Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?
Malam kemarin asrama heboh dengan istilah “kaburamaqtan” yang dicurhatkan anak-anak santri ke saya. Mam, itu toh kakak osis “kaburamaqtan” semua. Kaget! Mata sedikit membesar dengan kening berkerut. “Kok bisa sayang?” Saya masih belum connect sama curhatannya. Yang lain menimpali. Iya mam, “ masa tadi di kasi berdiriki semua sambil pegang buku tafsir jalalain sampai selesai bacaan surah Al-Mulk. Terus, terus? Saya masih mencoba menggali masalahnya, mendengarkan mereka satu persatu. Mendadak asrama jadi pasar karena curhatan massal mereka.
Kakak osisnya lagi rapat di mesjid, jadi mereka bebas mengadukan semua perasaannya ke saya. Bayangkan gimana serunya mendengar curhatan mereka yang serba unik. Ada yang mengeluh karena sakit, ada yang mengadu lagi bombekan, ada yang mengeluh kehilangan barang, ada yang menangis rindu sama orang tua, ada yang di gap sama kakak kelasnya juga ada yang dikira deka-deka (Istilah kakak ade, anak pesantren pasti tahu ini) dan seabrek pengaduan mereka yang kadang saya tanggapinnya senyum-senyum. Abis ekspresi mereka lucu kebangetan, hehehe.
Tapi yang paling heboh yah tema “kaburamaqtan” itu tadi. Lanjut yah, jadi mereka ini merasa diperlakukan tidak adil sama kakak osisnya karena diberikan hukuman terlambat ke mesjid sholat berjamaah. Padahal mayoritas yang mendapat shaf paling belakang karena masbuk itu justru kakak osisnya. “Huh, Mam. Itu kakak osis na suruhki pergi sholat berjamaah tepat waktu tapi dia sendiriji yang terlambat, “kaburamaqtan.”
Saya baru paham ternyata yang mereka maksud itu potongan ayat di surah As-shaff,
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”
Saya langsung merinding pas membaca ulang surah ini. Saya teringat selama ini dengan begitu pedenya membagikan tulisan-tulisan bernada kebaikan. Ya Salam, serasa ditampar 😢😢😢 . Sudah sejauh mana kata-kata itu berdampak untuk kebaikan sendiri?
Jangan sampai tulisan itu berhenti di #selfreminder, namun tak pernah membekas sampai ke hati sendiri. Semangat berbagi untuk orang lain namun diri sendiri entah kemana ruhnya. Nyawa kebaikannya seperti menguap ke udara. Sama seperti lilin yang hanya mampu menerangi sekitarnya namun melelehkan dirinya sendiri.
Perjalanan kali ini, saya belajar untuk lebih berhati-hati, berbagi kebaikan itu memang sebuah tujuan yang mulia. Namun alangkah indahnya lagi jika setiap kata yang kita bagikan adalah sesuatu yang lebih dulu kita khatamkan. Mengajak orang berbuat baik? Maka diri sendiri dulu yang diajarkan untuk berbuat baik. Walaupun bukan berarti harus baik dulu baru berbagi kebaikan. Semuanya berjenjang. Tidak mungkin kan selamanya kita membagikan apa yang tidak kita miliki? Terus belajar untuk bisa sampai ke tahap itu karena saya yakin di balik setiap kata-kata kebaikan ada usaha dan perjuangan untuk bisa sampai kesana.
Ketika dapat notification, privat message, direct message, chat dari orang, “Wah Masya Allah mbak keren loh tulisannya. Kak, noted banget nih. Subhanallah ukhti makasi sudah diingatkan.”
Disitu kadang saya merasa sedih. Apakah diri saya sudah benar-benar melakukannya? Atau hanya tertinggal sebagai pemanis kata?
“Dan yang paling aku takutkan, ketidakmampuanku berdiri di atas kata-kataku sendiri.”
Makassar, 9 November 2017
📋 @dianesstari
🎨 @shintamalia
#30dayswritingproject
#memaknaiperjalanan
#berdayabertumbuh













