[Tolong Izinkan]
Suatu saat nanti, siapapun kamu yang ridhonya menjadi jalan bagi pintu surgaku selepas ijab qobul antara dirimu dan Ayahku, tolong izinkan...
Tolong izinkan diri ini tetap menjadi anak Ayah-Ibu, sekaligus anak Ayah-Ibumu, atau apapun kamu biasa memanggil keduanya. Ku rasa tidak akan sulit bagiku belajar memanggil Bapak-Ibu, atau Papa-Mama, atau apapun itu. Izinkan aku tetap berbakti pada kedua pasang orangtua kita.
Tolong izinkan diri ini tetap menjadi adik dan kakak bagi kakak dan adikku... Pun ku niatkan dan ku usahakan menjadi sebaik baik adik dan ataupun kakak bagi kakak dan ataupun adikmu kelak...
Semoga pun kita bersepakat bahwa pernikahan juga tentang bertambah besarnya keluarga kita?
Tolong izinkan diri ini tetap belajar, dan mengajarkan. Jauh sebelum aku mengenalmu, aku sudah lebih dulu jatuh cinta pada profesi yang menuntut kita terus belajar, dan mengajarkan. Dan tentu saja, insyaaAllah, dengan izin Allah, anak-anak kita kelak pun akan jatuh cinta pada belajar-dan mengajarkan.
Semoga kita bersepakat pada hal yang sama, bahwa manusia akan semakin bermanfaat dengan keluasan ilmunya, dan kesabarannya dalam proses belajar juga mengajarkan.
Dan sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bukan?
Tentang menjalankan profesiku, tolong izinkan apa yang ku pelajari dapat menjadi amal sholeh, yang kebermanfaatannya hingga ke masyarakat di sekitar kita. Bukan, aku tak ingin mengambil alih peranmu, tentu ini bukan tentang pencarian nafkah.
Semoga dengan begini, bersatunya kita membawa sebanyak banyak keberkahan, kebaikan yang bertambah tambah bagi diri kita, keluarga besar kita, masyarakat disekitar kita, hingga masyarakat dunia.
Bukankah kita selalu diajarkan berdoa yang terbaik? Minimal, doa menggambarkan niatan itu ada.
Po Hotel, 30 Juni 2019 | FadhilahNF | Di tulis jam 14.10 ditengah break acara simposium.
Tahun lalu pernah nulis begini...















