Sore itu aku datang ke kos harisma, menyambangi kerabat minang. Yang biasanya aku datang untuk menjenguk Fhadel, sekarang dia sudah sibuk dengan kegiatannya. Bertemulah aku dengan bang Dayat dan Yogi. Niat awalku datang hanya karena di kos listrik padam, dan ideku benar-benar buntu untuk menghabiskan waktu seharian di kos dengan suasana hati dan pikiran yang mencekam.
Pukul 3 sore aku sampai di kos harisma, selain bang Dayat dan Yogi, ada Tobu juga. Orang yang selama ini hanya kutahu dari percakapan kerabat minang. Kami berempat menghabiskan waktu bermain gitar, bercerita dan menghisap rokok. Tak selang lama, Tobu pamit pulang dengan membawa baju-baju yang sempat tertinggal. Dia orang yang baik,sama seperti sanak minang lain. Walau acapkali dijadikan bahan julid kerabatku yang lain. Sebelum pulang dia menawarkan rokok esse honey miliknya, kutarik sebatang menerima tawarannya. Lalu pamit dengan bro-fist.
Tinggalah bertiga kita di kamar milik fhadel itu. Yogi disibukan dengan laptop yang membuka web browser dengan halaman facebook forum jual beli. Berdagang barang bekas memang sudah jadi rutinitas kerabat minang di kos wisma harisma. Walaupun bukan rutiniras utama, tapi barang keluar-masuk sangat cepat. Aku dan bang Dayat ngobrol sembari menghisap batang demi batang rokok. Setelah ngobrol panjang tentang apasaja kegiatanku dan apa yang jadi kegelisahanku beberapa hari kebelakang, terlintas dalam pikiranku sosok bang Dayat ini sepertinya yang aku butuhkan dalam hidupku, seorang kakak. Walaupun tak mungkin karena aku yang notabene anak sulung dengan seorang adik perempuan. Akulah yang harusnya menjadi seperti bang Dayat yang bisa mendengarkan cerita adiknya, dan bahkan bagus lagi kalau bisa memberikan advice berdasarkan pengalaman.
Aku kadang iri dengan fhadel yang bisa dekat dengan banyak orang, punya kerabat yang sudah dianggap saudaranya sendiri, dan orang-orang yang terbiasa memaklumi tabiatnya.
Dan hujan tak kunjung henti hingga pukul 22.30. Disaat itulah aku pulang ke selatan.