Hari Ke-1 #10harirayakancerita
Bermula dari bulan kedua tahun ini, aku nggak lagi tahu mau dibawa ke mana hidupku. Seolah belum cukup di tahun lalu, awal tahun ini melengkapi seluruh sedihku. Seolah sudah utuh, sudah penuh. Rentetan cerita-cerita itu ditutup dengan kisah klasik yang selalu jadi bumbu-bumbu hidup.
Bukan kisah yang menarik. Bukan juga sesuatu yang bisa dibanggakan. Tapi kisah itu cukup membekas hingga melepas aku nggak tahu harus mulai dari mana. Perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya pada kisah itu sempat berhasil menggenapi potongan puzzle yang hilang. Sebelum akhirnya mengacaukan semua yang justru sudah sempurna terpasang.
Kisah ini sempat menggantikan kesedihan hingga ternyata membuat kesedihan lain yang lebih besar. Aku kira sudah cukup dan jadi penutup yang menyenangkan. Namun aku lupa bahwa yang menyembuhkan pun bisa jadi penyebab luka yang paling mematikan.
Sudah lelah, ditambahkan lagi bebannya. Mungkin memang bukan aku saja yang merasakan kesedihan. Tapi siapa yang peduli sebab yang harusnya aku khawatirkan memang diriku sendiri.
Saat malam-malam panjang aku meminta pada Tuhan, aku melupakan satu hal. Bahwa meminta adalah tugas manusia, tapi mengabulkan adalah mutlak milikNya. Jadilah kecewa ketika yang aku minta nggak sama dengan jawabNya. Kisah yang aku harap bahagia, diserang badai yang memporak-porandakan semua.
Aku menelan sakit ini sendiri ditemani tetes-tetes air mata yang masih jatuh hingga hari ini. Aku belum berhasil mengobati sebab untuk sembuh butuh waktu hingga berhari-hari. Jika hari ini belum, aku nggak akan berusaha untuk memaksanya agar kering dengan buru-buru.
Bab dari kisah ini memang sudah berakhir. Tapi jujur, untuk menuliskan kalimat terakhirnya aku masih bingung. Aku nggak tahu harus menutupnya dengan kesimpulan yang bagaimana. Karenanya aku menunggu waktu membantuku untuk melengkapi semuanya. Agar kisahnya, meski berujung sedih, namun tetap menyenangkan untuk dibaca. Agar nggak cuma jadi sesal, tapi juga bisa jadi pelajaran.
Supaya aku nggak cuma bisa sekadar memaafkan, tapi juga lapang mengikhlaskan.











