Pertama Kali Mengompol Saat Tidur
Terhitung sudah 7 bulan aku melakukan toilet training ke anak pertamaku yang berusia 33 bulan dan masih menikmatinya sampai sekarang. Memang, aku tidak memiliki target muluk-muluk harus cepat lulus karena perlu memperhatikan perkembangan anak keduaku juga. Aku tidak ingin memberikan luka pengasuhan lewat toilet training pada anakku. Oiya, aku memanggilnya dengan sebutan Abang. Proses toilet training benar-benar kujalani dengan memperhatikan kesiapan Abang dan tentunya kesiapanku juga.
Selama 7 bulan ini aku cukup merasakan kemajuan dari toilet training Abang. Diantaranya, Abang bisa merasakan sensasi ingin BAB dan BAK serta mampu menyampaikan keinginan tersebut. Abang juga bisa diajak kerjasama dan juga membentuk kebiasaan untuk BAK terlebih dahulu sebelum tidur dan sebelum ikut Yanda ke masjid. Meskipun Abang belum paham apa itu najis tapi dengan mengenalkan bahwa pipis itu memiliki bau tidak sedap dan najis Abang jadi mengerti bahwa pipis harus di kamar mandi. Abang juga cukup bisa menahan pipis sebelum sampai kamar mandi. Tak jarang, kusisipkan tentang pendidikan seksual yang diawali dengan pengenalan anggota tubuh terkait. Dan, beberapa kemajuan lain yang mendukung proses toilet training ini.
Namun sayang, di hari ini kejadian tak terduga terjadi. Kemarin lusa aku sempat berpikiran untuk mencoba melepas popoknya di malam hari secara perlahan dengan mengurangi durasi seperti melepasnya dari mau tidur sampai tengah malam. Kemudian saat tengah malam dibangunkan untuk pipis. Tujuannya agar Abang memiliki kebiasaan juga untuk pipis tengah malam jika diinginkan. Dan hari ini sekitar Asar Abang mengompol ketika bangun tidur. Sebisa mungkin kukontrol emosiku tapi tetap mengomel juga. Untuk pertama kalinya Abang mengompol saat tidur siang. Memang, tidur siang kali ini cukup lama durasinya karena aku ketiduran juga sehingga tidak bisa membangunkannya. Biasanya bangun tidur sekitar pukul 14.00 atau 14.30 WIB namun tadi siang aku baru terbangun pukul 15.30 WIB dengan sedikit terkejut saat melihat jam. Ketika aku terbangun, Abang sudah lebih dulu bangun. Lalu kuajak untuk BAK dan ia mengangguk. Ketika kunyalakan lampu dan memintanya untuk duduk seketika terkejut melihat celananya sangat basah. Iya, Abang mengompol. Sedih kesal rasanya. Aku hanya bisa bertanya, "Kenapa ngompol, Bang. Kenapa nggak bangunin Bunda?"
Aku berusaha berpikir hal baik apa yang terjadi. Salah satunya, air kencing yang hanya membasahi celana dan perlak, tidak mengalir sampai kasur. Bukankah itu hal yang perlu disyukuri? Aku tak perlu mengganti seprei dan kasur yang aman dari air kencing. Kemudian, aku langsung memandikan Abang.
"Bang, maafin Bunda ya sudah marah ke Abang."













