Rasulullah saw bersabda ; "Orang yang bangkrut di antara ummatku adalah mereka yang datang pada hari kiamat dengan membawa banyak (pahala) shalat, puasa dan zakatnya, namun (dahulu di dunianya) dia telah mencela si ini, menuduh (berzina) si itu, memakan harta si ini, menumpahkan darah si itu dan telah 'memukul' orang lain. Maka si ini diberikan kebaikan orang yang membawa banyak pahala tsb, dan si itu diberikan sedemikian juga. Maka apabila kebaikannya sudah habis sebelum dia melunasi segala dosanya (kepada orang lain ), maka kesalahan orang yang didzalimi di dunia itu dibebankan kepadanya." -Hadits riwayat Muslim ********************************* Catatan 8 Ramadhan 1432 H Ibadah Kata 'ibadah' memiliki arti mengabdi. Pengabdian ini dilakukan oleh sesuatu yang tingkatannya lebih rendah kepada yang lebih tinggi. Pengabdian dilakukan dengan tujuan untuk membuat agar yang diberi pengabdian merasa puas dan senang. Begitu jugalah dalam kehidupan beragama. Ibadah adalah bentuk pengabdian makhluq kepada Khaliqnya; melakukan segala sesuatu yang perlu dilakukan untuk membuat Sang Khaliq ridho (menerima dengan puas dan senang). Dalam agama Islam sendiri, penggunaan kata ibadah biasanya didahului dengan kata mendirikan, contohnya mendirikan sholat, mendirikan puasa; bukan sekedar mengerjakan. Mendirikan itu, seperti halnya mendirikan bangunan memiliki konotasi bertambah kualitas dan kuantitasnya. Mendirikan bangunan berarti bahwa dari tidak ada menjadi ada, lalu dari fondasi, bertambah menjadi rangka bangunan, kemudian menjadi tembok dan terus menerus berproses hingga menjadi bangunan yang lengkap, apik dan fungsional (bermanfaat). Begitulah ibadah. Pengabdian kita kepada Allah, yang merupakan bukti dari syahadat kita. Pengabdian yang hari ini-nya lebih baik daripada kemarin, dan yang besok lebih berkualitas lagi dari hari ini. Pengabdian yang bertujuan membuat Allah ridho pada kita. Pengabdian yang didasari cinta, sehingga ingin selalu menjaga dan pengabdian yang tentunya akan membuat kita rela berkorban. Diterima atau tidaknya ibadah kita, tentu hanya Allah yang tahu. Namun mengukur berkualitas atau tidaknya ibadah kita sendiri, sejatinya bukanlah suatu hal yang sulit. Justru kita harus mengasah kemampuan untuk mengevaluasi bagaimana ibadah kita; sudahkah lurus niatnya? sudahkah benar kita kerjakan sesuai yang Allah kehendaki? sudahkah memiliki dampak dan manfaat bagi keseharian kita dan lingkungan di sekitar kita? Dalam ibadah sholat misalnya, kita mengakui kebesaranNya lewat takbir. Kita berikrar bahwa hidup-mati kita hanyalah untuk Allah dalam do'a iftitah. Kita mengakui bahwa Allah-lah Raja di hari pembalasan; hari di mana kita harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatan dan setiap ni'mat yang telah kita terima pada bacaan surat al fatihah. Kita tunduk pada keagungan Allah ketika ruku'. Lalu ketika sujud, ujung kepala hingga kaki kita bahkan rata dengan tanah, memujiNya yang berada di tempat tertinggi. Sehingga bila semua gerakan dan bacaan sholat dikerjakan dengan kesadaran dan penghayatan penuh, mustahil orang yang mendirikan sholat itu bersikap sombong, karena setidaknya 17 raka'at dalam sehari kita menempa hati untuk tunduk di hadapan Allah; mengakui bahwa kita ini bukan siapa-siapa dan tidak berkekuatan apa-apa tanpa pertolongan dan rahmat Allah. Mustahil pula seorang ahli sedekah dan zakat memiliki setitik kecilpun keangkuhan, apalagi merasa bisa menghakimi orang lain, karena bila dilakukan dengan niat yang lurus, aturan yang benar dan kualitas yang baik, ia pasti menghayati betul bahwa zakat dan sedekahnya justru untuk membersihkan diri dari dosa yang banyak, yang mana artinya sudah barang tentu dirinya tidak bebas dari cela sehingga tidak mungkin memiliki hak untuk mencela orang lain. Begitupun orang yang telah dipanggil Allah untuk datang ke rumahNya. Menyadari betul bahwa ibadah hajji memiliki makna 'pulang' ke tujuan akhir kita dan merupakan gladi resik kematian dan hari akhir, saat kita pulang ke kampung halaman terakhir yang abadi, maka tak mungkin-lah kembali ke tanah air berbangga diri dengan gelar haji atau hajah, tanpa kontribusi produktif sebagai penebar kasih sayang Allah bagi seisi semesta (rahmatan lil'alamiin). Begitulah ibadah. Semestinya membuat kita hanya berfokus pada apa yang telah kita berikan untuk membuat Allah ridho pada kita. Semestinya tampak bekas-bekas peribadahan kita bukan secara lahir, tapi justru pada batin yang khusyu', yang tawadhu, yang berserah. Jangan sampai kita bangkrut; mengira bahwa pahala ibadah kita sudah begitu banyak, namuan lalai memperhitungkan 'pencuri-pencuri halus' yang akan mengambil ridho Allah lewat sifat sombong, perangai menghakimi dan mencela orang lain.