16RUPA dalam Sinéma
coming soon to your screen segera hadir di layar kaca kamu mangga intip sedikit isinya 16RUPA dalam Sinéma yang akan rilis sepanjang 25 Nov-10 Des 2020 😬
Youtube: https://youtu.be/2-3l1aND4x4
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from China
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from Russia
seen from United States
seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from T1

seen from Türkiye
seen from United States
16RUPA dalam Sinéma
coming soon to your screen segera hadir di layar kaca kamu mangga intip sedikit isinya 16RUPA dalam Sinéma yang akan rilis sepanjang 25 Nov-10 Des 2020 😬
Youtube: https://youtu.be/2-3l1aND4x4
16RUPA dalam Sinéma
16RUPA merupakan karya seni dengan tujuan sebagai medium untuk merefleksikan diri. Karya ini dibuat oleh perempuan, didedikasikan kembali untuk perempuan sebagai kelompok sosial yang sering diasosiasikan dengan peran ganda. 16RUPA adalah realitas diri perempuan, bukan sebagai objek sosial namun manusia yang berakal budi, indah, dan setara. Di sini, perempuan berperan secara utuh untuk belajar mengenal dan menerima diri. Dalam pengkajiannya, karya ini melalui proses panjang dengan melihat dan mendengar suara perempuan terhadap tubuhnya sendiri atas standar kecantikan yang masih menjadi tren sosial. Standar kecantikan, kekerasan terhadap perempuan, dan asingnya topik pembahasan tentang tubuh perempuan karena dianggap suci sekaligus tabu, merupakan keresahan serta narasi lama yang tidak kunjung usai. Perempuan kerap diasosiasikan dengan ungkapan ‘emosional dan personal’. Di dalam bukunya (1989), seorang feminis dan tokoh filsafat asal Perancis, De Beauvoir menuliskan bahwa perempuan makhluk kedua yang tercipta secara kebetulan setelah laki-laki. Pernyataan ini kemudian menjadi dasar kehidupan sosial untuk mengatur tubuh perempuan dan menjadikan suara perempuan luput diperhitungkan dalam lingkup yang lebih luas.
Dalam konteks produksi karya seni, saat ini dunia karya seni masih didominasi oleh laki-laki dan sudut pandang patriarki. Seperti salah satunya yang dinarasikan oleh Agung Sukindra dalam karya seni lukisnya untuk tubuh perempuan. Eksistensi tubuh perempuan dalam setiap karya seni yang diciptakan oleh laki-laki sama dengan dukungan terhadap sistem patriarki yang mengkerdilkan suara perempuan atas tubuhnya. Di sisi lain yang berkaitan, tren konstruksi standar kecantikan dan kekerasan seksual tidak dilihat sebagai satu kesatuan. 16RUPA juga dihadirkan untuk mengangkat informasi terkait otonomi tubuh perempuan dan keragaman bentuknya. Karya ini sekaligus menjadi upaya menurunkan angka kekerasan seksual yang saat ini ada 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan sepanjang tahun 2018-2019.
Penciptaan karya 16RUPA berbasis kerajinan tangan menggunakan bahan yang tersedia di rumah, membentuk bentuk-bentuk yang tidak tabu untuk disajikan. Olahan tepung, minyak, lem, cuka dan pewarna buatan menjadi satu kesatuan yang akhirnya dapat merefleksikan keanekaragaman organ tubuh perempuan. Seiring berjalannya waktu, 16RUPA menjadi satu karya seni hidup yang diniatkan untuk terus berkembang oleh pembuat karya, sesuai dengan konteks keadaan perempuan pada masanya. Setelah sukses memberikan ruang refleksi dalam instalasi terbuka pada 16 HAKtP tahun 2019, 16RUPA memiliki kepentingan untuk dikembangkan dengan pelibatan narasi agama di dalamnya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penolakan atas sikap permisif terhadap kasus kekerasan yang pernah dilakukan oleh tokoh agama di Indonesia, masih dilakukannya praktik sunat perempuan, dan semakin berkembangnya konstruksi standar kecantikan.
Sebagai upaya memberikan narasi lain berkembanganya pengetahuan tabu mengenai seksualitas dan pembuatan karya seniman laki-laki atas tubuh perempuan, perlu adanya pengembangan karya 16RUPA berbasis media. 16RUPA dalam Sinéma hadir sebagai upaya tersebut untuk menjadi medium refleksi bersama atas norma-norma yang mengkerdilkan suara perempuan atas tubuhnya. Upaya ini dilakukan oleh Ayunita (pekerja seni), Rizka (arsitek), dan Nadira (peneliti). 16RUPA dalam Sinéma didukung oleh APC (Association for Progressive Communications), yaitu jaringan organisasi masyarakat sipil yang fokus dalam pemberdayaan dan mendukung orang-orang yang bekerja untuk HAM, pembangunan, dan Perlindungan Lingkungan dengan memanfaatkan Teknologi Informasi digital.