Sebagai seorang guru muda, bapak guru Dani P. U, S.Pd harus banyak beradaptasi dengan pahit getirnya realita dunia pendidikan. Seringkali idealismenya memberontak, inginnya mengubah kenyataan. Dia sudah coba untuk bersuara, tapi apa daya, ternyata suaranya hanya berbuah ejekan dan nyinyiran, Dani disebut si naif idealis. -- Walau sakit, Dani coba tidak acuhkan, "anjing mengonggong kafilah berlalu", itu yang selalu Dani rapalkan. -- Salah satu yang mengganggu pikirannya adalah stigma "anak pintar" dan "anak bodoh". Dani tidak paham dengan pembagian itu, baginya tidak ada "anak bodoh", semua anak pintar sesuai bakat mereka masing-masing. -- Dani pernah mengutarakan pendapat ini pada koleganya, si kolega hanya tersenyum sinis kemudian berkata "kamu bisa bicara seperti itu karena baru mengajar. Lama-lama kamu akan merasakan bagaimana frustasinya berkali-kali menjelaskan tapi ada murid yang gak ngerti-ngerti". Dani memang belum lama mengajar, tapi dia tahu apa yang dikatakan koleganya tidak benar. -- Dani tahu, terkadang seorang guru mengajar dengan metode yang itu-itu saja, padahal ada belasan bahkan puluhan murid di kelas yang pastinya mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Atau bisa juga si murid memang tidak menyukai pelajaran yang diajarkan, sehingga tidak memperhatikan ketika guru menjelaskan. -- Membuat seorang murid paham dan menyukai sebuah pelajaran adalah tugas seorang guru, maka ketika ada murid yang belum paham atau tidak menyukai pelajaran janganlah muridnya yang disalahkan. Kenapa harus mencari kambing hitam atas ketidakmampuan diri? Begitu pikir Dani. -- Terlintas dalam pikiran Dani sebuah kalimat yang pernah dia baca ketika kuliah dulu "kalau seekor ikan dinilai dari kemampuannya memanjat pohon, selamanya dia akan disebut si bodoh". -- #30DJ #30DJ2 #30DJ2Day27 #ceritapakdani #sekolah #madrasah #pendidikan #guru #murid https://www.instagram.com/p/BwvVtNtgPxS/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=17wpegw7tchox













