pengen bilang, "capek bangeeet Ya Alloh". tapi liat ujian orang lain yang lebih berat langsung merasa malu.
bersama kesulitan ada kemudahan. bersama kesulitan ada kemudahan.

No title available
Mike Driver
todays bird

JBB: An Artblog!
Alisa U Zemlji Chuda
styofa doing anything

Kiana Khansmith
ojovivo
DEAR READER

tannertan36
Sweet Seals For You, Always
Peter Solarz

blake kathryn
trying on a metaphor
tumblr dot com
d e v o n

祝日 / Permanent Vacation
h
we're not kids anymore.

No title available

seen from Germany
seen from United States
seen from United States

seen from China

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from United States
@shintamalia
pengen bilang, "capek bangeeet Ya Alloh". tapi liat ujian orang lain yang lebih berat langsung merasa malu.
bersama kesulitan ada kemudahan. bersama kesulitan ada kemudahan.
Sudah habis tenaga untuk mengeluh. Sudah habis juga hal-hal yang perlu dikeluhkan. Tuntas sudah, meski tak semuanya tuntas. Ujungnya, memang hanya kamu yang bisa membereskan hatimu.
Catatan diri.
menikmati rejeki meski hanya tidur 10 menit di sela-sela waktu istirahat.
Nyatanya, orang lain tetaplah orang lain. Orang lain tidak benar-benar peduli dengan dirimu dan permasalahanmu. Sekali lagi, kembalilah kepada Rabbmu.
-aku menegaskan pada diriku
aku sedang menganggap ini sebagai buku diari. dimana aku dapat menuangkan apa saja tanpa harus hapus - ketik- hapus- ketik. aku merasa perlu untuk melampiaskan sesuatu. aku perlu wadah. dan tempat ini yang kupilih.
makin kesini, makin banyak hal yang perlu dipertimbangkan. salah satunya mempertimbangkan, "apakah aku layak membagikan cerita ini?" alih-alih pertimbangan, ia justru menjadi penghalang - penghambat- yang sifatnya negatif.
jadi,
oh ternyata begini hidup berjarak dengan suami. cukup untuk membuatku menelan beberapa perasaan sendirian. misalkan, di hari senin yang penuh perjuangan, atau di hari dimana rasanya kerjaan hadeeeh sekali, hanya diri ini sendiri yang benar-benar bisa memeluk.
meskipun sudah berbagi cerita melalui whatsapp, rasa sedih, senang, atau khawatir itu tak benar-benar dapat kubagikan seutuhnya kepadanya. ada bagian yang hilang, dan aku tidak tau apa. naasnya, perasaan itu terlanjur matang dan mati ketika kami bertemu (setiap dua pekan).
dan mungkin segala penuntasan kewajiban sebagai pegawai, ibu, dan mahasiswa ini yang menjadikan aku langsung menelan semua perasaan tanpa berlama-lama. sebuah resiko dari hidup yang berpindah dari satu kewajiban ke kewajiban berikutnya.
namun meski demikian, semoga Alloh selalu memberikanku rasa cukup, begitu juga kalian.
It's my 11 year anniversary on Tumblr 🥳
Tumblr bagi saya adalah teman baik. Dengan sukarela ia menjadi tempat untuk semua keluh dan kesah yang terjadi dalam perjalanan. Ia juga teman yang menemani bertumbuhnya pemikiran ini.
Terima kasih. Selamat bertambah usia, dan tetaplah menemani diri ini. 😘
Membaca Kelebihan
Pekan ini kantor kami mengadakan Business Development Services (BDS). BDS merupakan salah satu program Direktorat Jenderal Pajak yang mendorong perkembangan UMKM di Indonesia.
Tahun ini kami memutuskan untuk menyelenggarakan BDS bagi Bumdes/Bumdesma. Bumdes dan Bumdesma sedang marak dan berkembang akhir-akhir ini, apalagi sejak dikeluarkannya peraturan pemerintah no 1 1 tahun 2021.
Kami mengundang narasumber dari Bumdes Tirta Mandiri Ponggok Klaten. Bumdes ini merupakan bumdes terbesar di Indonesia. Omsetnya sudah sampai 10 Milyar pertahun.
Ada salah satu hal yang menarik dari kegiatan hari itu. Pak Yanto bilang, "Kita tidak dapat melihat potensi yang ada dalam diri kita. Yang bisa melihat potensi kita adalah orang lain."
