Sorry universe, belakangan ini saya sedang mengalami ambivalensi terhadap beberapa tugas dan tanggung jawab. Pekan ini saya nggak mengalami kesibukan seperti sebelumnya. Beberapa project udah selesai. Jadi sekarang lebih banyak nggak ngapa-ngapain (doing nothing). Doing nothing yang saya sukai itu sebenarnya bertentangan dengan challenge selanjutnya yang menunggu di pertengahan Mei mendatang. Berusaha sih sudah tapi belum merasa sibuk. Masih ngerasa terlalu santai akhir-akhir ini. Mau bikin ini eh nggak kesampaian. Mau bikin itu, eh tertunda lagi. Yaa mungkin ini efek dari sudah (nyaris) selesainya skripsi saya. Jadi lebih mendengar kata hati yang mensugesti ‘kamu butuh istirahat’ ‘kasih reward ke dirimu sendiri’ ‘you are great enough, you need to rest for a while’.
Sayang sekali, rest for a while ini tidak disepakati oleh semua neuron di tubuh saya. Sampai akhirnya berubah menjadi rest for now, rest for later, rest terus pokoknya. Nah, di masa-masa nggak tau mau ngapain (sebenernya tau tapi pura-pura enggak) ini, saya jadi doyan youtube-ing. Seringnya di pagi hari sambil leyeh-leyeh di kasur favorit saya.
Kenapa youtubing? Because I don’t have TV di kosan. Tapi nggak punya TV bukan berarti saya nggak mengupdate diri dengan berita terkini, mengikuti isu terbaru, tahu polemik politik yang terjadi (berat banget bahasanya haha). Demi Neptunus, Youtube itu berguna banget buat anak kosan yang nggak punya TV tapi nyambung wifi cuma-cuma selagi listrik nyala.
Sejak siaran NET TV bisa tertangkap di hometown saya (homesick), banyak banget program favorit pilihan saya. They are Indonesia Morning Show, Tetangga Masa Gitu, I-LOOK, Chef’s Table, and 1 Indonesia.
Program 1 Indonesia adalah program talkshow yang mengangkat tokoh-tokoh nasional, inspiratif, dan nomor satu di bidangnya. Jadwal tayangnya cuman tiap hari minggu. Itupun kalo nggak salah hampir midnight. Haha. Banyak viewer yang complain tentang waktu siaran mereka yang nggak nyantai banget itu.
Saya sih engga, kan ngga nonton TV. Hehe.
Saya nonton 1 Indonesia ini udah dari dulu banget. Tapi saya lupa siapa tokoh yang saya tonton pertama di 1 Indonesia. Bagi saya, acara TV ini inspiratif banget. Banyak ngebuka wawasan saya terhadap banyak hal. Saya jadi banyak belajar.
Hal lain yang saya sukai dari program ini adalah salah satu pembawa acaranya. Tak lain dan tak bukan adalah Marissa Anita. Wajahnya udah malang melintang di NET. Selain 1 Indonesia, dia juga ada di Indonesia Morning Show. Setahun yang lalu saya sering blogwalking ke blognya Marissa. Bagi saya, dia adalah sosok multi talent yang menyenangkan. Dan bagian favorit saya saat menonton 1 Indonesia adalah mendengarkan suara Marissa. Suaranya itu medhok dan enak didengar. Kalau lagi ngomong bahasa luar juga nggak kalah bagus pronounciation-nya.
Jadi bagi saya, program seperti 1 Indonesia adalah acara TV yang asyik, berbobot, dan bermanfaat banget. Acara ini mungkin dikira cuman buat elderly people. Tapi engga. Justru anak muda perlu banget belajar dari tokoh-tokoh nasional Indonesia. Our preferences affect our choice. Dan itulah yang terjadi pada saya. Di channelnya NET, saya menemukan banyak banget tokoh yang diwawancarai di 1 Indonesia. Dan apakah saya sudah menonton semuanya?
Semua episode 1 Indonesia yang saya tonton kebanyakan dipengaruhi oleh minat saya terhadap tokoh tersebut. Di sini saya akan membagikan beberapa episode 1 Indonesia yang berkesan or being my favourite tontonan:
Joko Anwar Saya lumayan ingat bagaimana proses wawancara yang dilakukan oleh Marissa Anita pada Joko Anwar. Sangat santai, kadang jenaka, dan menyenangkan. Joko Anwar adalah sutradara kenamaan Indonesia yang sukses dengan beberapa filmnya seperti Janji Joni, Kala, dan A Copy of My Mind. Gaya bicaranya lugas. Nggak banyak beralasan. Jujur menyingkap bagaimana kondisi perfilman Indonesia. Saya apresiasi jawabannya yang berani. Wawasannya yang luas terhadap film (Joko tidak menjalani pendidikan formal sinematografi), membuat saya makin kagum dengan sosoknya.
