut. Takut duri - duri belalang menancap ditangan saya. Nah, saya akan teriak ke bapak. Minta diambilin. Begitu ketemu belalang lagi akan teriak lagi, ngasih tahu bapak lagi. Dan memang di pohon ketela ini dulu banyak belalangnya. Astaga, entah berapa kali saya manggil - manggil bapak terus. Dan saat itu juga bapak datang tergesa - gesa, mengendap-endap, agar belalang ndak kaget dan terbang. Jadi, aslinya saya kalau ikut ke sawah itu malah bikin kerjaan bapak ndak kelar - kelar. -_- (anak rewel )
Beda lagi kalau perjalanan pulang, selain minta digendong (hahaha..anak manja) karena jalan menuju tempar parkir sepeda jauh. Saya biasanya akan meminta bapak jalan pelan - pelan. Tentu, buat nyari belalang lagi. Di sepanjang perjalanan ke tempat parkir ada banyak pohon pisang, ketela pohong dan pohon pandan berduri. Nah, pandan berduri itu adalah salah satu tempat favorit belalang hinggap, selain pohon ketela. Jadi, tangan bapak seringnya berdarah dan tergores - gores. :( Yaa Rabb.. bapak sesabar itu menurutiku.
Sesampai di parkiran sepeda, keresek saya sudah penuh dengan belalang. Entah 10 entah berapa. Bagi saya dulu segitu sudah banyak. 😍😍 Kami pulang dengan saya duduk manis di boncengan belakang dengan menimang - nimang belalang di tangan. Membayangkan nanti digoreng apa dibakar. Hmmm… pasti enak.
Saya sudah ga peduli pada bapak yang sesekali turun menuntun sepeda onthelnya karena jalanan terlalu naik atau turunan yang curam. Saya tetep nangkring di sepeda. Jaman dulu sepeda motor adalah barang yang masih langka. Yang punya pasti orang yang sudah kaya dan kecukupan. Kalau sekarang sudah menjamur dimana - mana. Tapi bapak kalau kesawah masih suka pake sepeda onthel, sepeda motornya cuma dipakai (bahkan) sebulan sekali saja. Selain jalannya ke sawah sempit, alasan lainnya saya ndak tahu.
Begitu nyampe rumah kakek, saya langsung meminta nenek atau ibu buat nyalain pawon (tungku api yang masih pake kayu) untuk memasak belalang. Tak peduli saya masih kotor semua, dan selalu disambut ibu dengan “mandi duluuu..” atau omelan kecil lainnya.
*** Sekarang….. sudah ndak ada lagi cerita seperti itu. Tapi beruntungnya adek saya masih sering diajak bapak kesawah waktu dia kecil. Setidaknya dia punya cerita tentang sawah buat dikenang nanti. Dia dulu tipe anak yang aktif, suka sekali berlari - lari dilumpur. Disawah yang mau ditanami padi. Sampai celananya dia hilang disawah. Tenggelam di lumpur, dan dia lupa disebelah mana tadi celana panjangnya dia tenggelam. Dan kalau dia sudah bosan, dia akan teriak minta pulang, lalu nangis. (Aaih.. ini aib. Wkwkwk. ) Biarlah nanti dia cerita sendiri.
05.59 Surabaya, 29 Januari 2017