Petuah tersebut bermula dari bagaimana orang Ponggok menemukan potensi air yang nantinya mereka kembangkan sampai sekarang. Kesadaran bahwa mereka mempunya kelebihan berupa umbul/ mata air muncul ketika mahasiswa KKN diminta untuk memetakan potensi desa ponggok.
Air merupakan hal yang mereka lihat sehari-hari. Dimata mereka itu bukanlah kelebihan. Begitu juga dengan diri kita. Kita tak benar-benar bisa melihat potensi kita. Kita mungkin butuh alat atau orang untuk bisa melihatnya.
Kalau ada orang bilang, "kamu pasti bisa kok," besar kemungkinan artinya memang kita bisa. Tapiiii, kadang kita yang melimitasi potensi kita sendiri.
(c) shintamalia
Terima kasih telah bertumbuh.
Akhir-akhir ini mengambil banyak waktu untuk berkontemplasi. Bertanya kepada diri, "apakah ini jalan yang sebenarnya ingin saya tempuh? apa yang sebenarnya saya inginkan? mana yang harus saya perjuangkan? mana yang harus diprioritaskan? keburukan mana yang bisa saya minimalisasi? kebaikan apa yang bisa saya lakukan?"
Dari deretan pertanyaan itu, tidak semuanya terjawab sampai hari ini. Namun, beberapa diantaranya alhamdulillah sudah menemukan jawaban. Satu dua keputusan mulai diambil. Satu diantaranya adalah merombak layout akun tumblr ini. Terdengar tidak penting, ya?
Alasannya karena ingin merasakan kembali atmosfer ruangan ini. Rombakan ini layaknya membuat wajah baru. Di dalam prosesnya saya memutuskan untuk memilah tulisan yang masih harus dipertahankan, yang perlu dijadikan privately post, atau bahkan dihapus. Perjalanan masih panjang (ada 400 lebih cerita yang telah ditulis).
Dari proses memilah itu, saya sedikit terkejut ternyata umur akun ini sudah 11 tahun saja. Terlahir tahun 2013 saat saya masih di jenjang SMA. Tulisannya masih khas anak SMA. Ambisi, cinta, harapan, harga diri, kekecewaan - adalah deretan ekpresi yang dapat saya tangkap dari tulisan kala itu. Masih cenderung untuk mengambil perasaan terlalu dalam di beberapa bagian kehidupan.
Tak terasa saya senyum-senyum sendiri setiap membaca tulisan demi tulisannya. Katanya, "jika kamu merasa jijik dengan tulisanmu yang dulu, itu artinya kamu berhasil tumbuh."
Memutuskan untuk menulis kembali di sini memang sebuah tantangan. Pertanyaannya, mampukah? Jujur, semakin besar semakin yasudah dengan lika-liku hidup. Semakin tidak memusingkan banyak hal. Semakin malu untuk bercerita.
Anw, terima kasih telah bertumbuh.
(c) shintamalia
Catatan:
Buku Yang Berbahagia ini berisi catatan persiapan dan perjalanan menikah. Meskipun bukan buku how-to, di dalamnya cukup banyak nasihat praktikal. Meskipun bukan buku agama, isinya mengandung sentuhan Islami.
Oya, bagi yang ingin membaca buku saya yang lainnya, Bertumbuh dan Teman Imani bisa dipesan melalui Tokopedia, yaitu di toko buku LangitLangit.YK.
Sekali lagi terima kasih karena berkenan membaca tulisan-tulisan saya. Semangat dari teman-teman sangatlah tak ternilai.
Selamat malam, Mbak Uti.
Saya Shinta, pengikut Mbak Uti di twitter dan tumblr sekaligus pengikuti Mas Yunus di instagram dan tumblr. Saya sudah mengikuti Mbak/Mas kisaran tahun 2014. Dari tulisan saat Mbak Uti menyiapkan baju pernikahan sampai Mbak Yuna sudah punya adik. Dari Mas Yunus yang masih internship di kota kecil di Indonesia, sampai sudah menjadi dokter hebat seperti saat ini.
Tahun ini adalah tahun ketiga saya LDM dengan suami sekaligus tahun ketiga pernikahan kami. Masih seumur jagung ya, Mbak? Hehe
Kami berharap kami dapat belajar dari pernikahan Mbak Uti dan Mas Yunus, karena dari beberapa tulisan Mbak Uti menceritakan kerap juga LDM.
