Sudah Sejauh Mana Kita Berlaku Amanah Sebagai Manusia?
By the way, tulisan-tulisan leader yang sudah ada sebelumnya bagus-bagus sekali yaaaaa dan langsung bisa kita coba praktikan agar kualitias diri kita makin baik. Aamiin. Pada kesempatan yang diberikan saya kali ini, saya coba mau menulis tentang amanah. Kenapa? Karena amanah yang sedang ada dalam diri kita semua yang nantinya akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di dunia yang sebenarnya (baca: akhirat).
Amanah menurut KBBI dapat diartikan sebagai sesuatu yang dipercayakan (dititipkan) kepada orang lain. Sehingga untuk orang yang dapat berakhlak demikian juga bisa dikatakan sebagai orang yang terpercaya. Amanah berasal dari kata amuna yang bermakna tidak meniru, terpercaya, jujur, atau titipan. Segala sesuatu yang dipercayakan kepada manusia, baik yang menyangkut hak dirinya, hak orang lain, maupun hak Allah SWT. Amanah juga dinyatakan dalam surat al Anfal ayat 27: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui."
Sebenarnya apa saja amanah kita sebagai manusia?
Menjadi ayah dan suami itu amanah. Menjadi istri dan ibu adalah amanah. Menjadi pemimpin perusahaan, leader SBU, Konsultan, karyawan di Proxsis? Sama. Itu amanah juga guys. Dimana semua itu nanti akan dimintai pertanggungjawaban.
Seperti salah satu sabda Rasulullah yang mengatakan "Setiap orang dari kalian adalah pemimpin. Setiap orang dari kalian akan dimintai pertanggungjawaban." (HR Muslim).
Mengapa begitu pentingnya amanah untuk dijadikan akhlak oleh manusia?
Masih ingatkah kita bahwa ada 4 sifat yang wajib dimiliki sebagai seorang mukmin sejati? Dimana ke empat sifat tersebut juga melekat di dalam core value Proxsis Group? Ya, sifat wajib itu adalah:
1. Siddiq: Jujur
2. Amanah: Dapat dipercaya
3. Tabligh: Menyampaikan
4. Fatanah:Cerdas
Jika ditinjau dari core value-nya proxsis, sifat amanah ini juga sangat erat pada nilai:
1. Professional.
Agar kita mendapatkan hasil kinerja yang selalu unggul serta dapat meningkatkan, menguasai, dan mengapilkasikan kompetensi yang sesuai dengan tugasnya secara optimal, tentunya kita juga harus berlaku amanah dalam melakukan kewajiban dan wewenang kita dengan benar baik di level apapun dengan melakukan tugas dan fungsinya seoptimal mungkin, solutif, dan bertanggung jawab dari setiap keputusan yang diambil.
2. Accountable
Terlebih pada value ini, sangat erat sekali dengan sifat amanah dimana seseorang akan tercermin bahwa dia dapat mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang diberikan secara mandiri dan dapat diandalkan. Artinya, Orang yang amanah bisa dipastikan orang tersebut jujur dan bertanggung jawab.
3. Strive for Result
Amanah itu seperti janji kontrak, we keep that promise based on scope of work lah ibaratnya. Apapun yang diberikan padanya entah itu untuk disimpan, disampaikan, dijalankan, ditugaskan dan yang lainnya sehingga kita dapat mencapai hasilnya sesuai masing-masing scope tugas dan fungsinya.
Mengapa hal ini jadi penting? Untuk menjadi mukmin yang sejati, berarti harus bisa berakhlak dapat dipercaya. Jika tidak, maka lawannya adalah khianat, yang mencerminkan perilaku yang disebut munafik dalam sabda Rasulullah SAW: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu; jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat”. Kedua sifat ini mustahil berkumpul pada diri seseorang secara bersamaan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Tak mungkin berkumpul pada kalbu seseorang kekufuran dan keimanan, dusta dan kejujuran, amanah dan pengkhianatan." (HR Ahmad).
Bagaimana mencerminkan sifat amanah ini saat Work from Home (WFH)?
