Kamar ini sepi, menyisakan aku sendiri ditemani suara kipas angin yang terus berputar membantu menyejukkan ruangan. Surabaya gerah, meski selepas isya' gerimis sempat mengguyur, tapi tetap saja panas hawanya. 22.11 Kuputuskan untuk menelfonmu. Whatsapp ku beberapa menit lalu belum kamu balas. Dibaca saja belum. Terdengar suara berat di ujung sana saat mengucap salam. Suara lelah bercampur bosen yang menggunung. Ikut meninggi bersama tingginya kertas yang tadi sore berada di mejamu. "Kamu lagi makan?" "Iyaa, ada apa umiik ?" "Pulang jam berapa, masih banyak ?" "Belum tahu, kayaknya malam. Belum ada tanda - tanda kerjaan selesai." "Ya udah, pintu ku kunci ya mbak. Semoga lekas selesai." "Iyaa." 22.36 Telfon kututup. Kusibak tirai jendela. Sepi diluar. Tak ada tanda - tanda seseorang akan pulang. Kamar depan sepi. Sepi semua. Hanya menyisakan aku dan suara kipas angin yang kadang berderit pelan. 23.00 Masih membolak - balikkan halaman buku. Membenahi posisi tidur. Kantuk tak kunjung datang. Sepi malam semakin menjalar. Kupandangi langit - langit kamar. Aku melamun panjang. Dan kembali tersadar saat kipas angin mengeluarkan suara berderit pelan. Dia menemaniku. Terima kasih kipas angin. Surabaya, 13 Pebruari 2017