Alhamdulillah, kami sudah dikarunia putri berumur 2 tahun bulan ini, Mbak. Beberapa kali saya temui tweet Mbak Uti terkait Mbak Yuna dan Mas Yasa. Barangkali ada beberapa tulisan dalam buku ini yang menceritakan bagaimana Mbak Uti dan Mas Yunus membesarkan mereka.
Selain itu, Mbak Uti dan Mas Yunus adalah sosok yang (menurut saya) terus ingin bertumbuh. Mbak Uti yang selalu belajar banyak hal baru, dan Mas Yunus yang (ya kita sama-sama tau) mau belajar terus (sampai keliling dunia). Semoga kami dapat meniru semangatnya.
Yang paling mengagumkan bagi saya adalah instagram Mbak Uti dan Mas Yunus sepi unggahan perihal kehidupan dan capaian, begitu juga media sosial lain.
Terima kasih telah memberikan kesempatan ini, Mbak. Akhirnya saya menulis panjang kembali.
Salam.
Akhir-akhir ini sedang suka menonton youtube. Mulai dari konten yang daging banget sampai yang ringan saja semacam stand up comedy.
Semakin banyak menonton, semakin sadar ternyata banyak yang belum saya ketaui. Terlampau banyak, sampai rasanya malu sendiri. "Kemarin kemana saja?"
Tapi, gapapa. Gak ada kata terlambat untuk mengetaui sesuatu, kan? karena sejatinya yang perlu terus dijaga hidup adalah nafas untuk belajar sesuatu yang baru.
Sh.
"where should i start?" is the question i still seeking the answer. been so long never do the same. i fully forget the ambience. i doubt my self. will i do the same?
Titik Pilih
Sejak bergabung di instansi ini, saya (kami) tau betul konsekuensinya. Bagi kami, siklus mutasi adalah sebuah keniscayaan. Katanya, setiap pegawai akan dimutasi tiap tiga atau empat tahun. Beberapa pegawai dapat bertahan enam sampai tujuh tahun di kantor yang sama. Sebagai seorang istri dan ibu, bayang-bayang mutasi ini menjadi beban tersendiri.
Dengan mempertimbangkan semua keadaan, kami bersepakat bahwa saya akan tetap bekerja di sini. Hingga akhirnya, tahun ini saya sudah cukup syarat untuk mengajukan permohonan sendiri mengikuti suami. Saya memiliki dua kali jatah mengajukan permohonan sendiri.
Setiap keputusan meski sudah sepakat tentu menghadirkan lebih dan kurangnya. Saya suka menjadi penyuluh. Saya diberikan kesempatan lebih banyak untuk membagikan ilmu kepada masyarakat. Bukankah membagikan ilmu termasuk dalam salah satu amal jariyah? Namun, cukup lelah juga jika setiap hari "diharuskan begini". Terkadang sampai mempertanyakan kompetensi diri. Apakah memang saya cukup pantas? Dipikir-pikir lagi, pekerjaan lain juga belum tentu pantas bagi saya.
Kami bersepakat (lagi) untuk mengambil kesempatan pertama mengajukan permohonan sendiri mengikuti suami. Jika memang harus melepas penyuluh, itu yang terbaik. Jika masih diberi kesempatan, itu juga yang terbaik. Itung-itungannya manusia kalah dengan itungannya Alloh. Kami hanya mengupaya yang terbaik agar keluarga kecil ini selalu berada dalam satu atap. Beribadah bersama. Mendidik anak bersama. Kami tentu juga berharap berkah dan kemudahan atas hidup kami. Kami yakin tidak ada yang tidak mungkin. Semoga Alloh ridho.
Peluk jauh untuk perempuan-perempuan pekerja yang membaca ini. Kalian hebat.
Kbmn, 31 Januari 2024
welcoming 2024
rasanya aneh sekali menulis kembali di laman ini. mungkin salah satu alasannya karena saya sudah tidak sering menulis lagi di sini. padahal tidak banyak kegiatan yang saya lakukan. sekedar menyelesaikan pekerjaan kantor, berinteraksi dengan keluarga, beramah tamah dengan sesama, menyelesaikan perkuliahan online, dan tentu menghabiskan waktu bersama nana.
"tetap waras" adalah mungkin pencapaian terbesar saya tahun 2023. bisa menulis di DDTC adalah salah satu achievement lainnya.
