Bagi manusia, 24 jam mungkin terasa cepat dan dapat pula berjalan sangat lambat
Tergantung mau seperti apa kita menikmati dan menjalaninya
Terkadang Dia hadirkan bahagia, yang dalam 24 jam pun tak cukup bagi kita untuk dilambungkan setinggi-tingginya oleh rasa ini
Tapi saat Ia hadirkan sedih, 24 jam akan terasa sangat lambat untuk kita lewati
Bahagia tak akan habis dirasa dalam 1 hari, 2 hari, atau lebih
Jika waktu terus berjalan, mungkin kita mudah diterbangkan begitu saja oleh rasa dan menuju batas kesombongan
Lalu jika sedih tak akan habis dirasa 1 hari, 2 hari, atau lebih
maka mudah untuk kita ditenggelamkan oleh derai air mata dan dipupuskan oleh lelah hingga menuju batas keputus asaan.
Ia berbaik hati menciptakan waktu untuk manusia beristirahat
Saat 18 hingga 20 jam kita menghadapi dunia, Dia tetap ijinkan kita untuk beristirahat
8, 6, atau 2 jam saja cukup bagi Nya untuk menenangkan jiwa dan raga ini
Dia tahu jika hari ini kita terlalu lelah untuk terbang menggapai mimpi,
maka Ia istirahatkan pikiran dan fisik kita untuk terbang lebih tinggi dihari esok
Dia pun tahu jika hari ini kita telalu lelah atas rasa sakit yang menikam relung hati,
maka Ia tenangkan hati ini dalam syahdunya malam,
Dan membiarkan tetesan air mata ini terhenti untuk sementara,
Mungkin esok tak kan sesakit hari ini
Menciptakan malam yang sunyi untuk memejamkan mata dan meredakan amukan emosi ini
Rasa sakit tak sedalam kemarin
Dan rasa bahagiapun tak membuat jemu
Kita boleh berlari sekencang apapun,
Tapi ingatlah raga ini tak mampu untuk terus dipaksa diluar batas
Toh matahari terbit di esok hari hadir sebagai bukti adanya harapan yang baru
Janjilah esok kita kan berlari lagi dari kejam nya dunia!