Tio Pakusadewo Aaa yang ini aktor pria favorit saya dari sejak jaman SMP atau SD malah. Jadi waktu itu saya lagi nonton sinema di ANTV yang bercerita tentang kehidupan seorang wanita muda dan hubungannya dengan seorang lelaki psikopat (diperankan oleh Tio Pakusadewo). Saya juga nggak habis pikir kenapa tontonan saya seberat itu ketika kecil hehe. Nggak tahu kenapa juga, aktor Indonesia yang bikin saya jatuh hati pertama kali adalah Tio Pakusadewo (selera emak-emak but no prob). Actingnya sebagai villain di beberapa film juga mumpuni. Yang bikin saya terkesan saat nonton wawancara beliau adalah filosofinya tentang cinta. He said, “Tidak ada kejenuhan dalam cinta. Jika ada, berarti cinta yang kau miliki adalah cinta yang palsu”. Rasa cintanya yang besar ke sang isteri sangat nampak saat sang isteri menjadi cancer survivor. Cara didiknya yang agak ekstrem ke sang anak juga sempat memukau saya.
Andrea Hirata Penulis yang kerap disapa ‘Pak Cik’ ini berasal dari sebuah desa di Belitong. Saya sendiri selalu penasaran di mana letak pasti Belitong karena jika disuruh menunjukkannya di peta, saya bakal menyerah. Meski menempuh pendidikan dasar di Belitong, Andrea akhirnya dapat mencicipi kuliah ekonomi di luar negeri. Hal lain yang membuat saya terpukau adalah kerendahan hati beliau yang dapat dirasakan sepanjang wawancara. Usai dijadikan lokasi shooting Laskar Pelangi, Andrea membangun museum kata di Belitong. Laskar Pelangi bukan saja menjadi oase baru dalam literasi Indonesia, namun juga pintu gerbang pendapatan lokal desa Belitong yang kini menjadi tempat wisata. Beberapa kali (kalau tidak salah ingat), Andrea menekankan betapa pentingnya efek dari sebuah tulisan.
Sudjiwo Tedjo Wawancara dengan seniman yang lebih dikenal sebagai dhalang ini dilakukan oleh Zivanna Letisha. Saya nggak sampai selesai menonton episode satu ini. Trus mengapa dimasukkan list? Ehm, saya terpukau akan kejujuran seorang Sudjiwo Tedjo. Lelaki yang kerap disapa mbah Tedjo ini ditanya apakah sudah merasa sukses dengan profesinya sebagai seniman (beliau hengkang dari perkuliahan non seni dan memutuskan untuk menjadi seniman). Lalu beliau menjawab, “Ya, nggak tau juga mbak.” Jawaban itu diucapkan dengan sangat hati-hati. Seolah masih ada bagian dari diri beliau yang terikat dengan masa lalu. Masa di mana seorang manusia harus membuat pilihan penting dalam hidupnya. Beliau jujur, nggak gegabah dalam perkataan. Satu alasan itu cukup kuat bercokol dalam benak saya sehingga namanya masuk dalam list ini.
Butet Kertaradjasa Episode ini baru saya tonton beberapa hari yang lalu saat anak kosan sebagian besar sudah melancong ke kampus. Sinyal wifi penuh membuat saya bahagia. Butet mulai terkenal dengan aksi monolognya, yang kebanyakan menyerupai suara mantan presiden Soeharto. Banyak hal menarik dari episode ini. Sejak awal, Butet hanya memakai kaos oblong biasa. Warnanya pun senada warna kulit, bukan putih. Saya simpulkan, dia orang yang sangat sederhana. Siapa coba yang nggak ganti baju ‘lebih bagus’ buat nongol di TV? Tapi Butet iya. Beliau apa adanya. Butet lahir dari keluarga seniman. Dua bersaudara. Ayahnya maestro tari di Yogyakarta. Sejak kecil, Butet sudah diarahkan menjadi penari. Namun beliau lebih memilih sastra dan teater. Dua polaritas yang berbeda antara ayah dan anak itu bikin Butet lari dari rumah. Beliau bilang dibayang-bayangin kebesaran seorang ayah itu sama sekali nggak enak. Butet juga sosok yang jenaka. Di ulang tahun istrinya yang ke 60, Butet menulis di sebuah surat, ‘Bu, kowe tua tapi tetep OK’ yang artinya ‘Bu, kamu tua tapi tetap OK’. Hehe. Butet Kertaradjasa jadi salah satu contoh manusia yang mengerti bahwa profesi tumbuh dari kesukaan dan kerja keras. Tanpa kesukaan, kau cuma seperti kuli. Tanpa kerja keras, kau tak bisa memberi makan keluargamu.