tidak ada resolusi signifikan di tahun 2024. hanya berusaha menjadi lebih baik, dan mendoakan lebih banyak hal baik yang sedang diimpikan. saya percaya apa yang diberi Tuhan adalah yang terbaik. namun, saya berkeyakinan bahwa tidak masalah terus meminta selama apa yang saya inginkan belum terwujud. mungkin Alloh sedang menundanya saja.
selamat datang 2024! mari bergandengan tangan menuju lebih banyak kebaikan.
sakit hati banget liat video-video terkait palestina. kenapa dunia seakan “takut” dengan isra**? apakah memang daya seluruh negara di dunia tidak bisa mengalahkan isra** dan sekutunya? 🥹😭
Memperbanyak Memahami
Satu hal lain yang sedang saya pelajari adalah memperbanyak memahami, mengurangi berbicara. Saya sadar diri kok kalau saya adalah perempuan yang punya hasrat untuk mengeluarkan banyak kata. Sedikit-sedikit dikomen. Sedikit-sedikit mengeluh. Sedikit-sedikit berbicara. Mulanya hanya berniat A, tapi bisa aja sampai O P Q, bahkan Z.
Tak jarang berakhir menyesal. Padahal mah, tidak semua harus dikomentari pun tidak semua hal harus disampaikan. Tapi, again, saya tipikal perempuan yang cukup banyak ingin mengeluarkan kata-kata (kalau sudah nyaman).
Coba saja waktu yang saya buang untuk mengepulkan abab tak berguna alias ocehan, saya geser untuk hal yang lebih baik. Misalnya, dengan memahami.
Tidak muluk-muluk. Tidak perlu ketinggian dengan menggesernya untuk membaca buku, mencari kajian, atau menulis artikel. Cukup memahami saja. Memahami apa yang sedang terjadi dengan mengolahnya terlebih dahulu di otak, agar ada kesimpulan baik alias hikmah yang dapat ditarik. Akankah dengan begitu hati menjadi tenang, pun pikiran akan penuh dengan kebajikan?
Semoga saya bisa lebih banyak memahami sekarang dan kedepannya. Setidaknya supaya tidak mencipta kesalahan.
Salam.
Sudah di titik ini.
Memandangi dari layar gawai pencapaian ini itu teman-temanku di sana. Senang mereka bertumbuh dengan hebat, sekaligus cukup sedih melihat diri ini yang yaa begini-begini saja.
Rasanya memang sudah memberikan yang terbaik, tapi nyatanya masih kurang. Ingin memberi lebih, tapi tertabrak kapabilitas. Barangkali niatku yang kurang kuat mencipta karya.
Namun, barangkali masih ada satu cara tersisa mencipta kebaikan. Tidak muluk-muluk. Barangkali kebaikan yang akan kubuat berasal dari sini? Sebuah tempat sepi yang jauh dari mereka.
Salam rindu. Aku kembali ke sini, teman.
Menghabiskan.
Saat ini berbelanja barang teramat mudah ya?
Beli sesuatu tinggal mencari referensi yang ditawarkan oleh aplikasi sambil minum kopi. Pilah pilih sambil rebah, kemudian tinggal dibayar.
Katalisator utamanya bisa jadi teman saya yang membagikan review produk atau memang Al yang mampu membaca pikiran saya. Pernah gak sih kalian sedang membicarakan barang x, kemudian tiba-tiba muncul iklan barang tersebut? Atau pernah gak sih kalian iseng mencari suatu barang - yang awalnya tidak berniat beli- tapi karena kemakan Al jadi kebeli?
Nah, tanpa sadar saya jadi menimbun barang. Karenanya, saat ini sedang berkonsentrasi untuk menghabiskan skincare yang saya beli. Berjanji tidak beli dulu sampai habis. Parah memang, ada beberapa merk di tempat kosmetik saya, padahal fungsinya sama.
Tak hanya kosmetik, makanan adalah barang yang saat ini sedang saya kurangi. Maksud hati, beli sesuai porsi saja. Kami seringnya kelebihan beli makanan, apalagi suami saya. Niat beliau memang baik, tapi ujung-ujungnya ada sisa makanan. Terkadang juga membeli makanan, tapi tak kunjung dibuka - akhirnya menumpuk. Beli buah tak kunjung dikupas, akhirnya busuk.
Pola ini kalau tidak kunjung diluruskan tentu tidak baik. Hari ini masih terus belajar pemahaman tentang arti tanggung jawab dari pembelian sesuatu, alias tanggung jwab menghabiskan.
“Yuk semangat yuk!” kata saya kepada saya.
Salam.