Selamat Datang Era New Normal
Setinggi apa kesungguhan kita ini (mujahadah) ??
Kita sudah memasuki era New Normal. Kita terkejut, karena pintu masuk era New Normal ini, tidak sesuai kelaziman logika pikir kita (logika sebelum masuk pintu gerbang ini).
Subhanallah, kita hamba yang beriman memiliki keyakinan sesuai Qur’an Surah Al Baqaroh 286 : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.
Berbaik sangka (prasangka) kepada Allah memiliki adab/akhlak, bukan bermakna “saat tertimpa musibah, seseorang berprasangka baik kepada Allah (hanya lisan saja tanpa niat ikhlas&berkarya), kemudian Allah akan angkat musibahnya”.
Kesungguhan (mujahadah) untuk mencari ilmu (pemahaman yang belum diketahui) dan bersakit-sakit dalam bertindak/berkarya (amalan) untuk mengatasi musibah adalah sebagian adab/akhlak yang diajarkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan para sahabat Beliau.
Allah subhanahu wata’ala berfirman:
Artinya: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 69)
Pengertian Mujahadah
Mujahadah berasal dari kata 'jahada' yang berarti 'bersungguh-sungguh, berjuang'.
Pengertian mujahadah secara umum adalah : berjuang, bersungguh - sungguh, berperang melawan musuh.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bersungguh-sungguh diartikan sebagai sebuah usaha dengan sekuat-kuatnya (dengan segenap hati, dengan sepenuh minat) untuk mengejar sesuatu yang diinginkannya.
Balasan Kesungguhan (Muhajadah)
Kesungguhan yang telah melekat di dalam jiwa-jiwa setiap Muslim akan menjadi kekuatan tersendiri dalam menghadapi segala bentuk ujian yang Allah Ta’ala turunkan kepada setiap hamba-Nya. Yaitu orang-orang yang mengamalkan ilmunya, kelak Allah akan memberi mereka petunjuk terhadap apa yang tidak mereka ketahui sebelumnya. (lengkapnya Tafsir Ibnu Katsir Surah Al Ankabut 29)
Dan sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:
Artinya: “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah dari mukmin yang lemah, dan masing-masing memiliki kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam (mengerjakan) hal-hal yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan dari Allah dan janganlah bersikap lemah.” (Hr. Muslim)
Kecintaan Allah Ta’ala kepada hamba-Nya akan membuahkan kesejahteraan dan kedamaian hidup (KEMENANGAN)
Apakah kita yakin telah bersungguh-sungguh secara maksimal?
Atau hanya merasa sudah berusaha secara maksimal? Banyak yang menyerah di tengah jalan dan kita beralasan sudah berusaha dengan maksimal, padahal belum tentu kita benar-benar berusaha dengan maksimal.
Ada sebuah cerita yang sangat bagus, ilustrasikan makna berusaha dengan maksimal sesuai kesanggupan kita. Di dalam bahasa Al Qur’an disebut dengan istilah mastatho’tum.
Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. 64:16). Mengatasi musibah yang sedang kita hadapi adalah bagian dari amalan menuju ketaqwaan.
Pada suatu saat Syekh Abdullah Azzam ditanya oleh muridnya,
“Ya syekh, apa yang dimaksud dengan mastatho’tum ?". Sang Syekh-pun membawa muridnya ke sebuah lapangan. Meminta semuanya muridnya berlari sekuat tenaga, mengelilingi lapangan.
Setelah semua muridnya menyerah, dan menepi kepinggir lapangan.
Sang Syekh-pun tak mau kalah. Beliau berlari mengelilingi lapangan hingga membuat semua muridnya keheranan, sehingga akhirnya beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.
Setelah beliau siuman dan terbangun, muridnya bertanya, “Syekh, apa yang hendak engkau ajarkan kepada kami ?".
“Muridku, Inilah yang dinamakan titik mastatho’tum !. Titik dimana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai Allah sendiri yang menghentikan perjuangan kita (bukan kita yang berhenti)”, jawab Sang Syekh dengan suara yang lembut, bijak dan penuh kharisma.
Bagaimana dengan kita saudaraku ??.
Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, marilah bersama berlomba dalam hal kebaikan. Bukan hanya memperbanyak amalan, tetapi juga memperbaiki amalan hingga Allah turunkan RakhmatNYA dan kita peroleh Kemenangan.
Wallahu a'lam bish-shawabi
"Ya Robb, masukkanlah aku melalui Pintu yang Benar dan keluarkanlah (pula) aku melalui Pintu yang Benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang Menolong. (Surah Al Isra 80)
Aamiin ya Robbal Alamin
-Endro Hariyuwono (Board of Director Proxsis)
30 April 2020