Didik Nini Thowok Pria 61 tahun kelahiran Temanggung ini lebih dikenal sebagai maestro tari Indonesia. Lebih spesialnya lagi, Didik bukanlah penari biasa. Ia lebih sering menari cross gender. Saya baru tau kalo penari cross gender juga ada di beberapa negara lain di Asia. Didik kecil adalah satu-satunya lelaki dari 5 bersaudara. Ia dibesarkan oleh sang nenek karena kedua orang tuanya sibuk bekerja. Sedari kecil, Didik suka berinteraksi dengan teman perempuan. Selepas SMA, Didik tidak mampu secara ekonomi untuk melanjutkan kuliah. Ia menjadi guru atau karyawan di pusat kebudayaan kabupaten Temanggung. Gajinya saat itu dipakai untuk kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Dari situ, seorang dosen pernah berkomentar kalau Didik tidak cocok menarikan tarian lelaki. Didik juga sadar ia tidak nyaman dengan tarian lelaki. Sehingga ia memilih menari cross gender. Perjalanan menari sang maestro tari selama lebih dari 40 tahun di dalam dan luar negeri bukan berarti tanpa batu sandungan. Didik semasa sekolah sempat dicemooh dan dianggap berbeda oleh teman-temannya. Didik sendiri berkata, ia sempat menjadi introvert dan pemalu. Namun dengan tari, ia merasa lebih hidup. Ia merasa punya meaningful life side yang perlu diperjuangkan. Kecintaannya pada tari juga diwujudkan dengan mendirikan sanggar tari dan mengajar tari di beberapa universitas di luar negeri.
Riri Riza Sutradara ini terkenal dengan film besutannya: Petualangan Sherina, AADC, AADC2, Laskar Pelangi, etc. Marissa Anita dan kru pergi ke Makassar untuk berkunjung ke kampung halaman Riri. Yang saya ingat dari episode ini adalah penekanan Riri pada upaya belajar yang harus dilakukan oleh seluruh pegiat film. Belajar tidak harus formal. Non formal justru bisa lebih berguna, seperti mendatangi workshop film, pameran, meet up antar sineas film, etc. Sori dari tadi etc etc mulu, mulai capek ngetiknya hehehe. Sosok Riri Riza juga memukau saya dari ceritanya. Bayangkan, dia dulu pernah tergabung dalam band musik rock semi profesional dengan teman-temannya. Namun kemudian ia masuk IKJ dan meninggalkan hobinya itu lalu memilih sinematografi sebagai jurusan kuliahnya. Saya selalu penasaran dengan orang yang mengambil pilihan seperti ini. Tapi sekali lagi, Riri mengisahkan bahwa kecintaannya pada musik mempengaruhi konten film yang ia buat. Beberapa karya dengan bentuk drama musikal pernah ia bikin.
Hermawan Kartadjaya Jujur saya nggak tau beliau ini siapa. Secara nggak sengaja saya pernah liat sosoknya di instagram Marissa. Jadi saya coba tonton episode beliau. Hermawan Kartadjaya adalah seorang guru marketing yang masuk dalam (kalo gasalah) 40 guru marketing terbaik di dunia (tahunnya saya lupa). Akhir-akhir ini saya banyak bersinggungan dengan yang namanya jualan aka dagang. Pengalaman berjualan ini tidak ujug-ujug. Tapi silih berganti sejak SMP. Alasan saya berjualan adalah tuntutan akan keinginan yang mesti diperjuangkan atau setidaknya dibantu dengan usaha sendiri. Ilmu marketing berperan besar dalam penjualan. Tapi saya nggak pernah mengulik marketing. Hermawan Kartadjaya telah membuat 5 buku konseptual tentang marketing yang isinya berubah seiring kemajuan zaman. Media sosial memungkinkan penjual dan pembeli berinteraksi tanpa batas. Beliau juga menekankan pentingnya sebuah inovasi produk.
Sebenernya masih banyak lagi tokoh yang sudah maupun belum saya tonton. Yang ngga selesai saya tonton kayak Jokowi, Susi Pudjiastuti, dan Ahok. Yang pengen saya tonton kalau ada waktu: Ignasius Jonan, Gita Wirawan, Garin Nugroho, dan masih banyak lainnya.
Kalau dipandang-pandang, sebagian besar tokoh dalam list saya adalah bagian dari ekonomi kreatif. Seperti sutradara, seniman, aktor, dan penulis. Di awal, saya menulis, my preferences affect my choice. Saya sudah terlalu sering bersinggungan dengan dunia njelimet, penuh keseriusan, full of complexity. Otak kiri banyak kerja keras. Di sisi lain, saya ingin bersinggungan dengan dunia otak kanan. Dunia seni, jurnalistik, sinematografi, dan masih banyak lainnya. Bersinggungan di sini bukan berarti saya harus masuk ke bidangnya. Tapi belajar dari para tokoh di bidang tersebut sudah cukup memuaskan, menghibur, dan menginspirasi.
Saya salut sama program 1 Indonesia. Media berbagi kepada khalayak. Yang disajikan dengan gaya kasual, pas, dan tidak bertele-tele. Semoga makin banyak tokoh Indonesia yang bisa jadi inspirasi bagi orang banyak. Dan semoga kita nggak capek-capek belajar dari mereka.
What inspires you? There are a lot of things that can provide inspiration – seeing other people accomplish great things, seeing other people overcome adversity, hearing inspirational quotes from great people, even the sheer beauty of nature can remind us just how lucky we are to be alive.