Pertanyaan ini muncul dalam diri saat sedang merenungi strategi monitoring tim saat japrian sama Bung Rudi Maulana, Kartika dan Pak Fahmi waktu itu sebelum kita sepakat menuangkannya di google spread sheet. Memang benar WFH tidak menjadi hal yang awam buat insan proxsis, karena kita juga sudah menerapkan ROWE (Result Only Working Environtment), tapi kali ini bedanya adalah di g.o.d.a.a.n untuk membuat seribu alasan sehingga khawatirnya kita jadi tidak fokus akan tujuan. Masih ingat jargon Pak Yumei kan, “Hayooo jangan berhenti di alasan, jangan asumsi, fokus ke tujuan guys”. Hehehehe…
Dari beberapa private coaching pada tim saat diskusi biar tetap mencapai KPI atau yang sudah coba saya identiifkasi dan saya rasakan sendiri, ada beberapa godaan WFH di era krisis ini yang dapat menyebabkan kita lalai. Misalnya:
1. Pergeseran mindset
Kerja di rumah jadi bermindset “Hmmm... mumpung gak ada yang liatin kita kerja. Jadi bisa sesukanya mau mulai kerja kapan, bangun jam berapa, selesein yang mana, yang penting report”.
Eits, tunggu dulu…rupanya gak demikian kan? Justru WFH itu jauh lebih ketat lagi monitoring-nya baik itu untuk diri sendiri dan juga buat tim yang sudah ditetapkan BOD mekanisme WFHnya dan disepakati oleh semua insan. Kenapa? Karena kita mau siapapun tetap mencerminkan sifat amanah ini dimanapun dan kapanpun. Jadi, dengan adanya sistem monitoring, arahan yang jelas, minimum daily report yang harus dicapai, dll itu dibuat untuk menuntun kita agar selalu ingat dan konsisten berlaku amanah. Setuju tidak?
2. Mental blocking yang berujung kemalasan.
Ini yang paling bahaya dan tidak bisa ditolerir. Tentu setiap insan proxsis pasti mendapat tantangan baru kan di era sekarang ini untuk bisa bangkit dari krisis dan melesat pasca covid nanti baik itu dari hardskill maupun softskill. Mengapa? Karena kita sudah tidak bisa lagi mengandalkan cara yang lama untuk bisa maju. The world has changed right now. Terserah apakah ini ada yang menyimpulkan ini benar-benar pandemic atau plan-demic. Intinya, we have to survive, no matter what. Peran insan proxsis sangat menentukan dan berdampak buat kemajuan bersama. Tapi bagaimana kita mencapai itu jika kita mental blocking dan tidak mau membuka diri untuk mencoba sehingga berujung jadi malas? Tetap mau pilih stuck dengan cara kita dulu? Sayangnya tidak bisa, guys. Kalau kita memilih cara lama, nanti kita jadi tidak amanah atau bahkan menjadi penghambat buat tim yang lain. Tantangan baru yang diberikan pun juga sudah dilakukan pertimbangan sehingga para pimpinan percaya jika tantangan ini diberikan ke personil yang tepat, maka bisa berdampak baik hasilnya. Pun itu tidak, masih banyak improvement yang dapat dilakukan kok selama kita mau ambil lesson learnt-nya. Jika mau tetap menjadi orang yang amanah, jangan sekali-kali mental blocking yah hehe. Karena you are what you think nantinya. Bahkan saya percaya bahwa disini gak ada satu pun yang mau menjerumuskan timnya ke jalan yang sesat dengan memberikan tantangan yang gak relevan dengan tujuan kan? Insan proxsis itu luar biasa.
Lagi-lagi, hidup adalah pilihan. Dalam menerima sebuah amanah kepemimpinan atau pekerjaan yang dipercayakan maka tiap insan memiliki pilihan yaitu apakah mau berlaku untuk amanah, jujur, istiqomah bertanggung jawab dengan tugas yang diberikan atau bersikap sebaliknya.
Sikap amanah harus dimiliki, diupayakan serta dilatihkan terus-menerus agar sifat ini betul-betul mendarah daging dalam kehidupan kita sehingga kita mendapatkan hikmahnya dengan mendapat kepercayaan yang lebih besar, dicintai dan dihargai sesama, dan kebahagiaan.
Bukan berarti saya yang menulis ini sudah piawai dalam berlaku amanah. Saya pun masih belajar dari setiap insan proxsis dan melihat sekitar untuk dijadikan bahan pembelajaran. Semoga kita semua masih diberi kesempatan untuk selalu meningkatkan kualitas diri kita untuk jadi mukmin sejati sehingga manfaat yang dapat kita berikan pun akan semakin besar. Allahumma aamiin.
I miss you all, guys!
-Isma Husni Rakhmawati (Business Manager Synergy Solusi) 12 Mei 2020
















